Surah Isra ayat 80 merupakan salah satu doa penting yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat ini sering dikaitkan dengan momentum hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah, meskipun maknanya bersifat universal dan berlaku bagi setiap Muslim yang menghadapi transisi, tantangan, atau memulai sebuah babak baru dalam hidupnya. Doa ini mencakup permohonan mendalam yang mengandung tiga elemen kunci: keberhasilan memasuki fase baru, keberhasilan keluar dari fase lama, serta permohonan dukungan ilahi berupa otoritas atau pertolongan yang nyata.
Mudkhala Sidqin)Meminta untuk dimasukkan secara "benar" (sidqin) berarti memohon agar setiap permulaan atau langkah awal yang diambil—apakah itu memasuki kota baru, memulai usaha, atau mengemban amanah—dilakukan di atas landasan kebenaran, keikhlasan, dan ridha Allah. Ini bukan sekadar tentang pintu fisik, melainkan tentang kesucian niat dan kesesuaian metode dengan syariat. Seorang Muslim harus memastikan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah tujuan yang diridai Allah, dan jalan yang ditempuh bebas dari kemunafikan dan kebatilan.
Mukhraja Sidqin)Ini adalah bagian yang sama pentingnya. Keluar secara benar berarti ketika masa tugas atau fase kehidupan itu berakhir, kita dapat meninggalkannya dengan selamat, terhormat, dan tanpa meninggalkan dampak negatif atau kerusakan. Dalam konteks hijrah Nabi, ini berarti berhasil meninggalkan permusuhan di Mekkah menuju keamanan di Madinah tanpa mengorbankan prinsip. Bagi kita, ini berarti mampu melepaskan jabatan, menyelesaikan proyek, atau meninggalkan suatu kondisi dengan menjaga integritas dan nama baik.
Sultanā Nasīrā)Permohonan ketiga adalah yang paling tegas: meminta "kekuasaan yang menolong" dari sisi Allah. Kata *sultan* di sini tidak selalu merujuk pada kekuasaan politik duniawi, tetapi lebih kepada otoritas, kekuatan, atau hujjah yang sahih (argumen yang kuat) yang bersumber langsung dari Allah. Ini adalah pertolongan yang menjadikan kebenaran kita memiliki bobot dan daya ungkit. Ketika seseorang berjuang di jalan Allah, ia membutuhkan dukungan yang melampaui kemampuan manusiawi biasa, yaitu dukungan berupa afirmasi ilahi yang menjadikan setiap usahanya berhasil dan diterima.
Ayat ini mengajarkan bahwa keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari pencapaian tujuan (masuk atau keluar), melainkan pada kualitas prosesnya. Setiap Muslim, dalam menghadapi perubahan dan tantangan—baik dalam skala kecil urusan pribadi maupun skala besar urusan umat—dianjurkan untuk memohon tiga hal yang esensial: niat yang murni, akhir yang mulia, dan kekuatan dari Tuhan untuk menegakkan kebenaran. Doa ini menjadi penutup sempurna bagi serangkaian ayat yang membahas perintah beribadah dan kebesaran Allah, mengingatkan bahwa segala aktivitas manusia harus berada dalam kerangka ketaatan dan pertolongan Ilahi. Memahami dan mengamalkan Surah Isra ayat 80 secara konsisten akan membimbing seorang hamba menuju kehidupan yang penuh berkah dan keberhasilan hakiki.
Doa ini menekankan ketergantungan total kepada Sang Pencipta. Manusia boleh merencanakan, berusaha sekuat tenaga, dan menggunakan semua sarana yang ada, namun hasil akhir, perlindungan saat memasuki ranah baru, dan kemampuan untuk menegakkan kebenaran, semuanya berada di tangan Allah SWT. Oleh karena itu, doa ini seharusnya menjadi wirid rutin setiap kali kita memulai tugas baru.