AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah stadium akhir dari infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus ini menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4. Meskipun penularan HIV dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang gender, pemahaman mengenai ciri-ciri klinis atau gejala yang muncul pada wanita sangat penting untuk deteksi dini dan penanganan yang cepat.
Penting untuk dicatat bahwa gejala spesifik AIDS seringkali baru muncul bertahun-tahun setelah terinfeksi HIV. Pada fase awal infeksi HIV, banyak wanita mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali atau gejalanya sangat mirip dengan flu biasa. Oleh karena itu, diagnosis tidak boleh didasarkan hanya pada gejala, tetapi harus dikonfirmasi melalui tes laboratorium.
Pada wanita, tanda awal infeksi HIV mungkin tidak disadari karena mirip dengan penyakit umum lainnya. Namun, perlu diwaspadai jika gejala ini muncul dan tidak kunjung sembuh:
Ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah (menuju stadium AIDS), wanita akan mulai menunjukkan gejala infeksi oportunistik yang lebih serius. Beberapa tanda yang cenderung lebih menonjol atau spesifik pada wanita meliputi:
Wanita dengan HIV/AIDS rentan terhadap infeksi jamur (kandidiasis) yang berulang dan sulit diobati, seperti:
Gangguan imun dapat memengaruhi keseimbangan hormon. Beberapa wanita melaporkan perubahan siklus menstruasi, seperti:
Selain ruam awal, tanda AIDS mencakup kondisi kulit yang parah:
Gejala ini menandakan kerusakan sistemik akibat perkembangan AIDS:
Mengingat banyak gejala awal HIV yang tidak spesifik, cara terbaik untuk mengetahui status kesehatan adalah melalui tes HIV. Tes ini sangat penting, terutama bagi wanita yang memiliki pasangan berisiko atau pernah melakukan hubungan seks tanpa kondom.
Deteksi dini memungkinkan pengobatan Antiretroviral (ARV) dimulai sesegera mungkin. ARV tidak menyembuhkan HIV, tetapi dapat menekan replikasi virus secara efektif, menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat, dan mencegah perkembangan penyakit hingga mencapai tahap AIDS. Wanita yang didiagnosis dini dan patuh minum obat memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan orang yang tidak terinfeksi.