Memahami Surah Al-Isra' Ayat 10

Surah ke 17 Ayat 10

Peringatan dan Harapan

Ayat kesepuluh dari Surah Al-Isra' (juga dikenal sebagai Surah Bani Isra'il), ayat ke-17 dalam urutan mushaf, adalah penggalan penting dalam rangkaian pesan Allah SWT mengenai konsekuensi perbuatan manusia, terutama mereka yang ingkar atau sombong.

Teks Arab dan Terjemahan

وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ اعْتَوْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Terjemahan: Dan bahwasanya orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami siapkan bagi mereka azab yang pedih.

Konteks dan Penjelasan Ayat

Ayat ini secara eksplisit menyampaikan ancaman ilahi bagi mereka yang menolak konsep Hari Kebangkitan dan perhitungan amal. Dalam konteks Surah Al-Isra', ayat-ayat sebelumnya (seperti ayat 4 hingga 8) telah membahas tentang kebinasaan umat terdahulu akibat kezaliman mereka, serta janji Allah bahwa jika mereka berbuat baik, Allah akan berbuat baik kepada mereka, dan jika mereka berbuat kerusakan, mereka akan dibalas dengan kerusakan yang serupa.

Ayat 10 ini berfungsi sebagai penegasan terhadap konsekuensi logis dari penolakan terhadap kebenaran hakiki. Mengingkari hari akhirat berarti meniadakan pertanggungjawaban moral. Jika tidak ada perhitungan, tidak ada ganjaran atau hukuman, maka kebebasan melakukan apa pun, termasuk kezaliman dan kemaksiatan, terasa mutlak. Islam mengajarkan bahwa eksistensi alam semesta ini tidaklah sia-sia; ada tujuan akhir yaitu pengadilan agung.

"Orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat" merujuk pada mereka yang mengingkari kebangkitan fisik dan spiritual, perhitungan amal (mizan), surga, dan neraka. Penolakan ini bukan sekadar perbedaan pandangan teologis, melainkan fondasi yang meruntuhkan seluruh kerangka etika dan moralitas ilahiah. Tanpa keyakinan akan adanya balasan abadi, dorongan untuk menahan diri dari kejahatan dan berlomba dalam kebaikan akan melemah drastis.

Makna "Azab yang Pedih"

Kata "azab yang pedih" (عَذَابًا أَلِيمًا) menggarisbawahi beratnya konsekuensi tersebut. Dalam studi tafsir, azab ini dipahami sebagai azab neraka Jahannam, yang digambarkan sangat mengerikan dalam berbagai ayat Al-Qur'an lainnya. Kata 'alīm' (pedih) menunjukkan bahwa rasa sakit yang ditimbulkan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan emosional dari jiwa yang dihukum.

Peringatan ini bersifat universal. Ia ditujukan kepada siapa saja, baik dari kalangan Bani Isra'il pada masa Nabi Muhammad SAW maupun umat manusia setelahnya, yang memiliki karakteristik utama: penolakan tegas terhadap konsep pertanggungjawaban akhirat. Ini adalah peringatan keras agar manusia menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan sarana ujian.

Implikasi Psikologis dan Sosial

Keyakinan pada hari akhirat memiliki implikasi mendalam pada perilaku sehari-hari. Ketika seseorang yakin bahwa setiap tindakannya dicatat dan akan ditimbang, ia cenderung melakukan muhasabah (introspeksi diri) secara berkala. Hal ini mendorong integritas, kejujuran, dan kepedulian sosial.

Sebaliknya, penolakan terhadap hari akhirat seringkali berujung pada materialisme ekstrem, hedonisme, dan pengabaian hak orang lain, karena pandangan hidup mereka hanya berhenti pada batas kematian fisik. Jika kematian adalah akhir segalanya, maka mengejar kenikmatan duniawi sesaat menjadi satu-satunya tujuan yang rasional menurut pandangan mereka.

Surah Al-Isra' ayat 10, dalam kesederhanaan kalimatnya, memberikan pemisahan tegas antara dua kelompok besar manusia: mereka yang beriman pada tujuan akhir dan mereka yang hidup dalam ilusi tanpa batas. Allah SWT, melalui ayat ini, menegaskan bahwa ketidakpercayaan pada hari perhitungan tidak akan membuat pelaku terlepas dari siksaan yang telah disiapkan bagi mereka yang memilih jalan kesombongan dan penolakan.

Oleh karena itu, ayat ini berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa investasi terbaik manusia adalah investasi untuk kehidupan setelah kematian, bukan sekadar akumulasi harta atau kekuasaan fana di dunia ini. Keimanan pada hari akhir adalah kunci untuk menjaga moralitas dan ketertiban dalam setiap lini kehidupan individu maupun kolektif. Penegasan akan adanya balasan pedih ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran bagi mereka yang lalai dan masih meragukan janji dan ancaman Allah SWT.

🏠 Homepage