Memahami Pesan Ilahi: Surah Al-Isra Ayat 12

Ilustrasi Cahaya dan Ilmu Sebuah representasi abstrak berupa lingkaran cahaya memancar dari sebuah buku terbuka.

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ وَتَصِفُ أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ الْحُسْنَىٰ ۖ لَا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ النَّارَ وَأَنَّهُمْ مُفْرَطُونَ

"Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membenci(-nya), dan lisan mereka menyebutkan kebohongan dengan mengatakan bahwa merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tidak diragukan lagi, bahwa bagi merekalah neraka itu, dan sesungguhnya mereka telah disegerakan (ke dalamnya)."

(QS. Al-Isra [17]: 12)

Konteks dan Makna Mendalam Ayat

Ayat ke-12 dari Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Surah Bani Isra'il) ini merupakan bagian dari rentetan ayat yang mengkritik keras praktik-praktik syirik, penyimpangan akidah, dan kecenderungan manusia untuk mendistorsi kebenaran demi kepentingan duniawi mereka. Ayat ini secara spesifik menyoroti kemunafikan dalam beragama.

Pernyataan inti dari ayat ini adalah: "Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membenci(-nya)". Dalam konteks turunnya ayat, ini merujuk pada kaum musyrikin Mekah yang menyembah berhala dan mengklaim bahwa berhala-berhala itu adalah anak atau perantara bagi Allah SWT, padahal secara naluriah, tidak ada seorang pun yang rela menisbatkan sesuatu yang rendah atau yang mereka benci kepada sesuatu yang mereka anggap Mahatinggi dan Mulia. Ironisnya, mereka melakukan hal tersebut kepada Allah SWT, Dzat yang seharusnya dipuja dengan segala kesempurnaan.

Lisan yang Mendustakan Kenikmatan

Bagian kedua ayat, "dan lisan mereka menyebutkan kebohongan dengan mengatakan bahwa merekalah yang akan mendapat kebaikan", menunjukkan bagaimana lidah manusia seringkali menjadi alat untuk menutupi kebenaran. Mereka mengucapkan janji-janji palsu tentang hasil akhir amal perbuatan mereka—bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga atau mendapat status mulia di akhirat—padahal dasar amalan mereka adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah (syirik dan kekafiran).

Ini adalah kritik tajam terhadap klaim tanpa dasar. Dalam Islam, kebaikan (al-husna) hanya dapat diraih melalui tauhid (mengesakan Allah) dan ketaatan yang tulus. Mengklaim kebaikan sementara melakukan keburukan terbesar (syirik) adalah sebuah dusta yang nyata di hadapan Allah.

Konsekuensi yang Pasti: Neraka Jahanam

Penegasan Allah SWT datang dengan sangat tegas pada bagian akhir ayat: "Tidak diragukan lagi, bahwa bagi merekalah neraka itu, dan sesungguhnya mereka telah disegerakan (ke dalamnya)." Kata "la jarama" (tidak diragukan lagi) menunjukkan kepastian hukum ilahi. Tidak ada ruang bagi negosiasi atau keraguan mengenai konsekuensi dari perbuatan tersebut.

Frasa "telah disegerakan (ke dalamnya)" (mufaratun) memiliki beberapa interpretasi ulama. Salah satu maknanya adalah bahwa mereka akan merasakan sebagian azab di dunia sebelum akhirat (melalui berbagai musibah dan penghinaan), atau bahwa mereka telah mempercepat datangnya azab akhirat tersebut dengan perbuatan maksiat mereka. Intinya, jalan yang mereka tempuh adalah jalan menuju api neraka, dan waktu perhitungan mereka sudah dekat.

Pelajaran Penting untuk Kehidupan Modern

Surah Al-Isra ayat 12 memberikan pelajaran relevan bagi umat Muslim hari ini. Seringkali, dalam kehidupan modern, manusia cenderung menutupi kekurangan spiritual atau penyimpangan moral dengan retorika kebaikan atau pencitraan positif. Kita mungkin melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dalam transaksi bisnis, hubungan sosial, atau keyakinan pribadi, namun secara lisan tetap mengklaim diri sebagai hamba Allah yang saleh.

Ayat ini mengajarkan otentisitas. Hati dan lisan harus selaras dengan perbuatan. Allah SWT tidak tertipu oleh penampilan luar. Menetapkan bagi-Nya sekutu atau sesuatu yang kita sendiri anggap hina adalah bentuk penghinaan terbesar terhadap kesempurnaan-Nya. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk senantiasa membersihkan akidah dan memastikan bahwa pujian yang kita berikan kepada Allah SWT didukung oleh ketaatan total, bukan sekadar klaim di bibir.

🏠 Homepage