Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam, dan setiap ayatnya membawa makna mendalam yang relevan sepanjang masa. Salah satu ayat yang sering direnungkan karena janji kebaikan dan penerangannya adalah Surah Al-Isra ayat 9. Ayat ini terdapat dalam surat yang juga dikenal sebagai Bani Israil, yang membahas berbagai aspek hukum, sejarah, dan moralitas.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "yahdī li-l-latī hiya aqwam", yang berarti "memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus". Jalan yang dimaksud di sini bukanlah sekadar jalur fisik, melainkan jalan hidup yang paling benar, adil, dan memberikan manfaat maksimal, baik di dunia maupun di akhirat. Jalan ini mencakup akidah yang benar (tauhid), akhlak yang mulia, dan hukum-hukum syariat yang sempurna.
Ketika Al-Qur'an disebut memberikan petunjuk ke jalan yang paling lurus, ini menegaskan bahwa ajarannya mengatasi segala sistem dan filosofi buatan manusia. Ia menawarkan kerangka hidup yang seimbang—tidak terlalu ekstrem ke kanan (berlebihan) atau ke kiri (terlalu longgar). Keseimbangan ini memastikan bahwa kebutuhan spiritual, intelektual, dan material manusia terpenuhi sesuai dengan fitrah penciptaan mereka. Banyak penafsir menekankan bahwa keunggulan Al-Qur'an terletak pada kemampuannya menyelaraskan hubungan manusia dengan Tuhan (Hablum Minallah) dan hubungan antarmanusia (Hablum Minannas).
Ayat 9 Surah Al-Isra tidak berhenti hanya pada memberikan petunjuk; ia juga memberikan motivasi melalui janji balasan. Allah SWT berfirman bahwa kabar gembira ini ditujukan "bagi orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh". Ini menunjukkan bahwa iman (keyakinan) harus diiringi oleh perbuatan nyata (amal saleh). Iman tanpa amal dianggap belum sempurna dalam pandangan Islam.
Amal saleh mencakup segala bentuk kebaikan, mulai dari ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat, hingga perbuatan sosial seperti menolong sesama, berlaku jujur dalam berdagang, dan berbakti kepada orang tua. Janji yang menyertai amal saleh ini adalah "bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar". Kata 'besar' di sini mengisyaratkan bahwa ganjaran tersebut melampaui perhitungan duniawi, yakni pahala surga yang abadi dan keridhaan Ilahi. Ini adalah insentif tertinggi bagi seorang Muslim untuk terus berjuang di jalan kebenaran.
Ayat ini secara implisit mengajarkan kita bahwa Al-Qur'an berfungsi sebagai peta jalan. Namun, peta tersebut hanya berguna jika kita benar-benar mau berjalan mengikutinya. Banyak orang mengetahui kebenaran (petunjuk), tetapi hanya sedikit yang konsisten menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, integrasi antara pemahaman (hidayah) dan aplikasi (amal) adalah inti dari ajaran ayat ini.
Bagi seorang mukmin, Al-Qur'an menjadi kompas moral. Ketika menghadapi dilema etika atau pilihan hidup yang sulit, kembali kepada ayat-ayat seperti Surah Al-Isra ayat 9 akan memberikan ketenangan dan kepastian akan jalur yang benar. Jalan yang paling lurus adalah jalan yang menjauhkan kita dari kesesatan dan mendekatkan kita kepada sumber segala kebaikan.
Merujuk pada Surah Al-Isra ayat 9 berarti menegaskan kembali komitmen kita untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip Ilahi. Ini adalah undangan untuk terus belajar, merefleksikan ayat-ayat tersebut, dan yang paling penting, mewujudkannya dalam setiap tindakan harian kita, demi meraih janji agung dari Rabb semesta alam. Keagungan pahala tersebut menanti mereka yang menjadikan Al-Qur'an sebagai panduan hidup yang utuh, bukan sekadar bacaan sesaat.