Simbol Perjalanan Malam dan Keajaiban Ilahi
Al-Qur'an Al-Karim terdiri dari 114 surat, dan salah satu yang paling kaya makna serta sarat dengan peristiwa monumental adalah surah ke 17 dalam Al-Qur'an, yaitu Surah Al-Isra' (atau dikenal juga sebagai Bani Isra'il).
Surah Al-Isra' memiliki keistimewaan tersendiri karena namanya merujuk pada dua peristiwa besar yang diabadikan di dalamnya. Pertama, peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, perjalanan malam beliau dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Kedua, kisah Bani Isra'il (Israel), yaitu keturunan Nabi Ya'qub, yang perilakunya seringkali disoroti dalam surat ini sebagai pelajaran sejarah dan moral bagi umat manusia.
Ayat pembuka surah ini langsung menegaskan kebesaran Allah SWT melalui peristiwa bersejarah:
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa..." (QS. Al-Isra': 1)
Peristiwa Isra' Mi'raj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan peneguhan kenabian dan penguatan spiritual Rasulullah SAW setelah mengalami tahun-tahun yang penuh tekanan di Mekkah. Masjidil Aqsa menjadi titik transit penting, menegaskan hubungan spiritual antara tiga masjid suci utama dalam Islam: Masjidil Haram, Masjid Nabawi (di Madinah, walaupun tidak disebut langsung), dan Masjidil Aqsa.
Dalam rangkaian Mi'raj, Allah SWT menunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW berbagai tanda kebesaran-Nya. Kisah ini menjadi landasan penting dalam teologi Islam, terutama mengenai kedudukan salat sebagai tiang agama, yang diperintahkan langsung oleh Allah tanpa perantara di malam Mi'raj tersebut.
Setelah menyinggung mukjizat Nabi Muhammad SAW, surah ke 17 dalam Al-Qur'an ini beralih fokus pada Bani Isra'il. Surah ini mencatat beberapa kali kerusakan moral dan pembangkangan yang mereka lakukan, meskipun telah menerima banyak anugerah kenabian dan kitab suci Taurat.
Allah SWT mengingatkan mereka tentang dua kali kerusakan besar yang mereka lakukan di muka bumi. Peringatan ini bersifat universal, mengajarkan bahwa kemuliaan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari warisan nabi mereka, tetapi dari kepatuhan mereka terhadap ajaran ilahi.
Surah Al-Isra' juga dikenal sebagai gudang etika dan moralitas Islam. Ayat-ayatnya memberikan pedoman hidup yang sangat komprehensif, mencakup hubungan dengan orang tua, keadilan sosial, hingga prinsip ekonomi. Beberapa poin utama yang ditekankan meliputi:
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang utuh, mengatur tidak hanya ritual ibadah (seperti salat yang disinggung di awal surah), tetapi juga tata krama sehari-hari. Kehidupan seorang Muslim harus tercermin dalam akhlaknya yang terpuji, sesuai dengan tuntunan yang terdapat dalam surah ke 17 dalam Al-Qur'an ini.
Surah Al-Isra' adalah sebuah surat yang sangat padat makna. Ia menghubungkan peristiwa spiritual tertinggi (Mi'raj) dengan realitas sosial dan moral umat manusia melalui kisah Bani Isra'il dan perintah-perintah etisnya. Mempelajari surah ke 17 dalam Al-Qur'an ini memberikan perspektif mendalam tentang keagungan Tuhan, pentingnya menjaga integritas spiritual, dan tanggung jawab kita terhadap sesama manusia.
Surah ini mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati sebuah komunitas tidak lepas dari keadilan, kejujuran, dan penghormatan terhadap ajaran-ajaran yang telah diturunkan oleh Sang Pencipta.