Surah Setelah Al-Ma'idah: Menguak Halaman Berikutnya dalam Al-Qur'an

M'D AN'M Al-Ma'idah (5) Al-An'am (6)

Ilustrasi urutan surah setelah Al-Ma'idah

Transisi Spiritual dalam Mushaf

Al-Qur'anul Karim tersusun dalam suatu urutan yang telah ditetapkan, baik berdasarkan urutan pewahyuan (tartib nuzul) maupun urutan penulisan dalam mushaf (tartib mushafi). Ketika kita membahas surah setelah surah Al-Ma'idah, kita merujuk pada urutan yang tertera secara resmi di antara jilid-jilid ayat suci. Surah Al-Ma'idah, yang merupakan surah ke-5, ditutup dengan ayat-ayat yang menegaskan kesempurnaan agama Islam dan janji-janji ilahi.

Setelah surah yang kaya akan pembahasan hukum, perjanjian, dan kisah-kisah penting Bani Israil tersebut, lembaran Al-Qur'an beralih ke surah berikutnya. Secara standar urutan dalam mushaf Utsmani yang kita pegang hari ini, surah yang datang segera setelah surah Al-Ma'idah adalah Surah Al-An'am.

Mengenal Surah Al-An'am (Surah ke-6)

Surah Al-An'am (الأنعام) adalah surah ke-6 dalam urutan mushaf dan merupakan salah satu surah terpanjang di antara surah-surah Makkiyah. Meskipun tergolong Makkiyah (sebagian besar ayatnya diturunkan sebelum Hijrah), surah ini memiliki fokus pembahasan yang sangat mendalam mengenai tauhid, bantahan terhadap kesyirikan, dan keesaan Allah SWT sebagai Pencipta alam semesta.

Nama "Al-An'am" sendiri berarti "Binatang Ternak", yang diambil dari ayat-ayat di dalamnya yang membahas tentang ketentuan Allah mengenai hewan-hewan ternak, bagaimana manusia menggunakannya, serta kritik terhadap praktik-praktik syirik dalam penyembelihan hewan persembahan kepada berhala. Surah ini sangat kuat dalam menyajikan dalil-dalil aqli (akal) untuk meyakinkan keesaan Allah.

Perbedaan Fokus Ayat

Terdapat perbedaan nuansa yang signifikan antara penutup Al-Ma'idah dan pembuka Al-An'am. Al-Ma'idah cenderung lebih banyak membahas hukum-hukum pasca-Hijrah, termasuk hukum-hukum sipil, perjamuan (ma'idah), dan kisah-kisah yang relevan dengan komunitas Muslim yang telah mapan di Madinah. Ayat terakhirnya berbicara tentang kesempurnaan agama.

Sebaliknya, Surah Al-An'am, yang menjadi surah setelah Al-Ma'idah dalam urutan mushaf, kembali memperkuat fondasi akidah. Ia memberikan argumen logis yang sulit dibantah mengenai kebangkitan (ba'ats), pengetahuan Allah yang meliputi segalanya, dan penolakan keras terhadap anggapan bahwa Allah memiliki sekutu atau anak. Para mufassir sering menyebut Al-An'am sebagai "fondasi teologi" karena kekuatannya dalam mendefinisikan tauhid secara komprehensif.

Konteks Penurunan Surah

Meskipun urutan penulisan dalam mushaf mendikte bahwa Al-An'am mengikuti Al-Ma'idah, penting untuk diingat bahwa secara kronologis pewahyuan, Al-An'am adalah salah satu surah Makkiyah awal yang diturunkan. Ini menimbulkan pertanyaan mengapa surah Makkiyah ditempatkan setelah surah Madaniyah (Al-Ma'idah).

Jawaban atas penempatan ini terletak pada ketetapan Allah melalui wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dan pencatatan oleh para sahabat. Urutan mushaf dipilih berdasarkan petunjuk langsung dari Rasulullah, bukan semata-mata berdasarkan urutan waktu turunnya ayat. Penempatan Al-An'am setelah Al-Ma'idah berfungsi untuk memberikan penguatan akidah yang mendasar, seolah-olah setelah penegasan hukum dalam Al-Ma'idah, umat diperkuat kembali pada prinsip utama keimanan sebelum memasuki surah-surah berikutnya seperti Al-A'raf, Al-Anfal, dan At-Taubah. Dengan demikian, penataan ini memiliki hikmah pedagogis dan spiritual yang mendalam bagi pembaca Al-Qur'an.

Kesimpulan Urutan

Sebagai penutup bahasan mengenai transisi ini, dapat disimpulkan bahwa surah yang secara resmi terletak setelah surah Al-Ma'idah (surah ke-5) dalam susunan mushaf Al-Qur'an adalah Surah Al-An'am (surah ke-6). Urutan ini adalah bagian dari struktur ilahi Al-Qur'an yang telah terjaga kemurniannya sejak masa Rasulullah SAW. Memahami urutan ini membantu kita menghargai bagaimana pesan-pesan Allah disusun untuk membentuk pemahaman Islam yang utuh dan bertahap.

🏠 Homepage