Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW. Perjalanan luar biasa ini bukan sekadar perjalanan fisik semata, tetapi juga sebuah peneguhan iman, penguatan spiritual, dan penetapan syariat penting, yaitu kewajiban salat lima waktu. Perjalanan ini dibagi menjadi dua bagian: Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan Mi'raj (perjalanan ke langit tertinggi hingga Sidratul Muntaha).
Meskipun Al-Qur'an tidak merinci secara eksplisit setiap surah atau ayat yang dibaca Nabi selama perjalanan tersebut, para ulama merujuk pada ayat-ayat tertentu yang secara kontekstual sangat relevan dengan keagungan dan tujuan dari peristiwa agung tersebut. Kisah ini menjadi pengingat akan kekuasaan Allah SWT yang tak terbatas.
Konteks Ayat Utama: Surah Al-Isra
Basis utama dalam Al-Qur'an mengenai peristiwa Isra adalah Surah Al-Isra (ayat 1). Ayat ini secara eksplisit mengisahkan perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang merupakan bagian pertama dari mukjizat tersebut. Ayat ini berbunyi:
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini berfungsi sebagai 'nota resmi' ilahi atas peristiwa Isra. Meskipun tidak menyebutkan Mi'raj secara langsung, para mufassir menyimpulkan bahwa Mi'raj adalah kelanjutan alami dari perjalanan yang dimulai dalam ayat ini, diperkuat oleh keterangan dalam Surah An-Najm (ayat 13-18) yang menjelaskan bagaimana Nabi SAW melihat Jibril dalam wujud aslinya di Sidratul Muntaha.
Penguatan Iman Melalui Ayat Lain
Saat menghadapi keraguan kaum Quraisy, Rasulullah SAW membutuhkan penegasan dari wahyu ilahi. Selain Surah Al-Isra, ayat-ayat lain seringkali direnungkan atau menjadi bacaan pelipur lara bagi Nabi selama perjalanan spiritual tersebut.
1. Ayat Tentang Kebesaran Allah (Takbir)
Dalam menghadapi keajaiban yang melampaui nalar manusia, sudah menjadi tabiat seorang mukmin untuk mengagungkan pencipta. Oleh karena itu, ayat-ayat yang mengandung unsur Tasbih (Subhanallah) dan Takbir (Allahu Akbar) seperti yang terdapat di awal Surah Al-Mulk atau ayat-ayat penciptaan langit, menjadi relevan sebagai ungkapan kekaguman. Keindahan kosmos yang disaksikan Nabi selama Mi'raj jelas memerlukan pengakuan terhadap kebesaran Sang Khaliq.
2. Ayat Tentang Kekuatan dan Pertolongan (Surah Al-Jin)
Perjalanan Mi'raj juga menjadi ajang pertemuan Nabi dengan para nabi terdahulu dan penguatan misi kenabiannya. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa setelah kembali, Nabi SAW menerima penguatan spiritual. Ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah adalah penolong dan pelindung, seperti yang tersirat dalam beberapa bagian Surah Al-Jin, mungkin menjadi bahan perenungan saat beliau menerima perintah salat.
Pentingnya Salawat dan Dzikir
Secara umum, para ahli tafsir meyakini bahwa selama perjalanan suci tersebut, Nabi Muhammad SAW tidak berhenti berdzikir dan bersalawat. Meskipun tidak ada satu surah spesifik yang dicatat sebagai "bacaan wajib Mi'raj," dzikir dan shalawat adalah nafas spiritual seorang Nabi. Membaca Surah Al-Fatihah, yang merupakan pembuka Al-Qur'an dan sering dibaca saat Isra' (sebagai penanda bahwa beliau mengimami salat para nabi di Baitul Maqdis), juga sangat signifikan.
Isra Mi'raj adalah manifestasi nyata dari keistimewaan seorang Nabi. Pengalaman ini menegaskan bahwa wahyu yang dibawa Nabi adalah kebenaran mutlak, sebuah perjalanan yang dimulai dari bumi menuju puncak tertinggi langit, hanya dimungkinkan oleh kekuasaan dan izin Allah SWT, yang mana segala keagungannya terangkum dalam setiap ayat-Nya.