Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Perjalanan spiritual dan fisik ini menjadi titik balik penting dalam sejarah Islam, memperkuat kedudukan beliau dan menetapkan kewajiban shalat lima waktu. Meskipun detail lengkap perjalanan ini banyak ditemukan dalam hadis-hadis sahih, landasan utama yang mengkonfirmasi peristiwa ini secara tegas termaktub dalam kitab suci umat Islam, Al-Qur'an.
Secara eksplisit, seluruh kisah Isra Mi'raj, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), dan dari sana naik ke langit hingga Sidratul Muntaha (Mi'raj), dijelaskan dalam Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Bani Israil), ayat pertama. Surah ini dibuka dengan pengagungan Allah yang Maha Kuasa, mengawali narasi tentang perjalanan agung tersebut.
Ayat tersebut berbunyi:
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra: 1)
Ayat pembuka dalam Surah Al-Isra ini memuat dua fase penting: Isra dan Mi'raj. Frasa "memperjalankan hamba-Nya" merujuk pada perjalanan malam hari Nabi Muhammad SAW. Al-Isra adalah perjalanan darat (walaupun sangat cepat) dari Mekkah menuju Baitul Maqdis (Yerusalem). Ayat ini secara jelas menyebutkan titik awal dan akhir perjalanan pertama, memberikan validitas ilahi terhadap peristiwa historis ini.
Sedangkan frasa "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami" mengacu pada bagian Mi'raj, yaitu naiknya Nabi SAW melintasi lapisan-lapisan langit hingga mencapai alam malakut yang tidak terjangkau oleh panca indra biasa. Tanda-tanda kebesaran ini meliputi pemandangan alam semesta, bertemu dengan para Nabi terdahulu, dan yang paling penting, penerimaan perintah shalat.
Meskipun Surah Al-Isra ayat 1 secara tegas menyebutkan Isra (perjalanan ke Baitul Maqdis), bagian Mi'raj (kenaikan ke langit) secara lebih rinci dan mendalam dijelaskan dalam Surah An-Najm. Dalam Surah An-Najm (ayat 13 hingga 18), Allah SWT menguatkan kesaksian Nabi mengenai pertemuan beliau dengan Jibril pada tingkatan yang tinggi.
Allah berfirman dalam Surah An-Najm: "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril pada kali yang kedua, di dekat Sidratul Muntaha. Di dekat Sidratul Muntaha itu ada Jannatun Ma'wa (Taman Tempat Kembali)."
Ayat-ayat ini memberikan detail mengenai puncak perjalanan Mi'raj, menekankan bahwa Nabi SAW melihat Jibril dalam wujud aslinya di tempat yang sangat mulia, jauh melampaui pemahaman manusia biasa. Keterangan dari dua surah ini—Al-Isra dan An-Najm—memberikan kerangka teologis yang kokoh mengenai kebenaran peristiwa agung ini, menjadikannya bagian integral dari akidah umat Islam.
Memahami surah-surah yang menjelaskan Isra Mi'raj membantu umat Muslim mengambil pelajaran tentang keagungan Allah, kesabaran Nabi dalam menghadapi cobaan, serta pentingnya shalat sebagai tiang agama. Perjalanan ini bukan sekadar kisah heroik, melainkan wahyu langsung yang mengukuhkan posisi Islam di antara agama-agama samawi lainnya. Kisah ini menegaskan bahwa mukjizat datang sebagai peneguhan iman di saat-saat paling sulit bagi risalah kenabian.