Surat Al-Isra (Bani Israil) adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an, yang kaya akan pelajaran moral, hukum, dan kisah-kisah penting. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai tanggung jawab manusia dan keadilan adalah ayat ke-12. Ayat ini, seringkali dibaca dalam konteks tanggung jawab individu atas perbuatan mereka, mengandung makna yang mendalam tentang konsep sebab-akibat di dunia dan akhirat.
Untuk memahami sepenuhnya implikasi dari surat 17 ayat 12 Al-Qur'an, kita perlu melihat konteks ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, yang berbicara tentang bagaimana manusia diperlakukan setelah mengalami kesulitan atau kemudahan.
Ayat ini, dalam beberapa tafsir, sering dikaitkan dengan kecenderungan alami manusia untuk menjadi kufur nikmat atau mudah putus asa ketika diuji. Ayat ini kontras dengan ayat sebelumnya yang membahas tentang waktu siang dan malam sebagai tanda kebesaran Allah dan kemudahan bagi manusia untuk mencari rezeki.
Ayat 17:12 menyoroti dua sisi mata uang kehidupan manusia. Di satu sisi, Allah memberikan kemudahan dan rahmat (seperti waktu siang untuk bekerja dan mencari rezeki). Namun, ketika ujian datang—berupa kesulitan, penyakit, atau kegagalan—reaksi umum manusia adalah keputusasaan. Keputusasaan ini, dalam pandangan Islam, adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap kemampuan Allah untuk menolong dan mengubah keadaan.
Ini adalah kritik lembut dari Al-Qur'an terhadap sifat dasar manusia yang mudah lupa bahwa pemberi kemudahan adalah juga pemberi kesulitan, dan bahwa kedua kondisi tersebut adalah ujian. Ayat yang berdekatan, yaitu ayat 13 dan 14, memberikan kelanjutan dari narasi ini, menjelaskan bahwa setiap perbuatan manusia akan dicatat dan dipertanggungjawabkan. Ayat 13 berbunyi: "Dan Kami jadikan bagi tiap-tiap manusia itu nasibnya (catatan amal perbuatannya) melekat di lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dihadapinya terbuka."
Oleh karena itu, ayat 12 menjadi peringatan keras: Jangan biarkan keputusasaan menguasai Anda saat kesulitan, karena Anda bertanggung jawab penuh atas setiap tindakan Anda, baik dalam syukur saat lapang maupun kesabaran saat sempit.
Tafsir mendalam mengenai surat 17 ayat 12 Al-Qur'an mengajarkan beberapa poin fundamental bagi seorang Muslim:
Ketika kita merenungkan ayat ini, kita diingatkan bahwa kondisi lapang bukanlah izin untuk berbuat semena-mena dan kondisi sulit bukanlah alasan untuk meninggalkan usaha dan doa. Tanggung jawab atas akidah dan amal perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban secara individual, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat berikutnya.
Di tengah tekanan hidup modern, seperti masalah finansial, kesehatan, atau sosial, ayat 17:12 ini menjadi obat penenang sekaligus cambuk motivasi. Ketika menghadapi tantangan, naluri pertama mungkin adalah mengeluh tanpa batas atau tenggelam dalam keputusasaan. Namun, ajaran ayat ini menuntut kita untuk sebaliknya: mendekat kepada Allah.
Keputusasaan yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah penolakan terhadap konsep tawakkal yang benar. Tawakkal bukan berarti pasif, melainkan berusaha sekuat tenaga (ikhtiar) sambil sepenuhnya menyerahkan hasilnya kepada Allah (taslim). Jika ikhtiar telah dilakukan namun hasil belum sesuai harapan, maka seorang mukmin harus menjaga lisannya agar tidak mengucapkan kata-kata yang menunjukkan keputusasaan total terhadap takdir Allah.
Memahami makna surat 17 ayat 12 memberikan perspektif bahwa kesulitan adalah bagian dari perjalanan spiritual. Bagaimana kita merespons kesulitan tersebut—dengan sabar, berdoa, atau justru jatuh dalam keputusasaan—adalah catatan yang akan dibawa kita di hadapan Yang Maha Kuasa.