Memahami Surat Al-Isra Ayat Ke-4

Latar Belakang Ayat

Surat Al-Isra', yang juga dikenal sebagai Bani Isra'il (Anak-anak Israel), merupakan surat ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini memiliki kedalaman makna yang kaya, membahas banyak aspek mulai dari keesaan Allah, kisah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, hingga peringatan dan janji-janji Allah kepada umat manusia, khususnya Bani Isra'il.

Di antara ayat-ayat yang sarat makna tersebut, terdapat Surat Al-Isra' ayat ke-4 yang secara spesifik berbicara tentang hukuman dan balasan bagi Bani Isra'il atas kerusakan yang mereka lakukan di muka bumi, sekaligus janji pemulihan dan kemenangan bagi mereka jika mereka bertaubat dan beriman dengan benar. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras namun juga memberikan harapan bagi mereka yang kembali kepada jalan yang lurus.

Ilustrasi Hukum Keseimbangan Ilahi

Teks Surat Al-Isra Ayat 4

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

"Dan Kami tetapkan kepada Bani Isra'il dalam Kitab itu (Taurat): 'Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini pada dua kali kesempatan, dan pasti kamu akan berlaku sombong dengan kesombongan yang besar.'"

Interpretasi dan Makna Mendalam

Ayat ini merupakan sebuah pemberitahuan profetik (kenabian) yang disampaikan Allah melalui Al-Qur'an mengenai sejarah masa depan Bani Isra'il, sebagaimana telah tertulis dalam Taurat. Allah menginformasikan dua kali kerusakan besar yang akan mereka lakukan di bumi.

Kerusakan Pertama (Al-Mafsadah al-Ula): Para mufasir umumnya menafsirkan kerusakan pertama ini merujuk pada tindakan mereka yang membunuh para nabi dan rasul yang diutus Allah kepada mereka, serta pelanggaran berat mereka terhadap perjanjian-perjanjian yang telah ditetapkan. Akibatnya, Allah mengirimkan musuh yang sangat kejam (di antaranya tentara dari Babilonia di bawah pimpinan Nebukadnezar) untuk menaklukkan dan menghancurkan Baitul Maqdis (Yerusalem), membinasakan banyak orang, dan menawan sisanya. Ini adalah balasan atas kedurhakaan pertama mereka.

Kesombongan Besar (Uluwwan Kabiiran): Ayat ini menekankan sifat kesombongan. Kesombongan ini termanifestasi dalam bentuk pengingkaran terhadap kebenaran, peremehan terhadap umat lain, dan klaim superioritas rohani tanpa dibarengi amal saleh yang sesuai. Kesombongan ini mendorong mereka untuk melakukan pelanggaran berikutnya.

Kerusakan Kedua (Al-Mafsadah ats-Tsaniyah): Kerusakan kedua terjadi setelah mereka diizinkan untuk membangun kembali kekuasaan dan kejayaan mereka di bumi Palestina. Kali ini, kerusakan mereka sering dikaitkan dengan penolakan terhadap kebenaran yang dibawa oleh nabi-nabi selanjutnya (seperti Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW), penyimpangan total dari ajaran Taurat dan Injil, serta penindasan terhadap siapa pun yang menentang kekuasaan mereka. Balasan untuk kerusakan kedua ini adalah kekalahan dan pengusiran oleh bangsa Romawi (di bawah pimpinan Titus), yang menghancurkan Baitul Maqdis untuk kedua kalinya dan mengusir mereka dari tanah suci.

Pelajaran Universal dari Ayat

Meskipun ayat ini ditujukan secara spesifik kepada Bani Isra'il, maknanya mengandung pelajaran universal yang relevan bagi seluruh umat manusia, terutama umat Islam. Kisah ini menegaskan prinsip fundamental dalam ajaran Islam: kedudukan moral dan spiritual tidak diwariskan secara otomatis; ia harus dipertahankan melalui ketaatan kepada Allah.

Setiap kali sebuah kelompok atau bangsa diberi nikmat (seperti kitab suci, kenabian, atau kekuasaan), mereka diuji. Jika nikmat tersebut disalahgunakan untuk melakukan kerusakan (fasad) dan menyebarkan kesombongan (uluww), maka janji Allah berupa kehancuran dan kehinaan pasti akan datang sebagai konsekuensi logis dari perbuatan mereka sendiri. Ayat ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk senantiasa introspeksi diri, menjaga amanah, dan menghindari sifat angkuh yang dapat menjerumuskan pada kehancuran, sebagaimana yang telah dialami oleh umat terdahulu.

Allah SWT selalu adil. Janji hukuman atas kerusakan dan kesombongan adalah bagian dari sistem pengadilan ilahi yang berfungsi menjaga keseimbangan keadilan di muka bumi. Tugas umat beriman adalah mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

🏠 Homepage