Menggali Rahmat: Al-Hijr Ayat 80 Hingga 90

Pendahuluan: Kepercayaan dan Peringatan

Surat Al-Hijr, yang menempati posisi penting dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran tentang keagungan ciptaan Allah, kisah kaum terdahulu, dan tuntunan hidup bagi umat Nabi Muhammad SAW. Bagian akhir dari surat ini, khususnya ayat 80 hingga 90, berfungsi sebagai penutup yang kuat, mengingatkan manusia akan tanggung jawab mereka, memuji kemurahan Allah, dan memberikan perintah penting mengenai keteguhan hati.

Ayat-ayat ini secara kolektif menegaskan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah dan memberikan jaminan ketenangan bagi mereka yang beriman dan bertawakal. Memahami ayat-ayat ini sangat krusial untuk memperkuat keyakinan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Ilustrasi Tangan Terbuka Menerima Cahaya Ilahi Kepercayaan dan Ketenangan

Kisah Kaum Hijr dan Peringatan (Ayat 80-84)

Ayat 80-84 secara spesifik merujuk kepada kaum Tsamud (penduduk Al-Hijr), kaum yang didustakan oleh Nabi Saleh AS. Allah mengingatkan bahwa meskipun mereka mampu memahat rumah indah di pegunungan, mereka tetap tidak dapat lolos dari azab ilahi karena kekafiran mereka.

وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ

(80) Dan sesungguhnya kaum Al-Hijr telah mendustakan para rasul.

Ayat-ayat selanjutnya menekankan bahwa Allah telah memberikan petunjuk yang jelas kepada mereka melalui Nabi Saleh, namun mereka memilih untuk berpaling dan bahkan berupaya membunuh sang Nabi. Peringatan ini berfungsi sebagai cermin bagi umat Nabi Muhammad SAW: kemajuan peradaban atau kekuatan fisik tidak akan menyelamatkan dari konsekuensi mendustakan kebenaran ilahi.

Kewajiban Nabi dan Janji Pertolongan (Ayat 85-87)

Setelah mengingatkan kisah kaum terdahulu, Allah mengarahkan pembicaraan kepada Rasulullah SAW, menegaskan bahwa tugas beliau hanyalah menyampaikan risalah dengan jelas. Ayat-ayat ini memberikan ketenangan bagi Nabi di tengah tekanan dan penolakan kaum Quraisy.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

(85) Maka sampaikanlah (wahai Muhammad) dengan terang apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.

Ayat 87 sering dikutip dalam konteks kebesaran Al-Qur'an, di mana Allah menganugerahkan tujuh ayat yang diulang-ulang (As-Sab'ul Matsani) yaitu Al-Fatihah, dan Al-Qur'an yang agung. Ini menunjukkan bahwa meskipun dakwah menghadapi perlawanan, Al-Qur'an sendiri adalah mukjizat abadi yang cukup sebagai peneguh hati.

Perintah Bersabar dan Tawakal (Ayat 88-90)

Penutup dari rentetan ayat ini memberikan landasan moral dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Perintah untuk tidak iri hati melihat kemewahan atau kenikmatan duniawi yang diberikan kepada orang lain adalah pelajaran penting tentang konsep qana'ah (menerima ketentuan).

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

(88) Janganlah kamu tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan duniawi yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka dan rendahkanlah sayapmu untuk orang-orang yang beriman.

Pesan utama di sini adalah fokus pada kualitas internal (iman dan kesabaran) daripada kemewahan eksternal. Merendahkan sayap (merendah diri dan berbelas kasih) kepada kaum mukminin adalah ciri utama seorang pemimpin sejati dan hamba Allah yang bertakwa.

Ayat 90 menutup dengan pernyataan tegas mengenai hari pertanggungjawaban, mengingatkan bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka. Ini menekankan pentingnya bertindak sesuai syariat Allah, karena dunia hanyalah persinggahan sementara.

Kesimpulan Spiritual

Surat Al-Hijr ayat 80-90 adalah rangkuman peringatan ilahi dan pedoman praktis. Ia mengajarkan bahwa pendustaan terhadap kebenaran akan berakhir dengan kerugian, sementara keteguhan dalam menyampaikan risalah, disertai kerendahan hati terhadap pengikut, akan membuahkan ketenangan. Ayat-ayat ini mendorong umat untuk memandang keindahan sejati bukan pada apa yang dimiliki orang lain, melainkan pada kedekatan dengan Allah melalui iman yang teguh dan amal shaleh.

🏠 Homepage