Dalam lembaran-lembaran Al-Qur'an, terdapat petunjuk dan kisah-kisah yang membentuk fondasi spiritual seorang Muslim. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan adalah Surat Al-Isra' (atau Al-Isra) ayat ke-6. Ayat ini, yang terletak dalam konteks panjang tentang Bani Israil, membawa pesan universal mengenai siklus perubahan nasib dan janji Allah SWT.
Perputaran Keadaan dan Janji Ilahi
Bunyi Ayat dan Terjemahan
[Catatan: Ayat 6 adalah kelanjutan dari narasi kehancuran yang disebut pada ayat sebelumnya, namun konteks yang lebih sering dibicarakan adalah siklus kehancuran dan kebangkitan yang melatarbelakangi ayat 4-8. Untuk pembahasan mendalam, fokus kita adalah pada ayat yang menjelaskan tentang penundaan dan janji setelah kerusakan.]
Meskipun ayat ke-6 secara langsung berbicara mengenai datangnya musuh sebagai balasan atas kerusakan pertama, ayat-ayat di sekitarnya (4 hingga 8) membentuk satu kesatuan makna tentang mekanisme ilahi dalam memberikan pelajaran. Ayat 4 meramalkan dua kali kerusakan. Lalu, ayat 5 menjelaskan pengutusan musuh yang pertama. Ayat 6 adalah respon terhadap harapan mereka jika mereka bertobat setelah hukuman pertama.
Makna Mendalam dari Siklus Perubahan
Inti dari narasi ini adalah pengajaran bahwa nasib sebuah kaum sangat bergantung pada tindakan kolektif mereka. Ketika Bani Israil, yang telah menerima nikmat besar berupa Taurat dan keselamatan, kembali melakukan kedurhakaan dan kesombongan (kezaliman), Allah SWT menetapkan konsekuensi. Kerusakan pertama terjadi, dan mereka dihukum.
Surat Al-Isra ayat 6 secara spesifik menyatakan:
Ayat ini adalah janji pemulihan, namun janji ini bersyarat. Setelah hukuman pertama dan penundukan oleh musuh, Allah memberikan kesempatan kedua. Ini menunjukkan rahmat yang luar biasa. Mereka dikembalikan kejayaan mereka: kekuasaan, kekayaan, dan jumlah yang bertambah.
Pelajaran dari Kesempatan Kedua
Kesempatan kedua ini adalah ujian yang lebih berat daripada yang pertama. Ketika sebuah komunitas yang telah jatuh kemudian diangkat kembali, seringkali mereka melupakan pelajaran dari kejatuhan sebelumnya. Mereka lupa akan kerendahan hati dan kembali pada kesombongan yang telah disebutkan di awal narasi.
Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kemakmuran dan kekuasaan yang diberikan Allah bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk beribadah dan bersyukur. Jika kekuasaan disalahgunakan untuk menindas atau berbuat kerusakan lagi, maka konsekuensi yang akan datang adalah balasan yang lebih berat.
Para mufassir menjelaskan bahwa kerusakan kedua memang terjadi. Setelah diberi kesempatan untuk bangkit dan menikmati kejayaan (harta dan jumlah yang banyak), Bani Israil kembali melakukan pelanggaran, khususnya pengkhianatan terhadap para nabi dan pembunuhan terhadap utusan Allah. Akibatnya, hukuman kedua yang datang jauh lebih dahsyat, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 7 dan 8.
Universalitas Pesan
Walaupun ayat ini secara historis merujuk pada Bani Israil, pesannya bersifat universal bagi umat manusia, termasuk umat Islam. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras:
- Hukum Kontinuitas: Allah akan selalu menanggapi kesombongan dan kerusakan dengan penundaan atau hukuman.
- Rahmat dalam Kesempatan: Rahmat Allah menyediakan kesempatan untuk bertobat dan bangkit kembali setelah kegagalan.
- Ujian Kekuasaan: Kemakmuran dan kejayaan adalah ujian terbesar. Kemudahan bisa menjauhkan seseorang dari rasa syukur dan kebenaran.
Memahami konteks Surat Al-Isra ayat 4 hingga 8, khususnya janji pemulihan di ayat 6, mengingatkan kita bahwa Allah Maha Adil namun juga Maha Penyayang. Namun, kasih sayang-Nya tidak berarti toleransi tanpa batas terhadap kezaliman yang berulang. Siklus ini menegaskan pentingnya menjaga integritas moral dan spiritual, baik saat sedang terpuruk maupun saat sedang berada di puncak kejayaan.
Oleh karena itu, perenungan terhadap janji dan ancaman dalam ayat-ayat ini harus mendorong umat Islam untuk senantiasa introspeksi diri, bersyukur atas nikmat yang ada, dan menjauhi kesombongan yang menjadi akar dari segala kerusakan di muka bumi.