Surat Al-Aqsa dan Artinya: Memahami Kedudukan dan Pesan Kunci

Al-Aqsa

Ketika berbicara mengenai situs suci dalam Islam, nama Masjid Al-Aqsa (atau sering disebut Yerusalem Timur, yang mencakup Kompleks Haram Al-Sharif) menduduki posisi sentral setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Meskipun Al-Aqsa merujuk pada keseluruhan kompleks, seringkali ia diidentikkan dengan kubah emas ikoniknya. Namun, perlu dicatat bahwa Al-Aqsa sendiri secara khusus merujuk pada masjid yang dibangun kemudian, bukan kubah emas yang sebenarnya adalah Kubah Batu (Dome of the Rock).

Kedudukan Istimewa Al-Aqsa dalam Islam

Al-Aqsa memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ajaran Islam. Ia merupakan kiblat pertama umat Muslim sebelum kemudian diperintahkan untuk menghadap Ka'bah. Selain itu, Al-Aqsa adalah tujuan dari Isra' Mi'raj, perjalanan malam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa, dan dari sana beliau naik ke Sidratul Muntaha.

Hadis Nabi Muhammad SAW menegaskan keutamaan shalat di Masjid Al-Aqsa. Hal ini menjadikan ziarah dan menjaga kesucian masjid ini sebagai bagian penting dari keyakinan umat.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

(Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa)

Ayat di atas, dari Surah Al-Isra' ayat 1, adalah dasar utama pengakuan atas perjalanan suci tersebut. Konteks historis dan spiritual ini memberikan Al-Aqsa bobot keagamaan yang tak ternilai.

Keutamaan Shalat di Al-Aqsa

Salah satu motivasi utama bagi umat Islam untuk mengunjungi atau merindukan Al-Aqsa adalah pahala shalat di dalamnya. Berbagai riwayat sahih menjelaskan besarnya keutamaan ini, menjadikannya tempat yang sangat dicari oleh para salafus shalih (pendahulu yang saleh).

Perbandingan Pahala Shalat

Sebuah hadis populer dari Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa shalat satu kali di Masjid Al-Aqsa lebih utama dibandingkan seribu kali shalat di tempat lain, kecuali di Masjidil Haram (Mekkah).

صلاة في مسجدي هذا خير من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام

(Shalat di masjidku ini (Madinah) lebih baik daripada seribu shalat di tempat lain, kecuali Masjidil Haram).

(Catatan: Dalam beberapa riwayat lain mengenai Al-Aqsa, angka seribu juga disebutkan sebagai perbandingan dengan shalat di masjid lain, menggarisbawahi keutamaan relatifnya).

Meskipun terdapat beberapa variasi dalam angka dan perbandingan (tergantung pada masjid mana yang dijadikan perbandingan), poin utamanya adalah bahwa Al-Aqsa dan Masjid Nabawi memiliki keutamaan yang melebihi masjid-masjid biasa. Keutamaan ini bukan sekadar nilai fisik, melainkan pengakuan spiritual atas berkah yang dilimpahkan Allah SWT pada tempat tersebut.

Makna "Al-Aqsa" dan Konteks Modern

Secara harfiah, "Al-Aqsa" berarti "yang terjauh". Nama ini diberikan karena lokasinya yang jauh dari Masjidil Haram di Mekkah saat Isra' Mi'raj. Namun, hari ini, pembahasan mengenai Al-Aqsa tidak hanya seputar spiritualitas masa lampau, tetapi juga mengenai isu-isu kontemporer terkait status, kepemilikan, dan aksesibilitasnya.

Bagi banyak Muslim di seluruh dunia, menjaga dan mendoakan keselamatan Al-Aqsa adalah bentuk ijtihad (usaha sungguh-sungguh) untuk mempertahankan identitas dan warisan Islam di tanah Palestina. Meskipun tantangan geografis dan politik sering menghalangi kunjungan fisik, hubungan emosional dan doa terus terjalin.

Kesimpulan: Ikatan Batin dengan Al-Aqsa

Surat Al-Aqsa, dalam konteks ini merujuk pada kompleks suci tersebut, mengingatkan umat Islam akan tiga pilar utama: kiblat pertama, titik awal kenaikan Nabi SAW, dan tempat dengan keutamaan ibadah yang besar. Memahami sejarah dan makna spiritualnya membantu memperkuat ikatan batin umat dengan situs suci ketiga ini. Meskipun kita mungkin terpisah jarak ribuan kilometer, doa dan harapan agar kemuliaan Al-Aqsa tetap terjaga adalah sebuah kewajiban moral dan spiritual.

🏠 Homepage