Menelusuri makna inti dari tujuh surat pembuka Al-Qur'an hingga satu surat tentang guncangan hari kiamat.
(Ilustrasi Konsep Pembukaan dan Keadilan)
Surat ini adalah inti dari shalat umat Islam. Ayat-ayatnya menegaskan keesaan Allah (Tauhid), memuji Allah sebagai Tuhan semesta alam, Pemilik hari pembalasan, dan memohon petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai maupun yang tersesat. Ini adalah doa universal seorang hamba kepada Rabb-nya.
Sebagai surat terpanjang, Al-Baqarah membahas pondasi teologis dan hukum. Bagian awalnya menjelaskan tentang tiga kategori manusia: orang beriman yang teguh, orang kafir yang keras kepala, dan orang munafik yang plin-plan. Surat ini menekankan pentingnya mengikuti petunjuk Ilahi dan konsekuensi dari mengingkari perjanjian dengan Allah.
Surat ini melanjutkan pembahasan tentang kedudukan Al-Qur'an sebagai petunjuk. Fokus utamanya adalah mengenai pentingnya kesabaran (istiqamah), perintah untuk bermusyawarah dalam kebaikan, serta peringatan terhadap perselisihan. Terdapat juga kisah Maryam dan kelahiran Nabi Isa AS sebagai perbandingan ajaran yang benar dan yang keliru.
Surat ini secara detail membahas masalah sosial, hukum keluarga, dan etika bermasyarakat. Fokus utama meliputi keadilan terhadap anak yatim, pembagian warisan, aturan pernikahan, dan larangan terhadap perbuatan keji. An-Nisa menekankan bahwa semua manusia diciptakan dari satu jiwa dan pentingnya menegakkan keadilan universal, meskipun harus pahit.
Surat ini memuat banyak penetapan hukum syariat yang baru, termasuk perintah untuk memenuhi janji dan akad. Pembahasan mencakup hukum makanan halal dan haram, tata cara berwudhu dan tayammum, serta keutamaan berlaku adil terhadap semua golongan, termasuk musuh. Surat ini menggarisbawahi kematangan ajaran Islam dalam mengatur kehidupan.
Surat ini didominasi oleh argumen tauhid yang kuat melalui pengamatan terhadap alam semesta (ayat-ayat kauniyah). Surat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, membantah syirik, dan membahas larangan memakan bagian dari binatang ternak yang diharamkan oleh kaum musyrik pada masa itu. Ini adalah seruan untuk berpikir rasional tentang Pencipta.
Al-A'raf membahas tentang batas antara surga dan neraka (Al-A'raf). Surat ini mengisahkan perbandingan antara umat-umat terdahulu yang diazab karena menolak nabi mereka (seperti Nabi Nuh dan Nabi Musa), dengan penekanan bahwa semua nabi menyerukan ajaran yang sama: menyembah Allah dan mengikuti syariat-Nya.
Surat ini turun setelah Perang Badar, membahas etika dan hukum terkait harta rampasan perang (anfal). Lebih dari sekadar materi, surat ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati datang dari ketaatan penuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan mengembalikan segala urusan kepada Allah dan Rasul.
Ini adalah satu-satunya surat yang tidak diawali dengan 'Bismillah'. Surat ini membahas pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin yang telah melanggar janji, serta aturan berinteraksi dengan mereka. Fokus utamanya adalah ketegasan dalam membela kebenaran dan peringatan keras bagi mereka yang enggan berjihad (baik harta maupun jiwa) di jalan Allah.
Surat ini membahas bantahan terhadap tuduhan bahwa Al-Qur'an adalah karangan Muhammad. Kisah Nabi Musa dan Fir'aun disajikan sebagai bukti kekuasaan Allah. Surat ini mengajak manusia untuk merenungkan keajaiban penciptaan langit dan bumi sebagai dalil bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Akhir surat memberikan penegasan tentang janji Allah bagi orang yang beriman.
Nama surat ini diambil dari kisah Nabi Hud AS yang diutus kepada kaum 'Ad. Surat ini penuh dengan peringatan keras dan gambaran tentang kehancuran umat yang mendustakan rasul. Pesan utamanya adalah konsistensi dalam kebenaran (istiqamah) dan ketenangan menghadapi ejekan kaum musyrik, karena pertolongan Allah pasti datang.
Surat ini dikenal sebagai "kisah terbaik" (Ahsanul Qashash). Kisah Nabi Yusuf AS adalah pelajaran panjang tentang kesabaran, ketabahan dalam cobaan (dijual, dipenjara), keindahan akhlak, hingga akhirnya mendapatkan kemuliaan. Pelajaran utamanya adalah bahwa perencanaan Allah selalu lebih baik daripada rencana makhluk-Nya.
Surat ini menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terlihat, seperti guntur (ra'd) dan awan yang bergerak. Ayat-ayatnya menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran sejati, dan hanya hati yang tenang yang dapat menerima petunjuk tersebut. Surat ini juga membahas bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan ketetapan Allah.
Surat ini dinamai sesuai nama Nabi Ibrahim AS. Ayat-ayatnya menyoroti pentingnya bersyukur kepada nikmat Allah dan bahaya kekufuran. Terdapat dialog alegoris antara penghuni surga dan penghuni neraka yang menunjukkan penyesalan terakhir. Nabi Ibrahim berdoa agar keturunannya terhindar dari perbuatan syirik.
Surat ini memuat kisah kaum Tsamud yang diazab karena membunuh unta betina mukjizat Nabi Saleh. Fokus utama adalah keagungan Al-Qur'an dan jaminan Allah untuk menjaga kemurniannya dari kerusakan. Surat ini juga mengingatkan tentang kesombongan Iblis dan takdirnya sebagai makhluk yang terkutuk.
Surat ini menyajikan daftar panjang nikmat Allah di alam, dengan inspirasi utama dari perilaku lebah yang taat pada naluri Ilahiyah (wahyu). An-Nahl menyeru untuk hanya beribadah kepada Allah, menegaskan kebenaran kenabian, dan pentingnya berlaku adil dan berbuat baik (ihsan) dalam semua urusan.
Surat ini mengandung mukjizat Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Selain itu, surat ini memuat sepuluh pokok ajaran moral utama, yang salah satunya adalah larangan membunuh anak karena takut kemiskinan, larangan mendekati zina, dan keharusan menunaikan janji serta berlaku adil dalam jual beli.
Kisah utama surat ini adalah Ashabul Kahf (pemuda gua) yang tertidur untuk menyelamatkan iman mereka. Surat ini memberikan empat pelajaran penting: bahaya kekayaan (Qarun), bahaya ilmu tanpa amal (Dzulqarnain), bahaya kesombongan (Iblis), dan bahaya mengejar kesenangan duniawi (pemilik dua kebun). Surat ini juga membahas tentang kebenaran akan datangnya Hari Kiamat.
Surat ini mengisahkan kisah-kisah para nabi besar, terutama kisah kelahiran Nabi Zakaria dan Yahya, serta kelahiran Nabi Isa AS dari Maryam tanpa ayah. Surat ini menekankan bahwa Allah Maha Kuasa untuk menciptakan tanpa perlu mengikuti kaidah yang biasa terjadi, dan mengingatkan tentang hari kebangkitan.
Surat ini dimulai dengan penegasan bahwa Al-Qur'an diturunkan bukan untuk menyusahkan manusia. Surat ini menceritakan kisah penting Nabi Musa AS dalam menghadapi Fir'aun, termasuk dialog Allah dengan Musa. Pesan utamanya adalah perintah agar manusia mendirikan shalat dan berpegang teguh pada dzikir mengingat Allah.
Surat ini merangkum kisah singkat beberapa nabi terdahulu (Nuh, Ibrahim, Luth, Yunus, Zakaria, Maryam, Isa) sebagai hiburan bagi Nabi Muhammad SAW. Fokus surat ini adalah membuktikan bahwa semua nabi mengajarkan tauhid dan bahwa hari perhitungan (kiamat) pasti akan tiba, meskipun terasa jauh.
Surat ini membahas tentang kebenaran Hari Kiamat, di mana kegoncangan dahsyat akan melanda bumi. Surat ini juga membahas tentang ibadah haji sebagai ajaran yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, serta pentingnya bersujud dan berlindung kepada Allah dari tipu daya setan.
Surat ini dimulai dengan deskripsi sifat-sifat orang-orang yang beruntung dan akan mewarisi surga, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalat, menjauhi perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, dan menjaga kemaluannya. Surat ini juga menyinggung kisah para nabi sebelumnya sebagai bukti kekuasaan Allah.
Surat ini secara khusus mengatur tentang etika sosial dan keluarga, terutama mengenai fitnah (tuduhan zina) dan bagaimana cara menghukumnya (had). Surat ini juga menekankan pentingnya meminta izin sebelum memasuki rumah orang lain dan larangan untuk berprasangka buruk, serta menjelaskan tentang cahaya (nur) ilahi.
Al-Furqan adalah pembeda antara yang hak dan yang batil. Surat ini memuji hamba Allah yang Maha Penyayang, yang memiliki ciri-ciri seperti berjalan dengan rendah hati, sabar menghadapi orang bodoh, dan rajin bertahajjud. Surat ini juga membahas keajaiban penciptaan dan kebesaran Allah sebagai penegasan kembali akan hari perhitungan.
Surat ini membantah anggapan bahwa Al-Qur'an adalah hasil puisi atau sihir, menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang jelas. Kisah lima nabi besar (Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Ibrahim) disajikan secara berurutan, menyoroti tema umum: seruan tauhid dan azab bagi pendusta.
Surat ini mengandung kisah Nabi Sulaiman AS dengan burung Hud-hud dan Ratu Balqis, menunjukkan hikmah dan kebijaksanaan dalam kepemimpinan. Surat ini juga memuat kisah Nabi Musa AS dan mukjizat tongkatnya, serta seruan umum agar manusia menyadari kebesaran Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan suara semut di kegelapan.
Fokus surat ini adalah kisah lengkap Nabi Musa AS sejak lahir hingga menjadi rasul. Surat ini menekankan bahwa kekayaan dan kekuasaan duniawi adalah ujian, bukan tujuan akhir. Surat ini juga memberikan jaminan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada orang-orang yang tertindas dan sabar.
Perumpamaan tentang laba-laba dijadikan analogi atas betapa rapuhnya rumah orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung. Surat ini membahas ujian terhadap keimanan (fitnah), menyoroti kesabaran Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim, dan mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan sesaat.
Surat ini diawali dengan ramalan tentang kekalahan bangsa Romawi (Bizantium) dari Persia, yang kemudian diprediksi akan menang lagi dalam beberapa tahun ke depanāsebuah mukjizat kenabian. Surat ini mendorong umat Islam untuk bergembira atas janji kemenangan dan menekankan pentingnya mengingat Allah di tengah kesulitan.
Surat ini dihiasi dengan wasiat-wasiat bijak Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Wasiat ini meliputi penegasan tauhid (larangan syirik), pentingnya shalat, berbakti kepada orang tua, berkata baik, dan menjaga lisan. Surat ini adalah panduan praktis etika seorang muslim dalam berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat.
Surat ini menjelaskan tiga hal utama: kebenaran Al-Qur'an, penciptaan manusia yang berasal dari tanah, dan peristiwa kebangkitan. Surat ini juga menekankan keutamaan orang-orang yang bersujud (melaksanakan sujud tilawah) dan ciri-ciri mereka yang menjauhi kesombongan saat mendengar ayat-ayat Allah.
Surat ini berkaitan erat dengan peristiwa Perang Khandaq (Parit) dan masalah sosial di Madinah, termasuk aturan terkait pernikahan Nabi. Surat ini menekankan pentingnya ketaatan mutlak kepada Rasulullah, menjaga amanah, dan bersikap jujur dalam menghadapi musuh dan cobaan.
Surat ini dibuka dengan pujian kepada Allah yang memiliki segala sesuatu di langit dan bumi. Surat ini menceritakan kisah kaum Saba' yang dihukum karena kemewahan dan kesyukuran yang berlebihan (dengan kisah runtuhnya bendungan Ma'rib). Pesan utamanya adalah peringatan bahwa nikmat dunia dapat dicabut jika disalahgunakan.
Surat ini menegaskan keagungan Allah sebagai Pencipta langit dan bumi dari ketiadaan. Surat ini membagi manusia menjadi tiga golongan saat hari kiamat tiba (yang paling beruntung, yang pertengahan, dan yang paling celaka). Surat ini mengajak merenungi malaikat pembawa wahyu sebagai bagian dari sistem Ilahi.
Surat ini sering disebut "jantung Al-Qur'an." Surat ini berfokus pada tiga tema besar: kenabian Muhammad SAW, keesaan Allah melalui bukti alam, dan kepastian Hari Kebangkitan. Surat ini juga memuat kisah Ashabul Yatin (penduduk desa yang menolak rasul) sebagai pelajaran akan konsekuensi penolakan.
Surat ini dibuka dengan sumpah demi barisan malaikat. Surat ini menegaskan bahwa setan tidak dapat mendengar pembicaraan malaikat di langit. Kisah Nabi Ibrahim dan putranya (Ismail) mendominasi, menunjukkan kepatuhan total pada perintah Allah, yang berujung pada pemberian nubuwwah kepada keturunan Ibrahim.
Surat ini diawali dengan sumpah demi Al-Qur'an yang mulia. Surat ini menceritakan cobaan berat yang menimpa Nabi Ayyub AS (kesabaran), Nabi Daud AS (kekuasaan), dan Nabi Sulaiman AS (ujian kekuasaan). Surat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.
Surat ini menjelaskan tentang perbedaan nasib manusia di akhirat, dikelompokkan menjadi tiga rombongan saat menuju surga atau neraka. Surat ini menekankan bahwa Allah adalah Maha Pengampun bagi pendosa selama mereka bertaubat sebelum ajal tiba, dan menolak konsep syafa'at yang dibangun di atas kesyirikan.
Surat ini dibuka dengan pembuktian kebesaran Allah sebagai Yang Maha Pengampun. Surat ini menyoroti kisah seorang mukmin dari Bani Fir'aun yang membela Nabi Musa. Fokus utamanya adalah bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada orang-orang yang beriman, dan bahwa diskusi tentang ayat-ayat Allah adalah tindakan yang paling mulia.
Surat ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an dijelaskan dengan rinci (Fussilat). Ayat-ayat alam semesta dipaparkan sebagai bukti tauhid. Surat ini memerintahkan manusia untuk menyeru kepada Allah dengan cara yang baik, dan menggarisbawahi bahwa hari ketika mulut dikunci dan anggota tubuh bersaksi adalah nyata.
Surat ini menekankan pentingnya bermusyawarah (syura) dalam urusan umat. Surat ini menegaskan kembali bahwa wahyu (Al-Qur'an) adalah satu-satunya sumber hukum yang benar, dan bahwa manusia hanya berhak menyembah Allah. Surat ini juga membahas tentang mukjizat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim.
Surat ini membahas tentang kesombongan kaum musyrikin yang menolak Al-Qur'an karena menganggapnya sebagai sihir. Surat ini menegaskan bahwa perhiasan duniawi tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan akhirat. Kisah Nabi Musa disajikan kembali untuk menepis keraguan orang-orang Quraisy.
Surat ini mengancam kaum Quraisy dengan kabut (dukhan) sebagai hukuman atas pendustaan mereka, sesuai dengan sunnatullah yang menimpa umat terdahulu. Surat ini mengingatkan bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam yang penuh berkah, dan menekankan bahwa azab adalah konsekuensi dari pengingkaran.
Surat ini membahas tentang tanda-tanda kekuasaan Allah yang terhampar di alam semesta yang menuntut manusia untuk beriman. Fokus utama adalah pembalasan (jaza') di hari kiamat, di mana setiap kelompok akan dipanggil berlutut di hadapan Allah untuk menerima keputusan-Nya.
Surat ini membahas tentang kebenaran Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Surat ini memberikan peringatan keras bagi orang yang durhaka kepada orang tuanya, namun memberikan kabar gembira bagi mereka yang sabar dan teguh dalam tauhid. Hari kiamat digambarkan sebagai masa ketika mereka menyadari kesia-siaan hidup mereka.
Surat ini membahas pentingnya peperangan (qital) sebagai bagian dari pembelaan agama ketika jalur damai telah tertutup. Surat ini juga memperingatkan kaum munafik tentang kerugian amal mereka, dan menekankan bahwa jihad sejati adalah jihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah demi meraih ridha-Nya.
Surat ini diturunkan setelah Perjanjian Hudaibiyah, yang meskipun tampak seperti kekalahan, sesungguhnya merupakan kemenangan besar (Fath Mubin) bagi Islam. Surat ini menekankan bahwa kemenangan datang hanya dari sisi Allah dan menguatkan hati para sahabat yang setia.
Surat ini merupakan kode etik sosial dalam Islam. Isinya mencakup larangan keras untuk mencela, bergosip, dan berprasangka buruk. Surat ini mengajarkan etika komunikasi, pentingnya tabayyun (klarifikasi), dan dasar-dasar persaudaraan dan takwa sebagai tolok ukur kemuliaan di sisi Allah.
Surat ini dimulai dengan sumpah demi Al-Qur'an yang mulia. Surat ini berfokus pada sanggahan terhadap keraguan kaum musyrikin tentang kebangkitan setelah kematian. Kekuasaan Allah digambarkan melalui penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, serta pengetahuan Allah yang maha luas meliputi setiap gerakan makhluk.
Surat ini dibuka dengan sumpah demi fenomena alam yang menunjukkan kekuasaan Allah. Tema utamanya adalah penegasan tentang janji hari kiamat dan pahala bagi orang-orang yang bertakwa. Kisah Nabi Ibrahim dan tamu-tamunya (malaikat) juga disajikan sebagai teladan keramahan dan kepatuhan.
Surat ini dimulai dengan sumpah demi Bukit Sinai dan Kitab yang tertulis. Surat ini menyinggung tentang azab yang menimpa pendusta di akhirat, serta memberikan deskripsi kenikmatan surga bagi orang yang bertakwa. Surat ini menguatkan hati Nabi Muhammad SAW untuk tetap bersabar dalam berdakwah.
Surat ini menguatkan kenabian Muhammad SAW dan menegaskan bahwa wahyu yang dibawa adalah murni dari Allah, bukan karangan hawa nafsu. Surat ini memuat deskripsi perjalanan Isra Mi'raj Nabi, dan penekanan bahwa pertanggungjawaban amal hanya kepada Allah semata.
Surat ini berulang kali menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah peringatan yang mudah dipahami. Kisah-kisah kaum Nabi Nuh, 'Ad, Tsamud, Luth, dan Fir'aun disajikan secara singkat untuk menunjukkan bahwa kehancuran adalah hasil dari pendustaan mereka terhadap rasul, dan azab tersebut sudah dekat.
Surat ini didominasi oleh pertanyaan retoris berulang, "Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?" Surat ini memaparkan rahmat Allah melalui penciptaan alam, sistem keseimbangan kosmik, dan buah-buahan. Surat ini secara khusus merinci kenikmatan surga dan neraka sebagai konsekuensi pilihan manusia.
Surat ini berfokus pada deskripsi pasti terjadinya Hari Kiamat. Manusia akan diklasifikasikan menjadi tiga golongan: kelompok kanan (Ashabul Yamin), kelompok kiri (Ashabul Masy'amah), dan yang paling utama (As-Sabiqun). Surat ini menekankan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah.
Surat ini menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta bertasbih kepada Allah. Surat ini menekankan pentingnya infaq di jalan Allah, mengingatkan bahwa kekayaan duniawi (seperti besi) akan musnah, sementara pahala amal jariyah akan kekal. Surat ini juga menjelaskan tentang cahaya iman.
Surat ini diawali dengan kisah seorang wanita yang datang kepada Nabi untuk mengajukan pengaduan tentang suaminya. Surat ini menetapkan hukum tentang larangan berbisik-bisik yang jahat dan menekankan pentingnya menghormati majelis ilmu serta memberikan simpati kepada orang yang membutuhkan pertolongan Allah.
Surat ini membahas pengusiran Bani Nadir (salah satu suku Yahudi Madinah) karena pengkhianatan mereka. Surat ini menetapkan aturan pembagian harta rampasan perang (fai') dan mengajarkan pentingnya mempersiapkan diri untuk akhirat, karena apa pun yang ada di bumi akan kembali kepada Allah.
Surat ini memberikan panduan tentang cara menguji keimanan seorang wanita yang ingin berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Fokus utama adalah larangan menjalin persahabatan erat dengan musuh-musuh Allah, meskipun mereka kerabat, karena iman harus didahulukan di atas ikatan duniawi.
Surat ini menyerukan persatuan dan kekompakan orang-orang beriman untuk menghadapi musuh dengan barisan yang kokoh (shaff). Surat ini menyoroti kontradiksi antara perkataan dan perbuatan orang munafik, dan memuji Nabi Isa AS serta menganjurkan jihad dengan harta dan jiwa.
Surat ini menetapkan kewajiban menunaikan shalat Jumat. Surat ini juga mengkritik orang-orang Yahudi Madinah yang mengabaikan panggilan shalat demi keuntungan duniawi. Pesan utamanya adalah keutamaan mengingat Allah melalui jual beli dan meninggalkan urusan dunia saat panggilan shalat tiba.
Surat ini secara eksplisit membongkar sifat-sifat kaum munafik yang hatinya keras dan hanya peduli pada dunia. Mereka bersaksi palsu, menolak kebenaran, dan berusaha menyebarkan kerusakan. Surat ini memberikan peringatan keras agar kaum beriman tidak terperdaya oleh penampilan lahiriah mereka.
Surat ini menjelaskan tentang kerugian hakiki yang akan dialami oleh orang-orang kafir dan munafik pada hari perhitungan. Pada hari itu, segala kerugian akan tampak jelas (taghabun). Surat ini mengajarkan agar manusia bertakwa sesuai kemampuan, memaafkan, dan bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Surat ini memberikan panduan lengkap mengenai hukum perceraian (thalaq) secara adil dan penuh kasih sayang, dengan menekankan pentingnya menjaga batas-batas syariat. Surat ini menutup dengan janji bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya.
Surat ini membahas tentang keputusan Nabi Muhammad SAW mengharamkan sesuatu untuk dirinya sendiri karena maslahat keluarga. Surat ini juga memberikan peringatan keras kepada istri-istri Nabi (dan secara umum seluruh wanita beriman) agar menjaga lisan dan menghindari perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah, termasuk kisah istri Nabi Nuh dan Nabi Luth.
Surat ini diawali dengan pujian kepada Allah yang menguasai seluruh kerajaan langit dan bumi. Surat ini mengajak merenungkan kematian dan kehidupan sebagai ujian. Surat ini juga membahas siksa neraka bagi orang yang mengingkari keesaan Allah, menekankan bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Surat ini diawali dengan sumpah demi pena dan tulisan. Surat ini membela kehormatan Nabi Muhammad SAW dari tuduhan gila. Surat ini juga memuat kisah pemilik kebun yang serakah, sebagai pelajaran bahwa kekayaan dunia tidak menjamin kebahagiaan di akhirat.
Surat ini menguatkan keyakinan terhadap Hari Kiamat (Al-Haqqah) dengan menyebutkan kehancuran kaum 'Ad dan Tsamud. Surat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang diucapkan oleh Nabi yang mulia, bukan perkataan penyair atau dukun.
Surat ini membahas tentang tingkatan-tingkatan tempat naik (ma'arij) di mana para malaikat naik menuju Allah. Surat ini menegaskan kepastian kiamat dan azab bagi orang yang mengingkari hari pembalasan. Surat ini juga memuji kesabaran orang-orang mukmin dalam menghadapi ejekan.
Surat ini menceritakan secara rinci dakwah Nabi Nuh AS kepada kaumnya yang menolak selama 950 tahun. Pesan utamanya adalah ajakan untuk memohon ampunan Allah agar Allah menurunkan rahmat berupa hujan dan rezeki, serta janji bahwa jika manusia berpaling, maka azab yang besar akan menanti.
Surat ini mengungkapkan bahwa sekelompok jin telah mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan kemudian beriman kepadanya. Surat ini menguatkan klaim bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk bagi manusia dan jin, serta menegaskan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat menandingi kekuasaan Allah.
Surat ini dimulai dengan perintah kepada Nabi untuk bangun malam melaksanakan shalat (tahajjud) sebagai persiapan menghadapi tantangan dakwah. Surat ini menekankan pentingnya kesabaran dalam menghadapi penolakan dan ancaman, serta berpegang teguh pada Al-Qur'an.
Surat ini berisi perintah kepada Nabi untuk bangkit dan memberi peringatan. Surat ini menjelaskan persiapan menghadapi hari kiamat, serta ancaman keras bagi orang-orang yang sombong dan enggan bersyukur serta shalat. Nama Malik (penjaga neraka) juga disebutkan.
Surat ini bersumpah dengan hari kiamat dan jiwa yang banyak menyesali perbuatannya. Surat ini menekankan bahwa Allah Maha Kuasa untuk menghidupkan kembali tulang belulang manusia. Surat ini juga membahas tentang ketidakmampuan manusia untuk mengingat bacaan Al-Qur'an kecuali dengan pertolongan Allah.
Surat ini memberikan deskripsi mendalam mengenai tahapan penciptaan manusia, dari air mani hingga menjadi makhluk yang berakal. Surat ini menjanjikan kenikmatan surga yang luar biasa bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yang berinfak meskipun mereka sendiri membutuhkan.
Surat ini dibuka dengan sumpah demi berbagai jenis malaikat yang diutus. Surat ini mengancam kaum pendusta dengan azab yang mengerikan, dan sebagai kontras, menjanjikan surga yang penuh kenikmatan bagi orang yang bertakwa dan melaksanakan perintah Allah.
Surat ini membahas tentang kebenaran Hari Kiamat (An-Naba), yang mereka perdebatkan. Surat ini menunjukkan bukti-bukti kebesaran Allah di alam semesta (gunung, laut, siang dan malam) sebagai penegasan bahwa Allah juga Maha Kuasa membangkitkan manusia kembali.
Surat ini bersumpah demi malaikat yang mencabut nyawa dengan keras. Surat ini membahas tentang kisah Nabi Musa melawan Fir'aun dan menegaskan kembali tentang kepastian datangnya kiamat, di mana setiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Surat ini diawali dengan teguran Allah kepada Nabi Muhammad SAW yang bermuka masam ketika didatangi oleh seorang buta (Ibnu Ummi Maktum) karena Nabi lebih fokus pada orang kaya. Surat ini mengingatkan bahwa kemuliaan di sisi Allah hanya berdasarkan ketakwaan, bukan status sosial.
Surat ini menjelaskan gambaran kengerian hari kiamat, ketika matahari digulung cahayanya, bintang-bintang berjatuhan, dan lautan meluap. Surat ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang dibawa oleh malaikat Jibril yang terpercaya.
Surat ini menggambarkan kehancuran alam semesta saat kiamat, ketika langit terbelah (infitar). Surat ini mengingatkan manusia bahwa setiap perbuatan mereka dicatat oleh malaikat pencatat (rakibin karimin), dan tidak ada yang tersembunyi dari pengawasan Allah.
Surat ini berisi ancaman keras bagi mereka yang curang dalam takaran dan timbangan. Surat ini memberikan kontras dengan nasib orang-orang beriman di akhirat yang akan menikmati minuman dari mata air surga, sedangkan para pencurang akan terjerumus ke dalam neraka Jahim.
Surat ini kembali menggambarkan kehancuran alam raya saat kiamat, di mana bumi terbelah dan melepaskan isi perutnya. Surat ini meyakinkan manusia bahwa Allah akan memanggil mereka kembali untuk diperhitungkan, baik yang beramal baik maupun yang beramal buruk.
Surat ini bersumpah dengan gugusan bintang dan hari yang dijanjikan (kiamat). Surat ini mengisahkan tentang Ashhabul Ukhdud (penyiksaan orang-orang beriman di parit api), sebagai penegasan bahwa siksaan duniawi tidak sebanding dengan siksa neraka bagi orang kafir.
Surat ini bersumpah dengan langit dan bintang yang bercahaya di malam hari. Surat ini menekankan bahwa setiap jiwa pasti dijaga oleh malaikat pengawas. Surat ini juga menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah pembeda kebenaran dan kebatilan.
Surat ini memerintahkan Nabi untuk bertasbih memuji nama Allah Yang Maha Tinggi. Surat ini menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati diraih oleh orang yang menyucikan dirinya dengan mengingat nama Rabb-nya dan mendirikan shalat, bukan oleh orang yang lebih mencintai kehidupan dunia.
Surat ini membahas tentang hari pembalasan (Ghasyiyah) yang akan menutupi semua manusia. Surat ini membedakan antara wajah-wajah yang berseri-seri di surga dan wajah-wajah yang merana di neraka, serta mengajak merenungi penciptaan unta, langit, dan gunung.
Surat ini diawali dengan sumpah demi waktu-waktu penting. Surat ini memberikan peringatan keras melalui kehancuran kaum 'Ad dan Fir'aun sebagai bukti bahwa kekayaan tidak menjamin kemuliaan di sisi Allah. Ketenangan jiwa (Nafs Mutma'innah) adalah puncak kebahagiaan.
Surat ini bersumpah dengan kota suci Mekkah. Surat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam kesulitan (kabad). Keberuntungan sejati terletak pada upaya menempuh jalan yang sulit, yaitu memberi makan fakir miskin, beriman kepada Allah, dan memecahkan belenggu perbudakan.
Surat ini bersumpah dengan fenomena alam yang tak terhitung jumlahnya. Surat ini menjelaskan bahwa kesuksesan sejati adalah menyucikan jiwa, sedangkan kegagalan adalah mendiamkan atau menutupi fitrah ketakwaan jiwa tersebut.
Surat ini bersumpah dengan malam yang menyelimuti dan siang yang menerangi. Surat ini membagi manusia menjadi dua jenis: yang memberi karena mencari keridhaan Allah, dan yang kikir karena takut menjadi miskin. Jaminan surga diberikan kepada yang dermawan.
Surat ini diturunkan sebagai penghibur bagi Nabi Muhammad SAW saat mengalami jeda wahyu. Surat ini menegaskan bahwa Rabb Nabi tidak meninggalkan dan tidak membenci beliau. Surat ini memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim dan mensyukuri nikmat Allah.
Surat ini adalah janji penghiburan, menyatakan bahwa di balik kesulitan (syidda) pasti ada kemudahan (yusra). Pesan utamanya adalah bahwa mengingat Allah (dengan shalat dan dzikir) akan melapangkan dada dan memberikan ketenangan.
Surat ini bersumpah dengan tempat-tempat suci (Tin dan Zaitun). Surat ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna (ahsan taqwim), namun akan menjadi paling rendah (asfal safilin) jika mereka menolak iman dan amal saleh.
Surat ini adalah wahyu pertama yang diterima Nabi. Surat ini mengandung perintah fundamental: "Iqra'" (Bacalah). Surat ini menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari segumpal darah, dan bahwa hanya dengan ketaatan dan sujud syukur manusia dapat mendekat kepada Pencipta.
Surat ini membahas tentang keagungan malam Lailatul Qadar, malam di mana Al-Qur'an diturunkan. Malam ini lebih baik daripada seribu bulan. Surat ini menegaskan bahwa turunnya para malaikat pada malam itu membawa rahmat dan kedamaian hingga fajar.
Surat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW datang membawa bukti nyata (Al-Qur'an dan risalahnya). Surat ini membagi Ahlul Kitab menjadi dua kelompok: mereka yang beriman dan mereka yang keras kepala dalam kesyirikan dan kekafiran.
Surat ini memberikan gambaran visual yang mengerikan tentang goncangan hebat hari kiamat, di mana bumi akan memuntahkan seluruh isinya. Surat ini menggarisbawahi prinsip keadilan mutlak: setiap perbuatan sekecil apa pun, baik atau buruk, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.