Refleksi Surat Al-Hijr (Ayat 1-15)

الٓر

Ilustrasi Simbolis Ayat Pembuka Surat Al-Hijr

Teks dan Terjemahan Ayat 1-5

الۤمۤ ۤتِلْكَ ءَايَـٰتُ ٱلْكِتَـٰبِ وَقُرْءَانٍ مُّبِينٍ
Alif laam raa. Tilka aayaatul Kitaabi wa Qur-aanim Mubeen.
Alif, Laam, Ra. Inilah ayat-ayat Al-Kitab (Al-Qur'an) dan (ayat-ayat) yang menjelaskan. (1)
رُّبَمَا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ كَانُواْ مُسْلِمِينَ
Rubbama yawaddu-l-ladzeena kafaroo law kaanoo muslimiin.
Boleh jadi orang-orang yang kafir itu (suatu saat) menginginkan seandainya mereka dahulu adalah orang-orang Muslim (yang berserah diri). (2)
ذَرْهُمْ يَأْكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلْهِهِمُ ٱلْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
Dzarhum ya'kuluu wa yatamatta'uu wa yulhīhimul amal, fasawfa ya'lamuun.
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan (oleh) angan-angan, maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (3)
وَمَآ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلَّآ وَلَهَا كِتَابٌ مَّعْلُومٌ
Wa maa ahlaknaa min qaryatin illaa wa lahaa kitaabum ma'luum.
Dan Kami tidak membinasakan suatu negeri pun kecuali telah ditetapkan waktu (ajal)-nya. (4)
مَّا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا تَسْتَـْٔخِرُونَ
Maa tasbiqu min ummatin ajalahaa wa maa yasta'khiruun.
Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajal dan (tidak pula) mengakhirinya. (5)

Makna dan Intisari Surat Al-Hijr Ayat 1-15

Surat Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam Al-Qur'an, dibuka dengan pengenalan fundamental mengenai status kitab suci. Ayat 1 menegaskan bahwa rangkaian huruf "Alif, Laam, Ra" (الۤمۤ ۤ) adalah permulaan dari ayat-ayat Al-Kitab yang sangat jelas dan terang (Qur'an Mubeen). Penekanan pada kejelasan ini bertujuan untuk menghilangkan keraguan siapapun tentang otentisitas dan sumber wahyu Ilahi ini.

Ayat-ayat selanjutnya, khususnya ayat 2 dan 3, menyajikan gambaran kontras antara orang-orang yang beriman dan mereka yang ingkar. Ayat 2 mengungkapkan penyesalan mendalam yang kelak akan dirasakan oleh orang-orang kafir di akhirat, ketika mereka sangat mendambakan status Muslim. Ini adalah peringatan keras bahwa penyesalan di saat yang terlambat tidak akan membawa manfaat. Ayat 3 mengarahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk membiarkan orang-orang yang masih terperangkap dalam kesenangan duniawi, makan, bersenang-senang, dan terdistraksi oleh angan-angan palsu. Namun, Allah memberikan penegasan bahwa konsekuensi dari kelalaian tersebut akan segera mereka rasakan.

Pesan penting lainnya disampaikan dalam ayat 4 dan 5, yang berhubungan dengan ketetapan ilahi mengenai kehancuran umat-umat terdahulu. Allah menegaskan bahwa kehancuran suatu kaum tidak terjadi tanpa sebab atau secara sewenang-wenang; setiap kehancuran memiliki batas waktu yang telah ditetapkan dan tercatat (Kitabun Ma'lum). Tidak ada satu umat pun yang mampu mempercepat atau menunda ketetapan ajal tersebut. Hal ini menanamkan keyakinan pada pembaca bahwa semua peristiwa, baik kenikmatan maupun azab, berada dalam kerangka waktu dan rencana Allah yang sempurna.

Melanjutkan pembahasan, ayat 6 hingga 8 memberikan konteks sejarah mengenai penolakan kaum terdahulu terhadap para rasul, yang serupa dengan respons yang diterima Nabi Muhammad ﷺ. Ayat-ayat ini menggarisbawahi bahwa para pendusta terdahulu juga telah diperingatkan, namun mereka memilih untuk mengabaikannya. Kemudian, ayat 9 menegaskan bahwa Allah adalah Sang Pemberi Wahyu dan Dia sendiri yang menjaga kemurnian Al-Qur'an.

Puncak dari bagian awal surat ini terletak pada ayat 10 hingga 15, di mana fokus beralih kepada kenabian dan peran Rasulullah ﷺ. Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyampaikan salam kepada umatnya, namun juga menyinggung tentang pengutusan rasul-rasul sebelum beliau. Ayat 14 dan 15 secara dramatis menggambarkan bagaimana orang-orang kafir, meskipun melihat bukti-bukti yang jelas (seperti gunung yang kokoh), tetap memilih untuk mendustakannya, menyamakan kondisi mereka dengan orang-orang yang tertipu oleh kehidupan duniawi. Ketidakmampuan mereka melihat kebesaran Allah dalam ciptaan (ayat 15) adalah akar dari kekafiran mereka.

Secara keseluruhan, bagian awal Surat Al-Hijr ini berfungsi sebagai pondasi peringatan: Al-Qur'an adalah kebenaran yang nyata, kesenangan duniawi hanya bersifat sementara dan bisa melalaikan, serta waktu pertanggungjawaban pasti akan tiba sesuai ketetapan-Nya. Ayat-ayat ini mengajak pembaca untuk merenungkan prioritas hidup dan tidak menjadi golongan yang kelak menyesal.

🏠 Homepage