Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an, yang terdiri dari 99 ayat. Nama surat ini diambil dari kisah kaum Tsamud yang mendiami daerah Al-Hijr. Di antara ayat-ayat penuh hikmah dalam surat ini, terdapat satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam bagi umat Islam, yaitu **Surat Al-Hijr ayat 15**. Ayat ini berbunyi: "Sesungguhnya Kami telah menjadikan gunung-gunung itu dalam bentuk yang sedemikian rupa (dengan apa yang ada padanya)."
(QS. Al-Hijr: 15 - *Catatan: Ayat yang dimaksud dalam konteks tafsir seringkali merujuk pada bantahan kaum kafir atau penjelasan tentang penciptaan, namun ayat 15 Al-Hijr secara spesifik membahas tentang gunung.*)
*Koreksi terjemahan yang benar untuk Al-Hijr: 15:*
"Dan sungguh, jika Kami membukakan bagi mereka salah satu pintu dari langit, lalu mereka terus-menerus naik ke sana,"
*(Tampaknya terjadi kekeliruan umum, karena ayat 15 Al-Hijr berbicara tentang pendakian ke langit, bukan gunung secara eksplisit di ayat ini, namun ayat 19 membahas tentang bumi dan gunung. Artikel ini akan membahas konteks ayat 15 dan relevansinya dengan ayat-ayat sekitar mengenai kebesaran ciptaan).*
Meskipun ayat yang sering disalahpahami berkaitan dengan gunung adalah ayat 19, mari kita fokus pada konteks ayat 15 yang berbicara tentang tantangan orang-orang musyrik terhadap wahyu Nabi Muhammad SAW. Ayat 15 berbunyi, "Dan sungguh, jika Kami membukakan bagi mereka salah satu pintu dari langit, lalu mereka terus-menerus naik ke sana,". Ayat ini adalah respons Allah terhadap keingkaran kaum musyrik Mekkah yang terus-menerus menuntut bukti atau tanda-tanda yang mustahil. Mereka tidak hanya meminta bukti di bumi, tetapi bahkan menantang agar pintu-pintu langit dibuka dan mereka diizinkan naik untuk menyaksikannya sendiri.
Tantangan ini menunjukkan puncak kesombongan dan penolakan mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah. Mereka tidak puas dengan mukjizat yang telah disaksikan di bumi, seperti terbelahnya bulan atau Al-Qur'an itu sendiri. Mereka menginginkan sesuatu yang spektakuler, sesuatu yang berada di luar batas pemahaman dan kemampuan manusia—yaitu mendaki langit. Allah SWT menjawab tantangan tersebut dengan penegasan bahwa seandainya hal itu terjadi, mereka tetap tidak akan beriman.
Pelajaran dari Penolakan yang Mendalam
Inti dari Al-Hijr ayat 15 bukanlah sekadar deskripsi fisika langit, melainkan diagnostik mendalam terhadap penyakit hati. Ketika seseorang menutup diri dari kebenaran, tidak ada tanda-tanda fisik yang cukup untuk meyakinkannya. Jika pintu-pintu langit dibuka, dan mereka melihat malaikat atau keajaiban kosmik yang tak terbayangkan, hati yang sudah terlanjur terkunci oleh kesombongan dan hawa nafsu akan tetap mencari celah untuk mengingkari. Iman sejati bersumber dari hati yang terbuka, bukan dari tontonan semata.
Kontrasnya, setelah menjelaskan kesombongan mereka, surat ini melanjutkan ke ayat 16 dan 17, menyoroti bagaimana Allah SWT telah menciptakan keteraturan di alam semesta. Ayat 17 menegaskan, "Dan sungguh, telah Kami jadikan di langit itu gugusan bintang-bintang dan Kami perindah ia bagi orang-orang yang memandang." Ini adalah kontras tajam: sementara kaum musyrik menuntut hal yang mustahil (mendaki langit), Allah telah menempatkan keindahan dan keteraturan di langit yang bisa mereka nikmati dan renungkan setiap malam. Keindahan inilah seharusnya menjadi petunjuk, bukan sekadar objek tontonan tanpa makna spiritual.
Jika kita mengaitkannya sedikit dengan ayat 19, yang berbunyi, "Dan bumi itu telah Kami hamparkan, dan Kami pancang gunung-gunung padanya, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran tertentu," kita melihat pola dalam Al-Qur'an. Setiap kali manusia menantang atau mengingkari, Allah mengingatkan mereka tentang bagaimana Dia mengatur alam semesta dengan sempurna—dari gunung yang dipancangkan kokoh sebagai pasak bumi hingga bintang-bintang yang dihias indah di angkasa.
Oleh karena itu, perenungan terhadap Surat Al-Hijr ayat 15 memberikan pelajaran berharga: bahwa tanda-tanda kebesaran Allah SWT sudah terbentang luas di sekeliling kita, baik di bumi yang kita pijak maupun di langit yang kita pandang. Tantangan untuk membuka pintu langit adalah metafora untuk kesia-siaan mengejar bukti di luar batas kemampuan, sementara petunjuk sejati telah tersedia bagi mereka yang mau membuka hati dan pikiran mereka. Keimanan bukan tentang apa yang bisa kita lihat secara instan setelah menuntut, melainkan tentang penerimaan tulus terhadap wahyu yang telah diwahyukan.
Kesimpulannya, Al-Hijr ayat 15 menantang kita untuk mengevaluasi kualitas iman kita. Apakah kita mencari bukti yang spektakuler di luar nalar, ataukah kita menerima dan merenungkan keajaiban yang sudah diciptakan Allah di sekitar kita? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan apakah hati kita akan terbuka terhadap petunjuk-Nya.