Pendahuluan Surat Al-Hijr
Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Surat ini termasuk dalam golongan Makkiyah, yang diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Nama "Al-Hijr" (Batu Karang) diambil dari kisah kaum Nabi Shalih AS, yaitu kaum Tsamud, yang tinggal di daerah bernama Al-Hijr.
Ayat 1 hingga 99 mencakup periode penting dalam dakwah Nabi Muhammad SAW, khususnya menghadapi penolakan dari kaum Quraisy dan penguatan bagi para mukminin. Ayat-ayat ini penuh dengan penekanan terhadap kebenaran Al-Qur'an, keesaan Allah SWT, dan peringatan akan akibat bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
Teks Singkat dan Inti Pesan (Ayat 1-39)
Pembukaan surat ini langsung menegaskan kebesaran Al-Qur'an:
Ayat-ayat awal menekankan bahwa Al-Qur'an adalah penjelasan yang jelas. Kekafiran orang-orang musyrik seringkali didasari oleh keinginan untuk melihat azab datang seketika, namun Allah SWT memberikan peringatan tegas bahwa kesabaran dan pertolongan-Nya akan datang pada waktu yang telah ditentukan. Ayat 9 secara khusus menyatakan bahwa Allah SWT menurunkan Al-Qur'an dan Dia menjaganya dari kerusakan.
Kisah Nabi dan Peringatan (Ayat 40-67)
Bagian tengah surat ini menampilkan dialog antara Allah SWT dengan para nabi terdahulu. Fokus utama diarahkan pada kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Luth AS. Kisah Nabi Ibrahim AS memberikan pelajaran tentang keteguhan dalam tauhid dan keberanian dalam menghadapi tradisi menyimpang orang tuanya. Ia rela berhijrah demi mencari keridhaan Allah.
Kemudian, ayat-ayat ini mengisahkan tentang kaum Nabi Shalih AS di Al-Hijr, kaum Ashab al-Aykah, dan kaum Nabi Musa AS. Kisah-kisah ini berfungsi sebagai pengingat bahwa umat-umat terdahulu yang ingkar telah dihancurkan. Peringatan ini ditujukan kepada kaum Quraisy yang saat itu menolak keras risalah Nabi Muhammad SAW.
Keagungan Penciptaan dan Kekuasaan Allah (Ayat 68-99)
Memasuki bagian akhir dari rentang ayat ini, fokus beralih pada keajaiban ciptaan Allah SWT. Ayat 88 menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW dilarang berangan-angan seandainya kaumnya tidak beriman, karena fokus utama beliau adalah menyampaikan wahyu. Allah menegaskan bahwa kesabaran dalam berdakwah adalah kunci.
Ayat 99 menjadi penutup yang sangat penting dalam rangkaian ini, sebuah penegasan kembali akan tugas kerasulan: "Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenamnya, dan bertasbihlah pula pada malam hari dan sehabis sujud."
Ayat ini memerintahkan Rasulullah SAW untuk bersabar dalam menghadapi cemoohan dan tekanan, serta mengarahkan hati kepada dzikir dan ibadah secara teratur sepanjang hari. Ini adalah metode spiritual untuk menghadapi gangguan duniawi; menguatkan hubungan dengan Pencipta sebagai benteng pertahanan diri.
Implikasi Bagi Kehidupan Modern
Surat Al-Hijr ayat 1-99 memberikan fondasi kuat bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan di tengah tantangan zaman. Pesan utama yang dapat kita ambil meliputi:
- Keteguhan Terhadap Al-Qur'an: Mengimani bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah yang dijaga keasliannya.
- Kesabaran (Shabr): Meneladani para nabi dalam menghadapi penolakan atau kesulitan. Kesabaran bukan pasif, melainkan diiringi dengan usaha dakwah yang konsisten.
- Pentingnya Ibadah Rutin: Dzikir sebelum matahari terbit (Subuh/Dhuha) dan sebelum terbenam (Ashar/Maghrib) adalah jangkar spiritual yang membantu menjaga hati tetap fokus kepada Allah.
- Perenungan Ciptaan: Mengingat keagungan Allah melalui alam semesta mendorong rasa syukur dan keimanan.
Membaca dan merenungkan ayat-ayat ini membantu umat Islam memahami bahwa perjuangan dakwah adalah sunnatullah yang telah dilalui oleh para pendahulu, dan bahwa pertolongan Allah pasti datang bagi mereka yang teguh dan sabar dalam ketaatan.