Pemahaman Mendalam Surat Al-Hijr Ayat 10

Ilustrasi Cahaya dan Penemuan

Dalam lembaran suci Al-Qur'an, terdapat banyak ayat yang mengandung peringatan, janji, serta petunjuk bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering dibahas dalam konteks keimanan dan ketabahan adalah Surat Al-Hijr ayat 10. Ayat ini secara spesifik ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, namun maknanya memiliki relevansi universal yang mendalam bagi setiap mukmin yang menghadapi tantangan dalam menyebarkan kebenaran.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Hijr Ayat 10

وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَا أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Apakah yang diturunkan Tuhanmu?' mereka menjawab: 'Ini hanyalah dongeng-dongeng orang yang terdahulu.'"

Ayat ini menggambarkan respons sinis dan penolakan mentah-mentah dari kaum musyrikin Mekkah ketika mereka ditanya mengenai wahyu yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Mereka tidak hanya menolak kebenaran Al-Qur'an, tetapi juga merendahkannya dengan menyamakan wahyu ilahi tersebut dengan 'asātīr al-awwalīn' (dongeng atau cerita-cerita orang terdahulu).

Konteks Penolakan Kebenaran

Konteks turunnya ayat ini sangat penting untuk dipahami. Pada periode dakwah awal, tantangan terbesar Rasulullah ﷺ bukanlah hanya masalah akidah, tetapi juga resistensi sosial dan politik dari kaum Quraisy yang merasa terancam oleh pesan tauhid. Ketika mereka ditantang dengan bukti kebenaran Al-Qur'an—yang keindahan bahasanya bahkan diakui oleh mereka sendiri—mereka memilih jalur argumentasi yang paling mudah: meremehkan sumbernya.

Menganggap wahyu sebagai 'dongeng orang terdahulu' adalah sebuah strategi untuk menepis tanggung jawab intelektual dan moral. Jika Al-Qur'an dianggap hanya sebuah produk imajinasi atau kompilasi cerita lama, maka mereka tidak perlu tunduk pada perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Strategi ini seringkali digunakan oleh mereka yang enggan mengubah gaya hidup mereka yang sarat dengan tradisi menyimpang.

Bahaya Meremehkan Wahyu

Surat Al-Hijr ayat 10 menjadi peringatan keras tentang bahaya penyakit hati yang disebut kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran (kibr). Ketika hati telah tertutup, indra pendengaran dan penglihatan menjadi tumpul terhadap seruan ilahi. Mereka yang mendengar ayat-ayat yang penuh hikmah dan kejelasan, namun tetap melabelinya sebagai kebohongan atau cerita usang, sesungguhnya sedang menutup pintu rahmat bagi diri mereka sendiri.

Pernyataan "dongeng orang terdahulu" menunjukkan bahwa hati mereka telah terkunci dalam pemahaman bahwa semua pengetahuan datang dari warisan leluhur, menolak kemungkinan adanya sumber pengetahuan baru yang otentik dan lebih tinggi, yaitu Allah SWT. Ini adalah bentuk kesombongan intelektual yang menolak validitas wahyu baru hanya karena ia bertentangan dengan kebiasaan lama mereka.

Pelajaran Bagi Umat Islam Masa Kini

Meskipun ayat ini ditujukan kepada penentang Nabi ﷺ, pelajarannya tetap relevan hingga kini. Dalam setiap zaman, akan selalu ada pihak-pihak yang meremehkan ajaran Islam ketika ia mulai menantang tatanan sosial atau ideologi yang berlaku. Kadang, penolakan itu datang dalam bentuk yang lebih halus, seperti menuduh ajaran agama sebagai "ketinggalan zaman," "tidak ilmiah," atau hanya sebatas "mitos budaya."

Ayat ini mengajarkan pentingnya kesabaran (shabr) bagi para penyampai risalah. Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk tetap menyampaikan kebenaran meskipun dihadapkan pada ejekan dan tuduhan yang paling menghina. Kesabaran dalam menghadapi cacian adalah bagian integral dari misi kenabian. Ketika seseorang telah yakin dengan kebenaran yang dibawanya, respon negatif dari orang lain seharusnya tidak menggoyahkan fondasi keyakinan tersebut. Justru, reaksi keras mereka sering kali menjadi indikasi bahwa kebenaran yang disampaikan benar-benar menyentuh akar kebatilan mereka.

Lebih jauh lagi, ayat ini mendorong umat Islam untuk senantiasa mendekatkan diri kepada pemahaman yang benar tentang Al-Qur'an, sehingga ketika dihadapkan pada keraguan atau ejekan, seorang mukmin memiliki bekal ilmu yang kuat untuk membantah stereotip negatif tersebut. Ketika Al-Qur'an diperlakukan sebagai dongeng, maka ia telah kehilangan fungsinya sebagai petunjuk hidup. Tugas kita adalah mengembalikannya sebagai sumber cahaya dan hukum yang relevan sepanjang masa.

Intinya, Surat Al-Hijr ayat 10 adalah jendela yang menunjukkan bagaimana mekanisme penolakan bekerja: bukan karena bukti kurang kuat, tetapi karena keengganan hati untuk tunduk pada otoritas yang dianggap asing atau mengancam status quo. Dengan memahami konteks ini, seorang mukmin dapat menghadapi skeptisisme modern dengan ketenangan dan bekal argumen yang bersumber dari wahyu itu sendiri.

🏠 Homepage