Tafsir dan Makna Mendalam Surat Al-Hijr Ayat 15

Representasi Kesyukuran dan Pemberian Ilahi

Ayat Inti: Al-Hijr Ayat 15

لَنَجْعَلَنَّ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ
Artinya: "Sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang (atau: gugusan-gugusan di langit) dan menghiasinya bagi orang-orang yang memandang."

Konteks Penurunan Ayat

Surat Al-Hijr (Surat ke-15 dalam Al-Qur'an) turun di Mekkah, menjadikannya termasuk golongan surat Makkiyah. Surat ini banyak membahas tentang keesaan Allah, kebenaran wahyu, dan peringatan keras bagi mereka yang mendustakan rasul-rasul Allah. Ayat 15 ini muncul setelah ayat-ayat sebelumnya (ayat 10 hingga 14) yang menjelaskan penolakan kaum musyrik Quraisy terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW dan permohonan mereka agar Allah mendatangkan azab.

Ketika kaum kafir menuntut bukti kebesaran Allah atau menantang mukjizat, Allah menjawabnya bukan hanya dengan ancaman, tetapi juga dengan menunjukkan keagungan ciptaan-Nya yang jelas terlihat di alam semesta. Ayat 15 ini menjadi salah satu jawaban ilahiah atas ketidakpercayaan mereka.

Tafsir dan Pelajaran dari Ayat 15

Ayat ini mengandung dua poin utama yang sangat mendasar: penciptaan dan penghiasan. Kata "burūjan" (بُرُوجًا) secara etimologi berarti benteng, istana, atau bangunan yang tinggi dan tampak jelas. Dalam konteks astronomi, ulama tafsir umumnya mengartikannya sebagai rasi bintang atau gugusan bintang besar yang dikenal manusia sejak dahulu kala.

1. Bukti Kekuasaan dan Kebesaran Allah

Menciptakan benda-benda langit yang sangat jauh, bergerak dalam orbit yang teratur, dan berjumlah tak terhingga adalah manifestasi nyata dari kekuasaan tak terbatas (Qudrah) Allah SWT. Ayat ini mengajak manusia—terutama yang menolak—untuk merenungkan keteraturan kosmos. Tidak mungkin sistem sebesar dan seindah ini tercipta secara kebetulan.

2. Fungsi Keindahan (Perhiasan)

Ayat ini menyebutkan bahwa bintang-bintang itu "dihiasi bagi orang-orang yang memandang" (زَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ). Kata "menghiasi" (Zayyana) menunjukkan bahwa keindahan itu memiliki tujuan. Bintang-bintang bukan hanya berfungsi sebagai penunjuk arah bagi musafir di darat dan laut, tetapi juga berfungsi sebagai pemandangan indah yang menenangkan jiwa dan mengingatkan pemandangnya kepada Sang Pencipta. Keindahan kosmik ini adalah nikmat visual yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

Bagi orang yang beriman, memandang bintang-bintang adalah bentuk ibadah dan tadabbur. Mereka melihat keteraturan dan keindahan tersebut sebagai dalil yang menguatkan iman mereka, sementara bagi orang yang ingkar, keindahan itu seringkali hanya dipandang sekadar hiasan tanpa merenungkan sumbernya.

Mengapa Disebut 'Buruuj'?

Terdapat beberapa penafsiran mengenai makna 'Buruuj' dalam ayat ini:

Apapun definisinya, intinya adalah adanya elemen-elemen ciptaan yang sangat besar, teratur, dan diperindah oleh Allah semata-mata sebagai tanda kebesaran-Nya yang dapat disaksikan oleh setiap mata yang mau melihat.

Kesesuaian dengan Ayat Lain

Konsep penghiasan langit ini diperkuat oleh ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an. Misalnya, dalam Surat Al-Mulk ayat 5, Allah berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan lampu-lampu (bintang-bintang) dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat perajam bagi setan..."

Ini menunjukkan bahwa fungsi bintang tidak hanya sekadar hiasan visual yang menenangkan hati orang beriman, tetapi juga memiliki fungsi penjagaan spiritual terhadap gangguan metafisik.

Pada akhirnya, Al-Hijr ayat 15 ini merupakan pengingat kuat bahwa sebelum menuntut bukti-bukti yang supernatural, manusia seharusnya terlebih dahulu merenungkan bukti-bukti yang sudah terbentang di depan mata—yaitu langit yang penuh dengan keindahan dan keteraturan yang tak terlukiskan. Mengagumi ciptaan adalah langkah awal untuk mengenal dan mengagungkan Sang Pencipta.

🏠 Homepage