Dalam lembaran Al-Qur'an, terdapat banyak sekali ayat yang menegaskan tentang kekuasaan Allah SWT dalam mengatur segala sesuatu, termasuk sumber kehidupan dan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya. Salah satu ayat yang menyoroti aspek pemeliharaan ini adalah yang terdapat dalam Surat Al-Hijr, yaitu ayat ke-20.
Surat Al-Hijr (yang berarti Gunung Batu) adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an. Ayat 20 ini berbicara secara eksplisit mengenai anugerah Allah dalam menyediakan sarana penghidupan (ma'āyisya) bagi manusia di muka bumi. Ayat ini sering dibahas bersamaan dengan ayat-ayat sebelumnya yang membicarakan tentang penciptaan bumi dan penataan alam semesta oleh Allah SWT.
Kata kunci utama dalam ayat ini adalah "ma'āyisya", yang berarti cara-cara penghidupan atau sumber rezeki. Ini mencakup segala sesuatu yang menopang keberlangsungan hidup manusia: air, udara, tanah yang subur, hewan ternak, tumbuhan, hingga kesempatan untuk bekerja dan berdagang. Allah SWT menunjukkan keagungan-Nya bukan hanya sebagai Pencipta, tetapi juga sebagai Pemelihara Agung.
Bagian kedua dari ayat ini memberikan pelajaran tauhid yang sangat mendalam: "...dan (Kami ciptakan pula rezeki) bagi mereka yang kamu sekali-kali bukanlah pemberi rezeki kepadanya."
Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab memberikan rezeki tidak hanya terbatas pada manusia yang membutuhkan. Allah mengingatkan kita bahwa ada banyak makhluk lain—hewan, tumbuhan, dan bahkan generasi manusia yang belum lahir—yang rezekinya juga telah dijamin oleh Sang Pencipta. Manusia mungkin merasa bahwa mereka adalah pengelola utama sumber daya, tetapi pada hakikatnya, manusia hanyalah perantara.
Sebagai contoh, seorang petani menanam padi. Petani tersebut berusaha keras, namun hasil panennya sangat bergantung pada hujan yang dikendalikan Allah, kualitas tanah yang dikelola oleh proses alamiah Allah, dan sistem ekologi yang Allah sediakan. Lebih jauh lagi, banyak hewan liar yang hidup di hutan atau di lautan lepas yang rezekinya tidak pernah bersinggungan dengan tangan manusia, namun mereka tetap hidup karena jaminan ilahi.
Memahami Al-Hijr ayat 20 memberikan beberapa pelajaran penting bagi kehidupan seorang Muslim:
Ketika kita yakin bahwa Allah adalah Ar-Razzāq (Maha Pemberi Rezeki) yang meliputi segala makhluk, rasa khawatir berlebihan mengenai esok hari akan berkurang. Tugas kita adalah berusaha (ikhtiar) dengan cara yang diridhai-Nya, sementara hasilnya adalah ketetapan dari Allah. Ayat ini mendorong tawakal yang sejati.
Ayat ini mengajarkan bahwa keberadaan makhluk lain—sekecil apapun—memiliki nilai di mata Allah karena mereka semua menerima rezeki-Nya. Hal ini menumbuhkan rasa empati dan tanggung jawab ekologis. Kerusakan lingkungan yang kita lakukan secara tidak langsung dapat mengganggu sistem rezeki yang telah Allah atur.
Kita diingatkan bahwa segala kekayaan dan sarana penghidupan yang kita miliki sejatinya adalah titipan. Kita tidak berhak menyombongkan diri atau merasa bahwa rezeki orang lain bergantung pada kemurahan hati kita. Realitas bahwa Allah memberi makan bagi mereka yang kita tidak mampu memberinya adalah pengingat akan keterbatasan kemampuan manusia.
Dengan merenungkan makna Surat Al-Hijr ayat 20, seorang mukmin diingatkan bahwa kehidupan di dunia ini adalah sebuah sistem yang sangat terintegrasi dan dikelola dengan sempurna oleh Sang Maha Kuasa. Setiap nafas, setiap tetes air, dan setiap butir makanan adalah bukti nyata dari janji pemeliharaan-Nya yang abadi.
Oleh karena itu, mari kita jadikan ayat ini sebagai pegangan agar selalu bersyukur atas segala sarana penghidupan yang telah disediakan, sambil terus berupaya menjadi bagian dari sistem kebaikan yang Allah ciptakan di muka bumi.