Visualisasi Konsep Keseimbangan Pemberian
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
"Dan tidak ada suatu pun melainkan (padanya) terdapat perbendaharaan (kuasa) Kami, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu."Surat Al Hijr, ayat ke-21, adalah salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang secara tegas menancapkan pilar utama ajaran Islam: Tauhid Rububiyyah, yaitu keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Pengatur, Pencipta, dan Pemilik segala sesuatu. Ayat ini berbicara tentang kekuasaan absolut Allah dalam mengelola sumber daya alam semesta. Frasa kunci "وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ" (dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu) memberikan pelajaran mendalam tentang keteraturan dan hikmah ilahiah dalam setiap aspek kehidupan.
Ayat ini membantah anggapan bahwa rezeki atau apapun yang ada di bumi ini bersifat acak atau dikelola oleh kekuatan lain selain Allah. Setiap tetes hujan, setiap biji yang tumbuh, bahkan setiap nafas kehidupan, semuanya berada dalam kendali dan perbendaharaan-Nya. Perbendaharaan Allah (خَزَائِنُهُ) bukanlah tumpukan emas atau harta benda seperti yang dipahami manusia, melainkan manifestasi dari kekuasaan-Nya yang tak terbatas.
Para mufassir menjelaskan bahwa "perbendaharaan" di sini mencakup segala sesuatu yang dibutuhkan makhluk hidup. Ini meliputi air, udara, mineral, energi, hingga rezeki yang sifatnya spiritual. Ketika Allah menyatakan bahwa perbendaharaan itu ada pada-Nya, ini mengandung dua makna utama:
Pernyataan ini menjadi penenang bagi orang-orang beriman yang mungkin menghadapi kesulitan ekonomi atau kelangkaan. Mereka diingatkan bahwa sumber solusi dan pertolongan berada di tangan Pemilik alam semesta, yang tidak pernah kehabisan sumber daya.
Bagian kedua ayat, tentang penurunan yang 'terukur', adalah inti dari pelajaran tentang kebijaksanaan (hikmah). Rezeki tidak diturunkan secara membabi buta. Ada perhitungan yang sangat teliti di baliknya. Sebagai contoh, curah hujan di suatu wilayah diukur sedemikian rupa agar tidak menyebabkan banjir bandang, tetapi cukup untuk menumbuhkan tanaman. Jika hujan turun tanpa batas, bumi akan hancur; jika tidak ada hujan sama sekali, kehidupan akan terhenti.
Ketetapan ukuran ini juga berlaku pada ujian dan cobaan hidup. Allah tidak akan membebani seseorang melampaui batas kemampuannya. Pemahaman terhadap Surat Al Hijr ayat 21 mendorong seorang Muslim untuk bersikap tawakal yang benar, yaitu berserah diri setelah berusaha maksimal, sambil meyakini bahwa setiap hasil yang didapat—baik banyak maupun sedikit—adalah hasil dari ketetapan yang terbaik dari sisi hikmah ilahiah. Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana sempurna Allah yang telah ditetapkan sejak azali.
Bagi umat Islam, ayat ini memiliki implikasi praktis yang besar. Pertama, ia menumbuhkan rasa syukur (syukur) karena segala yang kita nikmati adalah titipan dari sumber yang tak terbatas. Kedua, ia mengajarkan sikap sederhana dan qana'ah (menerima apa adanya), karena kita menyadari bahwa kekayaan sejati bukanlah penimbunan duniawi, melainkan kedekatan dengan Sang Pemberi. Jika Allah telah menetapkan ukuran rezeki kita, maka mengejar dunia melebihi batas yang ditetapkan hanya akan menimbulkan kegelisahan dan kepenatan yang sia-sia. Fokus seharusnya adalah bagaimana mengelola amanah tersebut dengan baik sesuai dengan tuntunan-Nya.