Orang-orang yang kafir itu seringkali (suatu saat) mengharapkan seandainya mereka dahulu adalah orang-orang yang berserah diri (muslim).
Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an, yang terdiri dari 99 ayat. Ayat ketiga, yang menjadi fokus pembahasan ini, menyimpan pelajaran mendalam tentang konsekuensi dari kekafiran dan penolakan terhadap kebenaran. Ayat ini berbunyi, "Orang-orang yang kafir itu seringkali (suatu saat) mengharapkan seandainya mereka dahulu adalah orang-orang yang berserah diri (muslim)."
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "رُّبَمَا" (rubamā), yang sering diterjemahkan sebagai "seringkali" atau "betapa seringnya." Ini menunjukkan bahwa penyesalan tersebut bukanlah penyesalan sesaat, melainkan sebuah keinginan yang berulang dan mendalam yang akan mereka rasakan. Ayat ini tidak berbicara tentang kondisi mereka saat masih hidup di dunia dan menolak seruan tauhid, melainkan tentang keadaan mereka ketika mereka menghadapi kebenaran yang tak terbantahkan, yaitu saat datangnya azab atau di Hari Kiamat.
Mengapa orang kafir akan mengharapkan untuk menjadi muslim? Karena mereka menyaksikan realitas yang dijanjikan oleh para nabi dan rasul, realitas tentang kebenaran ajaran Islam, yang sebelumnya mereka tolak dengan kesombongan atau kekufuran. Di hadapan perhitungan Allah, segala bentuk kesombongan duniawi akan sirna. Mereka menyadari bahwa jalan kepatuhan (Islam) adalah jalan keselamatan, sementara jalan penolakan (kufr) adalah jalan kerugian abadi.
Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi kaum muslimin yang mungkin masih goyah dalam keimanannya, atau bagi mereka yang bergaul dengan kaum yang ingkar. Pesan tersiratnya adalah: jangan sampai kita berada di posisi penyesalan tersebut. Iman dan ketundukan kepada Allah SWT haruslah menjadi pilihan sadar saat kita masih memiliki kesempatan untuk beramal, bukan hanya menjadi harapan kosong ketika kesempatan telah tertutup.
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita melihat betapa banyak orang yang mengejar kesenangan sesaat, kekayaan materi, atau mengikuti hawa nafsu, sambil mengabaikan perintah agama. Mereka mungkin menganggap bahwa kepatuhan kepada Allah adalah hal yang membatasi kebebasan mereka. Namun, Al-Hijr ayat 3 menegaskan bahwa kebebasan sejati terletak pada penyerahan diri kepada Pencipta.
Perbandingan yang bisa ditarik adalah dengan seorang pedagang yang menolak tawaran emas karena mengira itu adalah batu biasa. Ketika ia menyadari nilai emas tersebut setelah kesempatan menjualnya hilang, penyesalannya tak terhingga. Begitu pula dengan orang kafir; mereka menolak "emas" kebahagiaan abadi (Islam) karena tertipu oleh "batu" kenikmatan dunia yang fana.
Ayat ini juga menyoroti pentingnya istiqomah (konsistensi) dalam memegang teguh akidah. Iman yang diucapkan di lisan namun tidak diwujudkan dalam amal, atau iman yang mudah goyah ketika dihadapkan pada cobaan, dapat menjerumuskan seseorang pada penyesalan di akhirat. Pilihan untuk menjadi muslim—yaitu tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah—adalah pilihan yang harus diteguhkan setiap hari.
Penegasan Allah dalam ayat ini menunjukkan kepastian takdir dan keadilan-Nya. Allah memberitakan apa yang akan terjadi pada mereka yang memilih jalan yang berbeda. Ini bukanlah ancaman kosong, melainkan deskripsi dari kondisi batiniah mereka kelak. Dengan demikian, Al-Hijr ayat 3 menjadi penguat motivasi bagi umat Islam untuk bersyukur atas nikmat hidayah dan memperkuat pijakan mereka di atas jalan yang lurus, sebelum terlambat untuk berharap menjadi "muslim".
Kesimpulannya, Surat Al-Hijr ayat 3 adalah cermin bagi kita. Ia memaksa kita untuk merenungkan pilihan hidup kita saat ini. Apakah kita akan menjadi golongan yang menyesal di kemudian hari, ataukah kita memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk mengamalkan makna sejati dari penyerahan diri kepada Allah SWT? Hanya dengan kesadaran penuh atas konsekuensi akhir dari setiap pilihan, kita dapat hidup dengan tujuan yang benar.