Tafsir dan Pesan Moral Surat Al-Hijr Ayat 39

A'udzu Ilustrasi manusia memohon perlindungan dari godaan

قَالَ هَٰذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ

(Allah) berfirman: "Inilah jalan (agama-Ku) yang lurus, yang Aku wajibkan kepada-Ku."

Konteks Ayat dan Janji Ilahi

Surat Al-Hijr ayat 39 merupakan bagian dari dialog panjang antara Allah SWT dengan Iblis (Syaitan) mengenai penolakan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Setelah Iblis bersumpah untuk menyesatkan seluruh keturunan Adam, ayat ini menjadi jawaban tegas dan penegasan dari Allah SWT. Ayat ini mengandung inti janji dan ketegasan Allah mengenai jalan kebenaran yang telah ditetapkan-Nya.

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "هَٰذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ" (Inilah jalan-Ku yang lurus). Kata "Shirat" (jalan) di sini merujuk pada agama Islam, syariat, dan hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah. Penegasan bahwa jalan itu lurus menunjukkan bahwa ajaran Islam adalah jalan yang paling benar, tidak bengkok, tidak menyesatkan, dan pasti membawa pelakunya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Makna "Wajib Kepada-Ku"

Bagian kedua ayat, "عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ" (yang Aku wajibkan kepada-Ku), sering ditafsirkan sebagai penegasan bahwa jalan ini adalah janji dan ketetapan Allah yang tidak akan pernah berubah atau dibatalkan. Meskipun kata "wajib" dalam konteks manusia berarti harus dipenuhi karena adanya tekanan atau hukum, dalam konteks Allah SWT, ini mengandung makna ketegasan mutlak dan kepastian bahwa jalan ini adalah ketetapan-Nya yang pasti akan terlaksana dan dibela. Ini adalah jaminan dari Sang Pencipta bahwa siapa pun yang mengikuti jalan lurus ini, ia berada di jalur yang aman dari kesesatan abadi yang ditawarkan Iblis.

Ini memberikan ketenangan luar biasa bagi setiap Muslim. Di tengah derasnya godaan dan beragamnya jalan kesesatan yang ditawarkan oleh Iblis (sebagaimana yang ia janjikan), Allah menegaskan adanya satu jalur tunggal yang terjamin kebenarannya. Jalan ini mencakup tauhid (mengesakan Allah), kepatuhan pada perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

Kewajiban Umat dalam Menghadapi Jalan Lurus

Ayat ini bukan sekadar informasi, melainkan panggilan untuk konsistensi. Setelah Allah menetapkan jalan lurus itu, tanggung jawab beralih kepada manusia. Rasulullah ﷺ dalam banyak hadis menekankan pentingnya berpegang teguh pada sunnah dan Al-Qur'an agar tidak terjerumus ke jalan lain. Jalan lurus ini memerlukan usaha keras (jihadun nafs) untuk melaluinya, sebab Iblis telah bersumpah untuk menghalangi setiap langkah.

Melalui surat Al-Hijr ayat 39, kita diingatkan bahwa tantangan utama dalam beragama bukanlah datang dari luar semata, tetapi dari upaya menggoyahkan keyakinan kita terhadap kebenaran jalan yang sudah ditetapkan. Oleh karena itu, konsistensi dalam ibadah, memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam, dan selalu memohon perlindungan kepada Allah adalah benteng terkuat kita.

Implikasi Spiritual dalam Kehidupan Sehari-hari

Secara praktis, memahami ayat ini mendorong kita untuk selalu melakukan evaluasi diri (muhasabah). Apakah perilaku, keputusan, dan tujuan hidup kita selaras dengan "jalan lurus" yang ditetapkan Allah? Jika godaan duniawi mulai menarik kita ke jalan yang menyimpang, ayat ini berfungsi sebagai pengingat keras bahwa jalan tersebut bukanlah jalan yang diridai oleh-Nya.

Ayat ini menguatkan semangat para pejuang kebenaran. Meskipun jalan kebenaran terkadang sempit, sepi, atau penuh kesulitan (karena dihadang Iblis dan pengikutnya), kepastian bahwa jalan itu adalah jalan Allah yang lurus dan telah ditentukan memberikan motivasi tak terbatas. Kesetiaan kita pada syariat adalah bukti bahwa kita memilih untuk berjalan di atas janji dan jaminan dari Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, surat Al-Hijr ayat 39 menjadi tiang penopang akidah dalam menghadapi upaya penyesatan yang terencana oleh musuh bebuyutan manusia.

🏠 Homepage