Menggali Hikmah: Surat Al-Hijr Ayat 43 dan 44

Jalan Kebenaran Akhirat Ilustrasi dua pilar tegak lurus yang melambangkan keteguhan janji Allah, dihubungkan oleh sebuah garis melengkung menuju tujuan.

Surat Al-Hijr (15): 43-44

لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
43. "Tempat mereka di dalamnya ialah Jahannam, dan mereka tidak akan mendapat jalan keluar daripadanya."
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ
44. "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa (berada) dalam tempat yang aman."

Konteks dan Kedalaman Makna

Dua ayat yang berurutan ini, yaitu ayat 43 dan 44 dari Surat Al-Hijr, menyajikan kontras yang sangat tajam mengenai konsekuensi akhir dari pilihan hidup manusia di dunia. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat tegas mengenai adanya dua tempat peristirahatan abadi: tempat bagi mereka yang mendustakan dan tempat bagi mereka yang bertakwa.

Kontras Peringatan (Ayat 43)

Ayat 43 berbicara mengenai nasib orang-orang yang menolak kebenaran dan enggan beriman kepada risalah Allah. Lafaz "لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ" (Tempat mereka di dalamnya ialah Jahannam) seringkali disalahpahami. Beberapa ulama menafsirkannya sebagai ironi; mereka akan mendapatkan apa yang "mereka inginkan" dari penderitaan dan siksaan, atau mungkin mereka akan mendapatkan apa yang telah dijanjikan kepada mereka (yaitu neraka). Namun, yang lebih menonjol adalah penekanan pada sifat abadi dari azab tersebut: "وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ" (dan mereka tidak akan mendapat jalan keluar daripadanya). Kata "مَزِيدٌ" di sini bermakna tambahan atau berkelanjutan. Ini menggarisbawahi bahwa siksaan di neraka tidak berhenti; ia terus bertambah dan tidak ada kesempatan kedua untuk keluar. Ini adalah peringatan keras tentang bahaya kesombongan dan penolakan terhadap petunjuk ilahi.

Janji Penghargaan (Ayat 44)

Setelah menyajikan gambaran mengerikan tentang Jahannam, Allah SWT segera membalikkan narasi dengan janji kemuliaan bagi para hamba-Nya yang saleh dalam ayat 44: "إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ" (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa (berada) dalam tempat yang aman).

Kata kunci di sini adalah "الْمُتَّقِينَ" (orang-orang yang bertakwa), yaitu mereka yang takut kepada Allah dan berusaha menjaga diri dari maksiat dengan menjalankan perintah-Nya. Tempat mereka digambarkan sebagai "مَقَامٍ أَمِينٍ" (tempat yang aman). Keamanan ini mencakup berbagai aspek:

  1. Keamanan dari Bencana: Tidak ada lagi sakit, kesedihan, atau kematian.
  2. Keamanan dari Godaan: Tidak ada lagi bisikan setan atau hawa nafsu yang menyesatkan.
  3. Keamanan Kekal: Berbeda dengan neraka yang siksaannya "berlanjut", tempat orang bertakwa adalah tempat yang keamanannya permanen dan tidak akan pernah hilang.

Refleksi Spiritual

Keseimbangan antara ketakutan (Al-Khauf) dan harapan (Ar-Rajaa') adalah prinsip utama dalam tauhid. Surat Al-Hijr ayat 43 dan 44 secara efektif menyeimbangkan kedua prinsip ini. Ayat 43 menimbulkan rasa takut yang mendorong kita untuk menjauhi dosa dan kemaksiatan, sementara ayat 44 memberikan harapan yang memotivasi kita untuk beramal saleh dan menjaga ketakwaan.

Ketakwaan (taqwa) bukan sekadar ritual, melainkan komitmen seumur hidup untuk selalu waspada terhadap murka Allah. Keamanan abadi di surga adalah hasil logis dari kesadaran konstan (muraqabah) terhadap kehadiran dan pengawasan Allah saat menjalani kehidupan di dunia. Ketika seseorang memilih jalan kesalehan, ia sedang membangun benteng keamanan dirinya sendiri, yang puncaknya adalah "Maqam Amin" di sisi Tuhan, sebuah tempat yang tidak pernah bisa dijangkau oleh ketakutan duniawi sedikit pun.

Oleh karena itu, perenungan atas kedua ayat ini harus mendorong kita untuk meninjau kembali prioritas hidup: apakah kita sedang meniti jalan yang menjanjikan tempat tinggal yang aman dan kekal, ataukah kita sedang menuju tempat di mana siksaan tidak berkesudahan? Jawabannya terletak pada kualitas ketakwaan yang kita pupuk hari ini.

🏠 Homepage