Surat Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran penting mengenai kisah para nabi, kebesaran Allah, serta peringatan bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan terkait dengan kisah kaum Nabi Shalih adalah **Surat Al Hijr ayat 80**.
وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ
Wa laqad kadhdhaba aṣḥābul Ḥijri al-mursalīnDan sesungguhnya telah didustakan, penduduk Hijr (kaum Tsamud) para rasul.
Ayat ini pendek namun sangat padat maknanya. Ayat ini merujuk kepada kaum Tsamud, kaum yang diutus kepada mereka Nabi Shalih AS, dan mereka mendiami wilayah yang dikenal sebagai Al-Hijr.
Untuk memahami kedalaman ayat ini, kita perlu melihat konteks sejarah kaum Tsamud. Kaum Tsamud adalah peradaban kuat yang hidup di daerah pegunungan Hijr (sekarang dikenal sebagai Mada'in Shalih di Arab Saudi). Mereka dikenal memiliki kemampuan arsitektur yang luar biasa, mampu memahat rumah-rumah mewah mereka langsung dari batu karang.
Allah SWT mengutus Nabi Shalih AS kepada mereka untuk mengajak mereka meninggalkan kemusyrikan dan menyembah Allah semata. Namun, alih-alih menerima dakwah yang penuh hikmah tersebut, kaum Tsamud justru menunjukkan sikap menantang dan menolak. Ayat 80 menegaskan penolakan kolektif ini: "penduduk Hijr (kaum Tsamud) para rasul telah didustakan."
Kata "al-mursalīn" (para rasul) di sini menyiratkan bahwa mereka tidak hanya menolak satu utusan (Nabi Shalih), tetapi juga menolak semua risalah kenabian yang datang sebelumnya, atau menunjukkan bahwa penolakan mereka terhadap kebenaran adalah pola perilaku yang sudah mengakar, seolah-olah mereka telah berulang kali menolak utusan-utusan Allah.
Pendustaan terhadap para rasul adalah dosa besar yang paling fatal dalam pandangan Islam. Hal ini menunjukkan kesombongan luar biasa, di mana manusia merasa lebih pintar atau lebih benar daripada wahyu yang dibawa oleh Nabi yang diutus oleh Sang Pencipta. Allah SWT dalam ayat-ayat sebelum dan sesudahnya dalam Surat Al-Hijr telah memberikan peringatan keras mengenai azab bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
Dalam ayat-ayat lain (seperti Al-Hijr ayat 83 dan seterusnya), disebutkan bahwa azab Allah pasti datang sebagai akibat dari kekufuran dan penolakan tersebut. Kisah kaum Tsamud menjadi teladan abadi bahwa kemajuan teknologi atau kekayaan materi tidak akan menyelamatkan mereka dari pertanggungjawaban jika mereka berpaling dari jalan petunjuk Ilahi.
Meskipun menghadapi penolakan keras, termasuk tuntutan mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu (yang kemudian mereka sembelih sebagai bentuk pembangkangan), Nabi Shalih AS menunjukkan kesabaran yang luar biasa dalam menyampaikan risalah. Surat Al Hijr ayat 80 ini berfungsi sebagai penegasan dari Allah bahwa meskipun kaum tersebut keras kepala, perjuangan para rasul tetap dicatat dan diakui oleh Allah.
Pelajaran bagi umat Islam hari ini adalah bahwa dalam menyampaikan kebenaran, kita mungkin akan menghadapi penolakan dan cemoohan. Namun, keteguhan kaum Tsamud dalam kekafiran dan penolakan mereka menjadi pelajaran penting bahwa kegagalan mengikuti petunjuk akan berujung pada kehancuran, sekuat apapun peradaban yang mereka bangun.
Surat Al Hijr memang banyak membahas kisah kaum yang dihancurkan karena mendustakan rasul, seperti kaum Nabi Nuh, Kaum Nabi Luth, dan tentu saja kaum Tsamud. Ayat 80 ini menyatukan narasi tersebut, menunjukkan pola umum penolakan manusia terhadap wahyu. Ketika sebuah masyarakat menjadi arogan dengan pencapaian duniawinya, kecenderungan untuk menolak kebenaran yang merendahkan ego mereka akan semakin kuat. Al-Hijr ayat 80 adalah ringkasan historis dari ketidaktaatan tersebut.
Mempelajari ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya bersyukur atas kenikmatan Islam dan selalu waspada agar tidak terperosok dalam kesombongan yang sama yang menimpa penduduk Hijr.