Bagian awal dari rentetan ayat ini, mulai dari Surat Al Hijr ayat 81, mengisahkan nasib kaum Tsamud, sebuah kaum yang terkenal karena keahlian mereka dalam memahat batu. Allah SWT telah memberikan mereka banyak mukjizat dan tanda-tanda keesaan-Nya, namun seperti umat-umat sebelumnya yang durhaka, mereka memilih untuk berpaling (I'radh).
Ayat 82 menyoroti ironi keadaan mereka: "Dan mereka memahat rumah-rumah di gunung-gunung sebagai orang-orang yang aman." Mereka merasa begitu aman dan perkasa di dalam benteng-benteng batu buatan tangan mereka sendiri, seolah-olah kekuatan fisik dan kecerdasan mereka mampu menolak takdir ilahi. Namun, keamanan sejati hanya datang dari ketaatan kepada Allah.
Puncak dari kesombongan mereka berakhir tiba-tiba. Pada Surat Al Hijr ayat 83, Allah menjelaskan bahwa azab datang dalam bentuk "suara yang menggelegar" (As-Sayhah) pada waktu pagi hari. Bencana alam yang dahsyat ini melenyapkan mereka beserta seluruh hasil karya mereka, membuktikan bahwa apa pun yang mereka kumpulkan ("apa yang telah mereka usahakan") tidak mampu menyelamatkan mereka dari ketetapan Allah.
Setelah menjelaskan siksa kaum Tsamud, ayat 85 membawa pembacaan ke cakrawala kosmik. Allah menegaskan bahwa penciptaan langit, bumi, dan segala isinya bukanlah permainan atau tanpa tujuan, melainkan "dengan tujuan yang benar" (Al-Hijr ayat 85). Keteraturan alam semesta ini adalah bukti nyata keagungan Sang Pencipta.
Ayat ini kemudian memberikan perintah penting kepada Nabi Muhammad SAW: "Maka berikanlah maaf yang sebaik-baiknya." Hal ini sering ditafsirkan sebagai perintah untuk bersabar dan berlapang dada terhadap penolakan kaum Quraisy, sekaligus menjadi penegasan bahwa kendali akhir ada di tangan Allah, Sang Pencipta.
Ayat 87 menegaskan keistimewaan yang diberikan kepada Rasulullah SAW: Tujuh ayat yang berulang (merujuk pada Surah Al-Fatihah) dan Al-Qur'an yang Agung. Ini adalah karunia terbesar yang melampaui segala kemewahan duniawi yang dimiliki oleh orang-orang kafir.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nabi untuk tidak iri hati atau bersedih terhadap kekayaan duniawi yang dinikmati oleh orang-orang musyrik (ayat 88). Sebaliknya, Nabi diperintahkan untuk merendahkan diri dan berlaku lembut kepada orang-orang yang beriman ('rendahkanlah sayapmu bagi orang-orang yang beriman').
Penutup ayat ini menegaskan peran kenabiannya sebagai pemberi peringatan yang jelas, yang tugasnya sama seperti para pemberi peringatan terdahulu yang diutus kepada umat-umat yang saling memecah belah dan menyimpang dari ajaran murni, seperti yang diisyaratkan dalam Al-Hijr ayat 90. Totalitas ayat 81 hingga 90 memberikan pelajaran tentang konsekuensi kedurhakaan, kepastian hari kiamat, dan panduan moral bagi seorang pemimpin agama dalam menghadapi tantangan dakwah.