Memahami Janji Allah: Tafsir Surat Al-Hijr Ayat 91

Keseimbangan & Janji

Ilustrasi Keseimbangan dan Ketetapan Ilahi.

Latar Belakang Ayat

Surat Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah, kekuasaan-Nya dalam menciptakan, dan peringatan tegas bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya. Di antara ayat-ayat yang mengandung peringatan keras dan penegasan pertanggungjawaban, terdapat satu ayat yang sangat menyoroti konsekuensi dari perbuatan manusia di dunia, yaitu Surat Al-Hijr ayat 91.

Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa perbuatan sekecil apapun, baik atau buruk, tidak akan luput dari perhitungan Allah SWT. Ayat ini sering kali dikutip dalam konteks mengingatkan umat Islam tentang pentingnya menjaga integritas dan amanah, karena setiap perpecahan atau pengkhianatan akan dimintai pertanggungjawaban penuh di akhirat.

Teks Surat Al-Hijr Ayat 91

الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ
(Yaitu) orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an itu terpecah-pecah (dipermainkan).

Secara harfiah, kata "عِضِينَ" (ʿiḍīn) berasal dari kata "أَعْضَاء" (a'dhaa') yang berarti anggota badan, namun dalam konteks ayat ini, ia merujuk pada perpecahan, pembagian, atau memperlakukan sesuatu secara parsial dan tidak utuh.

Penjelasan dan Tafsir Mendalam

Makna dari Al-Hijr ayat 91 ini sangat krusial dalam memahami bagaimana umat terdahulu (dan bahkan kontemporer) memandang Kitab Suci. Para mufasir menjelaskan bahwa menjadikan Al-Qur'an "terpecah-pecah" memiliki beberapa tingkatan penafsiran yang saling melengkapi:

1. Mengimani Sebagian dan Mengingkari Sebagian

Ini adalah penafsiran yang paling umum. Mereka yang berbuat demikian adalah orang-orang yang menerima ayat-ayat Al-Qur'an yang sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan mereka, namun mereka menolak, mengabaikan, atau menafsirkan secara menyimpang ayat-ayat yang dianggap memberatkan atau bertentangan dengan tradisi buruk mereka. Seolah-olah mereka mengambil "anggota tubuh" dari Al-Qur'an, lalu membuang bagian lainnya. Mereka tidak mengimani Al-Qur'an sebagai satu kesatuan hukum dan pedoman hidup yang utuh.

2. Menjadikan Al-Qur'an Bahan Permainan (Huzuw)

Penafsiran lain menyebutkan bahwa mereka memperlakukan Al-Qur'an layaknya mainan atau bahan hiburan semata, bukan sebagai pedoman hidup yang sakral dan serius. Mereka mungkin membacanya dengan nada yang indah tanpa memahami maknanya, menjadikannya mantra tanpa mengamalkan isinya, atau menggunakannya untuk tujuan duniawi yang tidak mulia.

3. Memecah Belah Umat karena Al-Qur'an

Beberapa ulama menafsirkan bahwa mereka memecah belah umat Islam berdasarkan interpretasi Al-Qur'an yang dangkal dan cenderung fanatik pada kelompoknya sendiri, menyebabkan perpecahan ideologi dan perpecahan fisik di antara barisan kaum mukminin. Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa tujuan diturunkannya Al-Qur'an adalah untuk menyatukan, bukan untuk menciptakan perpecahan baru.

Konsekuensi dan Peringatan Ayat Berikutnya

Penting untuk membaca ayat 91 dalam konteks ayat-ayat setelahnya. Jika ayat 91 menjelaskan *apa* perbuatan mereka, maka ayat-ayat selanjutnya menjelaskan *konsekuensi* dari perbuatan tersebut. Ayat 92 dan 93 secara tegas bersumpah demi Tuhan mereka bahwa mereka pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka memecah-belah dan menyimpang dari ajaran Al-Qur'an.

Ini menegaskan bahwa Allah SWT sangat serius dalam menjaga kemurnian petunjuk-Nya. Kegagalan untuk menerima Al-Qur'an secara totalitas—baik dari sisi akidah, syariat, maupun akhlak—adalah sebuah pengkhianatan besar terhadap perjanjian (misyak) yang telah diambil antara Allah dan hamba-Nya. Setiap Muslim dituntut untuk melihat Al-Qur'an sebagai satu bangunan kokoh, di mana satu batu bata yang dicabut akan merusak keseluruhan struktur.

Relevansi Kontemporer

Di era informasi saat ini, tantangan untuk menjaga keutuhan Al-Qur'an semakin kompleks. Dengan mudahnya akses terhadap berbagai tafsir yang saling bertentangan, tantangan bagi umat Islam adalah kembali kepada metodologi penafsiran yang benar, berdasarkan prinsip Ahli Sunnah Wal Jama'ah, dan tidak terjebak dalam penafsiran yang hanya melayani ideologi sesaat. Al-Hijr ayat 91 adalah pengingat abadi bahwa Al-Qur'an harus diterima sebagai kitab petunjuk yang menyeluruh, tanpa pilih kasih.

Umat harus waspada terhadap kelompok-kelompok yang berusaha mendistorsi makna ayat-ayat yang berkaitan dengan keadilan sosial, ketertiban hukum, atau akidah fundamental hanya demi kepentingan politik atau sosial mereka. Konsistensi dalam menjalankan seluruh isi Al-Qur'an adalah bukti keimanan yang sesungguhnya, berbeda dengan mereka yang hanya mengambil "potongan-potongan" yang menguntungkan mereka.

🏠 Homepage