Ilustrasi pesan Ilahi
Artinya: Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan termasuklah orang-orang yang bersujud.
Artinya: Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu (ajal) yang pasti datang.
Dua ayat terakhir dari Surat Al-Hijr (ayat 94 dan 95) menutup surah ini dengan sebuah pesan penting dan abadi yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, namun mengandung pelajaran universal bagi seluruh umat Islam. Ayat-ayat ini menekankan pentingnya kesinambungan ibadah, ketulusan, dan kesabaran dalam menghadapi tugas kenabian serta tekanan dari kaum yang menentang.
Ayat 94, "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan termasuklah orang-orang yang bersujud," merupakan perintah langsung untuk melakukan dua bentuk ibadah utama: Tasbih (menyucikan Allah dari segala kekurangan) dan Tahmid (memuji Allah atas segala nikmat-Nya), yang kemudian ditutup dengan perintah untuk bersujud. Sujud adalah puncak kerendahan hati seorang hamba di hadapan Penciptanya. Dalam konteks kenabian, perintah ini menegaskan bahwa meskipun menghadapi penolakan keras, Nabi harus tetap teguh dalam ketaatan dan penyerahan diri total kepada Allah.
Tafsir Ibnu Katsir dan para mufasir lainnya seringkali menyoroti bahwa perintah ini menjadi penguatan spiritual bagi Nabi Muhammad setelah Allah menceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang diazab karena mendustakan ayat-ayat-Nya. Ketika manusia lain berbuat salah, Rasul diperintahkan untuk kembali kepada sumber kekuatan: ibadah yang murni. Tasbih dan sujud adalah benteng spiritual yang menjauhkan dari keputusasaan dan kegelisahan.
Ayat 95 memberikan penekanan lebih lanjut pada konsistensi ibadah: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu (ajal) yang pasti datang." Kata Yaqin (yang pasti datang) dalam konteks ini secara luas dipahami sebagai kematian atau saat seseorang mencapai akhir masa hidupnya di dunia.
Pesan dalam ayat ini sangat fundamental. Ibadah bukanlah aktivitas musiman atau hanya dilakukan saat sedang lapang. Ia harus menjadi gaya hidup yang berkelanjutan, sebuah komitmen abadi yang tidak terputus hingga ruh meninggalkan jasad. Ini adalah pelajaran tentang keikhlasan sejati—ibadah yang dilakukan bukan untuk mengharapkan imbalan cepat atau pujian manusia, melainkan karena memang itulah tujuan keberadaan kita di bumi. Selama napas masih berhembus, kewajiban untuk tunduk dan menyembah Allah SWT tetap berlaku.
Surat Al-Hijr, yang kisahnya banyak membahas tentang penciptaan Adam, kesombongan Iblis, hingga kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Luth, diakhiri dengan instruksi tegas mengenai perilaku seorang Rasul dan pengikutnya. Setelah semua peringatan dan kisah-kisah tersebut, kesimpulan logisnya adalah penyerahan diri total kepada Allah.
Dengan demikian, ayat 94-95 berfungsi sebagai penutup yang paripurna. Mereka mengingatkan bahwa terlepas dari tantangan dakwah, intimidasi kaum kafir, atau godaan dunia, fokus utama seorang mukmin harus selalu tertuju pada dua hal: menjaga kualitas hubungan vertikal dengan Sang Pencipta melalui ibadah (tasbih, tahmid, sujud, sembah), dan menjaga kualitas hubungan tersebut tanpa henti hingga akhir hayat. Konsistensi inilah yang akan menentukan keberhasilan sejati di sisi Allah SWT.