Surat Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak pelajaran penting mengenai tauhid, hikmah penciptaan, dan perintah untuk bersabar dalam beribadah. Salah satu ayat penutup yang sangat sarat makna adalah ayat ke-99, yang menjadi penutup pembahasan dan penegasan akhir dari Allah SWT kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad ﷺ, serta seluruh umatnya.
Teks Arab, Latin, dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 99
Ayat ini merupakan perintah langsung yang mengandung kunci ketenangan dan keberhasilan spiritual:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ
Latin: Fasbir 'ala ma yaquluna wa sabbih bihamdi rabbika qabla tulu'is syamsi wa qabla ghurubiha wa min ana'il laili fa sabbihhu wa atrafan nahar la'allaka tardha.
Artinya: "Maka bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam hari dan pada siang hari, agar kamu merasa puas (bahagia)."
Kandungan Utama Ayat: Tiga Pilar Kehidupan Spiritual
Ayat 99 Al-Hijr ini secara ringkas memuat tiga pilar utama yang harus dipegang teguh oleh seorang Muslim, terutama ketika menghadapi tantangan atau cacian dari orang lain:
- Perintah Kesabaran (Fasbir 'ala ma yaquluna): Pada konteks turunnya ayat, Rasulullah ﷺ seringkali menghadapi ejekan, tuduhan sihir, atau penolakan keras dari kaum Quraisy. Allah memerintahkan beliau untuk bersabar. Kesabaran di sini bukan berarti pasif, melainkan sikap teguh dan tabah dalam memegang kebenaran meskipun dihina. Bagi umatnya, ini adalah pengingat bahwa ujian berupa lisan yang menyakitkan adalah bagian dari proses keimanan.
- Perintah Bertasbih di Waktu Khusus (Qabla tulu'is syamsi wa qabla ghurubiha): Tasbih (menyucikan Allah) dan tahmid (memuji Allah) diperintahkan dilakukan pada waktu-waktu kritis dalam siklus harian, yaitu sebelum matahari terbit (Fajr/Subuh) dan sebelum matahari terbenam (Ashar/Maghrib). Waktu-waktu ini adalah waktu peralihan energi dan perubahan suasana, menjadikannya momen yang sangat efektif untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
- Perintah Bertasbih Sepanjang Hari (Wa min ana'il laili wa atrafan nahar): Selain waktu-waktu utama di atas, perintah tasbih dilanjutkan mencakup bagian dari malam hari (seperti setelah Isya atau tengah malam) dan penjuru/sepanjang siang hari. Ini menunjukkan bahwa ibadah dan mengingat Allah tidak terbatas pada ritual formal, tetapi harus menjadi napas kehidupan seorang mukmin.
Tujuan Akhir: Meraih Keridhaan (La'allaka Tardha)
Penutup ayat ini sangatlah indah: "agar kamu merasa puas (bahagia)." Kata tardha (ridha) di sini memiliki cakupan makna yang luas. Ini bisa berarti:
- Mendapatkan keridhaan Allah SWT terhadap amal perbuatannya.
- Mendapatkan ketenangan jiwa dan kepuasan batin (sakinah) dalam menghadapi kesulitan duniawi.
- Mendapatkan balasan terbaik di akhirat.
Intinya, Allah menjanjikan bahwa dengan memadukan kesabaran terhadap gangguan manusia dan konsistensi dalam ibadah zikir (terutama salat dan tasbih pada waktu-waktu tersebut), seorang hamba akan mencapai tingkat kepuasan yang hakiki, yang tidak bisa digoyahkan oleh opini atau ujian duniawi.
Implementasi Praktis dalam Kehidupan Modern
Dalam kehidupan kontemporer yang penuh tekanan, kesibukan, dan arus informasi negatif, Surat Al-Hijr ayat 99 menjadi suar penuntun. Tantangan hari ini mungkin bukan lagi cemoohan langsung seperti yang dihadapi Nabi, melainkan stres pekerjaan, perbandingan sosial di media, atau kegagalan mencapai target.
Ayat ini mengajarkan strategi manajemen stres spiritual yang efektif:
- Definisikan Ulang Kritik: Anggaplah setiap kritik yang tidak membangun hanyalah "apa yang mereka katakan," dan fokus utama harus tetap pada perintah Ilahi.
- Jadwal Ibadah sebagai Jangkar: Jadikan salat wajib (yang secara otomatis mencakup waktu sebelum terbit dan terbenam matahari) serta waktu salat sunah sebagai jangkar utama hari Anda. Ini memastikan ada jeda spiritual yang terstruktur.
- Mengubah Pemandangan Mental: Mengucapkan tasbih pada malam hari (misalnya saat tahajjud atau sebelum tidur) membantu membersihkan pikiran dari kekhawatiran hari itu dan mempersiapkan hati untuk hari esok.
Konsistensi dalam dua hal—sabar menghadapi yang eksternal dan aktif dalam ibadah yang internal—adalah resep ilahiah untuk meraih rasa puas sejati, sebuah kebahagiaan yang bersumber dari hubungan langsung dengan Sang Pencipta.
Semoga kita senantiasa termasuk golongan yang sabar dan rajin bertasbih kepada-Nya.