Ilustrasi: Kemenangan dan Perlindungan Ilahi
Surat Al-Anfal, yang berarti "Harta Rampasan Perang", merupakan salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an. Surat ini kaya akan ajaran yang berkaitan dengan jihad, pengelolaan harta rampasan, serta etika perang dalam Islam. Di antara ayat-ayatnya yang sarat makna, terdapat Surat Al-Anfal ayat 4 yang memiliki kedalaman luar biasa dalam menjelaskan sumber sejati dari kemenangan dan keberhasilan.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا
(Yaitu) orang-orang yang membenarkan ketika mereka diseru untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menaati mereka dalam berjihad di jalan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang beriman yang sesungguhnya. Dan bagi orang-orang yang mengingkari (kebenaran) itu, telah Kami sediakan siksa yang menghinakan.
Ayat ini seringkali dibaca bersamaan dengan ayat sebelumnya (Ayat 3) yang berbicara tentang orang-orang beriman yang sesungguhnya. Ayat 4 ini secara spesifik menguraikan ciri-ciri orang beriman yang hakiki, serta konsekuensi bagi mereka yang mengingkarinya. Penting untuk dicatat bahwa terjemahan di atas merupakan salah satu interpretasi yang umum di kalangan ulama. Makna yang lebih mendalam dapat ditemukan melalui studi tafsir yang komprehensif.
Ayat ini menekankan bahwa keimanan yang sejati bukanlah sekadar pengakuan lisan, melainkan diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, terutama dalam konteks berjihad di jalan Allah. Jihad di sini tidak hanya berarti perang fisik, tetapi juga perjuangan dalam menegakkan kebenaran, melawan hawa nafsu, dan menyebarkan risalah Islam dengan cara yang damai dan bijaksana.
Orang-orang yang digambarkan dalam ayat ini adalah mereka yang hatinya terbuka untuk menerima kebenaran, yang bersedia mengorbankan waktu, harta, bahkan jiwa demi meninggikan kalimat Allah. Mereka adalah individu yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai panduan utama dalam setiap aspek kehidupan mereka. Ketaatan mereka tidak bersyarat, melainkan lahir dari keyakinan yang mendalam akan kebenaran ajaran Ilahi.
Sebaliknya, ayat ini juga memberikan peringatan keras bagi mereka yang menolak kebenaran ini. Penolakan terhadap seruan iman dan ketaatan kepada Rasulullah SAW akan berujung pada siksa yang menghinakan. Ini menunjukkan betapa seriusnya Allah memandang persoalan keimanan dan ketaatan. Konsekuensi dari mengingkari kebenaran bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Memahami Surat Al-Anfal ayat 4 memberikan banyak pelajaran berharga. Pertama, ayat ini mengajarkan tentang pentingnya "iman yang benar" yang tercermin dalam tindakan nyata. Keimanan tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah; ia tidak memberikan manfaat yang berarti. Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut untuk senantiasa menguji kualitas imannya melalui ibadah, akhlak, dan kontribusinya kepada masyarakat.
Kedua, ayat ini mengingatkan kita bahwa kemenangan sejati datangnya dari Allah semata. Manusia hanya bisa berusaha, berdoa, dan berikhtiar. Hasil akhir sepenuhnya berada dalam genggaman-Nya. Ketergantungan kepada Allah (tawakkal) harus selalu menyertai setiap usaha kita, terutama dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.
Ketiga, ayat ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu berada di jalan kebenaran dan menjauhi kekufuran serta kemaksiatan. Menolak kebenaran dan terus menerus berada dalam kesesatan akan membawa kepada kehinaan. Maka, bersegeralah untuk kembali kepada Allah, memohon ampunan, dan memperbaiki diri.
Dalam konteks kehidupan modern, tafsir ayat ini dapat diperluas. Berjihad di jalan Allah bisa berarti perjuangan intelektual melawan kebohongan, perjuangan ekonomi untuk menciptakan kesejahteraan, atau perjuangan sosial untuk memberantas ketidakadilan. Intinya adalah menggunakan segala potensi yang dimiliki untuk kebaikan dan demi ridha Allah.
Dengan merenungkan Surat Al-Anfal ayat 4, semoga kita senantiasa terjaga keimanan kita, semakin teguh dalam ketaatan, dan selalu memohon pertolongan serta kemenangan dari Allah SWT dalam setiap lini kehidupan kita.