Surat Al-Insyirah, atau dikenal juga dengan nama Asy-Syarh, adalah surat ke-94 dalam susunan mushaf Al-Qur'an yang memiliki delapan ayat pendek. Meskipun seluruh ayatnya mengandung pesan penghiburan dan penguatan bagi Nabi Muhammad SAW, fokus pembahasan kali ini tertuju pada pemahaman mendalam mengenai semangat yang terkandung dalam surat tersebut, khususnya jika kita melihat konteks kesempurnaan dan pesan penutup yang sering ditekankan dalam penafsiran.
Perlu diperhatikan bahwa Surat Al-Insyirah (Ad-Dhuha dan Al-Insyirah) adalah surat Madaniyah yang diturunkan untuk memberikan ketenangan hati Rasulullah SAW ketika beliau mengalami masa-masa sulit, penundaan wahyu, dan tekanan dari kaum Quraisy. Ayat-ayatnya secara berurutan memberikan janji bahwa kesulitan akan selalu diikuti oleh kemudahan. Namun, dalam konteks pembahasan yang lebih luas mengenai makna kehidupan atau penekanan akhir dalam dakwah, terkadang ada kebingungan mengenai angka ayat, namun esensi pesan surat ini tetap berpusat pada ayat 5 dan 6.
Mengklarifikasi Ayat Surat Al-Insyirah
Surat Al-Insyirah (Asy-Syarh) hanya terdiri dari 8 ayat. Oleh karena itu, merujuk pada "surat al insyirah ayat 23" secara harfiah memerlukan pemahaman bahwa ayat tersebut tidak terdapat dalam surat ini. Kemungkinan besar, angka "23" yang disebutkan merujuk pada dua hal: bisa jadi terjadi kekeliruan dengan surat lain, atau angka tersebut merujuk pada ayat ke-23 dari surat lain yang mengandung pesan yang berhubungan dengan 'Insyirah' (kelapangan hati), atau merujuk pada konteks tafsir atau jumlah amalan yang dianjurkan.
Jika kita mengasumsikan bahwa maksudnya adalah pesan utama dari surat Al-Insyirah yang harus selalu diingat, maka kita harus kembali pada inti dari surat tersebut:
Ayat 5: Fa inna ma'al 'usri yusra
Ayat 6: Inna ma'al 'usri yusra
Dua ayat ini adalah inti dari surat tersebut. Allah SWT mengulang penekanan bahwa "Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." Pengulangan ini (ta'kid) menunjukkan betapa pentingnya keyakinan ini ditanamkan dalam hati seorang mukmin, terutama saat menghadapi tekanan kehidupan.
Kekuatan Pengulangan dalam Ayat
Pengulangan dalam ayat 5 dan 6 Al-Insyirah memiliki dampak psikologis dan spiritual yang luar biasa. Dalam bahasa Arab, pengulangan sering kali berfungsi untuk memberikan penekanan yang sangat kuat. Ketika Allah mengulang janji bahwa kemudahan (yusra) akan menyertai kesulitan ('usri), ini bukan sekadar janji logistik, melainkan janji keberkahan spiritual.
Konsep Al-'Usri (kesulitan) diidentikkan dengan satu kata, sedangkan Al-Yusra (kemudahan) disebutkan dua kali setelah setiap kesulitan yang disebutkan. Sebagian ulama menafsirkan bahwa satu kesulitan akan selalu diimbangi oleh dua kemudahan. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang nyata dalam mengatur takdir hamba-Nya. Kesulitan itu bersifat sementara dan relatif, sementara kemudahan yang dijanjikan Allah itu pasti dan seringkali berlipat ganda.
Relevansi dalam Kehidupan Modern
Meskipun konteks turunnya ayat ini adalah untuk Rasulullah SAW, pesan ini bersifat universal dan abadi. Di era modern yang penuh dengan ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial, dan masalah kesehatan, pelajaran dari Surat Al-Insyirah tetap relevan. Ketika kita merasa terjebak dalam 'kesulitan', Al-Qur'an mengingatkan kita untuk tidak putus asa, karena di balik setiap masalah, pintu solusi telah disiapkan.
Untuk mencapai "Insyirah" atau kelapangan dada yang dijanjikan, kita dituntut untuk melakukan langkah konkret yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya, yaitu:
- Bersabar (Ayat 5).
- Memperbanyak ibadah dan mengingat Allah setelah selesai dari urusan dunia (Ayat 7).
- Mempersembahkan segala harapan hanya kepada Rabb kita (Ayat 8).
Jika kita mengaitkan pesan ini dengan angka 23, meskipun bukan ayat spesifik, kita bisa melihatnya sebagai sebuah dorongan untuk terus bergerak maju dalam menjalani perintah Allah, menjaga kualitas ibadah, dan terus mencari makna dari setiap ujian. Kunci utama dalam menghadapi badai kehidupan adalah keyakinan teguh bahwa setelah masa sulit pasti akan datang masa lapang, sebagaimana janji mutlak dari Sang Pencipta.
Menjaga perspektif ini membantu kita membangun resiliensi (daya tahan). Kesulitan tidak datang untuk menghancurkan, tetapi untuk menguji sejauh mana kita akan mencari dan bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT. Dengan demikian, 'Insyirah' bukan hanya berarti kelapangan setelah kesulitan selesai, tetapi juga ketenangan yang dirasakan saat kita menjalani kesulitan itu sendiri, karena kita tahu pertolongan Allah pasti akan datang.