Mengurai Kedalaman Makna: Al-Isra Ayat 11

Ilustrasi: Keseimbangan dan Pencerahan

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj (Perjalanan Malam dan Mi'raj), adalah salah satu surat terpenting dalam Al-Qur'an yang menyimpan banyak pelajaran moral, hukum, dan spiritual. Di antara ayat-ayatnya yang kaya makna, Al-Isra ayat 11 sering kali menarik perhatian karena mengupas tentang sifat manusia dalam menghadapi kekayaan dan kerugian.

"Dan manusia memohon keburukan sebagaimana ia memohon kebaikan. Dan manusia itu (pada hakikatnya) tergesa-gesa." (QS. Al-Isra: 11)

Konteks dan Makna Dasar Ayat

Ayat ini menyoroti dua ciri khas psikologis manusia yang seringkali kontradiktif. Pertama, kecenderungan manusia untuk berdoa atau meminta sesuatu yang buruk (keburukan), meskipun di dalam hati mereka menginginkan kebaikan. Dalam konteks tafsir klasik, ini sering diartikan sebagai keserakahan manusia. Ketika mereka diberikan kemudahan dan kekayaan, mereka cenderung bersyukur. Namun, ketika mereka dihadapkan pada kesulitan atau kemiskinan, mereka bisa saja berdoa memohon celaka kepada orang lain, atau bahkan tanpa sadar mendoakan keburukan bagi diri mereka sendiri melalui tindakan gegabah.

Ayat ini menggambarkan bahwa permintaan manusia tidak selalu selaras dengan hikmah ilahi. Terkadang, dalam kepanikan atau nafsu duniawi, manusia memohon hal yang jika dikabulkan justru akan menjadi petaka baginya. Misalnya, memohon harta yang melimpah tanpa diiringi kesiapan spiritual untuk mengelolanya, atau mendoakan kehancuran pesaing tanpa menyadari bahwa itu bertentangan dengan prinsip kasih sayang.

Sifat "Tergesa-gesa" (Al-Insan Kanu 'Ajūla)

Bagian kedua ayat, "Dan manusia itu (pada hakikatnya) tergesa-gesa," memberikan alasan di balik kecenderungan tersebut. Sifat tergesa-gesa ini melekat pada fitrah manusia. Dalam menghadapi urusan duniawi, manusia ingin segera mendapatkan hasil tanpa melalui proses kesabaran yang diperlukan. Sifat tergesa-gesa ini bisa termanifestasi dalam beberapa cara:

  1. Tergesa dalam Meminta: Ingin segala sesuatu segera terjadi, tanpa mau bersabar menunggu ketetapan terbaik dari Allah.
  2. Tergesa dalam Menilai: Terlalu cepat menyimpulkan suatu peristiwa sebagai kebaikan mutlak atau keburukan mutlak, tanpa melihat potensi di baliknya.
  3. Tergesa dalam Bertindak: Melakukan sesuatu tanpa pertimbangan matang karena dorongan emosi sesaat.

Sifat tergesa-gesa ini sering kali menjadi penghalang bagi manusia untuk mencapai ketenangan batin dan kebijaksanaan. Allah mengajarkan melalui ayat ini bahwa di balik setiap permohonan—baik tampak baik maupun buruk—harus ada kesadaran akan hikmah yang lebih besar, yang hanya bisa dilihat melalui kesabaran dan pemahaman bahwa waktu Allah adalah yang paling tepat.

Relevansi Kontemporer Al-Isra Ayat 11

Di era modern yang serba cepat ini, relevansi Al-Isra ayat 11 semakin terasa. Media sosial dan budaya instan mendorong manusia untuk selalu ingin cepat. Ketika harapan tidak terpenuhi dalam waktu singkat, mudah sekali muncul rasa frustrasi, iri hati, dan bahkan doa negatif terhadap keadaan atau sesama. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat penting untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu agar tidak meminta hal yang buruk secara tidak sadar, dan menumbuhkan kesabaran sebagai penawar sifat tergesa-gesa.

Inti dari pemahaman ayat ini adalah menyerahkan segala keputusan akhir kepada Allah, karena Dia-lah yang mengetahui hasil jangka panjang dari setiap doa dan keinginan kita. Memohon kebaikan dengan penuh kesadaran dan kesabaran adalah jalan spiritual yang diajarkan oleh ayat mulia ini.

🏠 Homepage