Setiap lembaran Al-Qur'an menyimpan mutiara hikmah yang tak ternilai. Di antara ayat-ayat yang paling agung dan sarat akan keajaiban adalah Surat Al-Isra ayat 1. Ayat pembuka dari surat yang juga dikenal sebagai Bani Israil ini membuka lembaran kisah luar biasa yang dikenal sebagai Isra’ Mi’raj, sebuah mukjizat fisik dan spiritual yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW.
Ayat ini dimulai dengan kalimat agung: "Subhanalladzi" (Mahasuci Allah). Penggunaan kata "Subhan" di awal sebuah peristiwa menunjukkan bahwa peristiwa yang akan dijelaskan adalah sesuatu yang melampaui nalar manusia biasa, bahkan mustahil terjadi tanpa intervensi ilahi. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan yang melibatkan pemindahan fisik Nabi dari Mekkah ke Yerusalem (Al-Aqsa) dalam semalam—sebuah perjalanan ribuan kilometer yang memakan waktu berbulan-bulan jika ditempuh dengan cara konvensional.
Dengan mengawalinya dengan tasbih, Allah SWT menegaskan bahwa peristiwa ini adalah bukti sempurna atas kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Ini adalah penegasan bahwa bagi Allah, ruang dan waktu hanyalah ciptaan-Nya yang dapat diatur sesuka hati-Nya.
Isra' merujuk pada perjalanan malam hari Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (Yerusalem). Ayat ini secara spesifik menyebutkan dua masjid suci ini, menegaskan hubungan spiritual dan historis antara pusat Islam di Hijaz dan pusat keagamaan penting di Palestina.
Pemberhentian di Masjidil Aqsa bukan sekadar transit. Masjid Al-Aqsa, tempat suci ketiga umat Islam, adalah titik penghubung antara bumi dan langit. Di sinilah Nabi SAW kemudian melanjutkan perjalanan Mi’raj (kenaikan ke langit). Keberkahan yang disebutkan dalam frasa "yang telah Kami berkahi sekelilingnya" merujuk pada banyaknya nabi yang lahir, diutus, dan pernah tinggal di wilayah tersebut, serta kesuburan spiritual dan alamiahnya. Ini adalah pengakuan kenabian di tanah yang mulia tersebut.
Tujuan utama dari perjalanan luar biasa ini diringkas dalam frasa: "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Isra’ Mi’raj bukanlah perjalanan wisata, melainkan sebuah madrasah akbar yang disiapkan Allah untuk Nabi-Nya. Di sanalah Nabi SAW menyaksikan langsung keajaiban alam semesta dan rahasia Ilahi yang tidak dapat dijangkau oleh indra biasa.
Tanda-tanda ini bisa berupa pemandangan surgawi, kondisi orang-orang di alam barzakh (seperti yang dijelaskan dalam hadis riwayat Mi’raj), hingga peneguhan status kenabian beliau di hadapan para nabi terdahulu yang menyambutnya di tingkatan-tingkatan langit. Tujuan ini memberikan landasan spiritual yang kokoh bagi Nabi untuk menghadapi tantangan dakwah yang semakin berat sepulangnya beliau ke Mekkah.
Ayat ditutup dengan penegasan sifat-sifat Allah yang absolut: "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (Innahu Huwas-Sami'ul-Bashir). Penegasan ini memberikan rasa aman dan kepastian. Allah tidak hanya melakukan perjalanan ini secara rahasia, tetapi Dia Mendengar doa-doa Nabi, keluhan umat, dan menyaksikan setiap detail dari perjalanan agung tersebut. Dia pula Melihat setiap reaksi, setiap keheranan, dan setiap keimanan yang tertanam di hati Nabi SAW selama proses tersebut.
Surat Al-Isra ayat 1 berfungsi sebagai fondasi mukjizat yang tak terbantahkan, menunjukkan kedudukan istimewa hamba yang dipilih-Nya, serta menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini berada dalam pengawasan sempurna Zat Yang Mahasuci. Memahami ayat ini berarti menguatkan iman kita pada keajaiban dan kekuasaan mutlak Allah SWT.