Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang membahas banyak aspek kehidupan manusia, termasuk hubungan dengan alam semesta, moralitas, dan prinsip-prinsip sosial. Di antara ayat-ayat yang kaya makna tersebut, terdapat Surat Al-Isra ayat 12, yang secara spesifik membahas tentang bagaimana manusia seharusnya berinteraksi dengan waktu dan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.
وَنَجْعَلُ النَّهَارَ لِمَا يُبْصِرُونَ
"Dan Kami jadikan siang itu terang agar kamu dapat mencari karunia dari Tuhanmu..."
وَلِنَعْلَمَ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا
"...dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan serinci-rincinya."
Ayat ke-12 Surat Al-Isra (17:12) ini memberikan landasan teologis yang kuat mengenai fungsi siang hari. Allah SWT secara eksplisit menyatakan bahwa siang hari diciptakan sebagai waktu 'agar kamu dapat mencari karunia dari Tuhanmu' (liyabtaghu min fadlih). Ini bukan sekadar izin untuk bekerja, tetapi sebuah mandat ilahi. Dalam konteks ini, 'karunia' atau rezeki tidak hanya berarti kekayaan materi, tetapi juga mencakup segala bentuk kebaikan duniawi yang diperoleh melalui usaha, ilmu, dan amal.
Kehidupan manusia sangat bergantung pada ritme alam, yang diatur oleh pergantian siang dan malam. Siang hari identik dengan cahaya (mubṣirūn), yang memungkinkan manusia melihat, berinteraksi, dan bergerak bebas untuk mencari nafkah. Ketika kita memahami bahwa bekerja dan berusaha mencari rezeki adalah bagian dari ibadah, maka waktu siang menjadi momen investasi spiritual dan duniawi kita. Mengabaikan waktu siang untuk bekerja produktif berarti menyia-nyiakan salah satu anugerah terbesar dari Pencipta.
Bagian kedua dari ayat tersebut membawa kita pada aspek keteraturan kosmik: "...dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan." Ayat ini menegaskan bahwa pergantian siang dan malam, yang membentuk siklus hari, bulan, dan tahun, adalah mekanisme yang ditetapkan Allah untuk memudahkan manusia dalam mengatur kehidupan mereka.
Kemampuan untuk menghitung waktu—mengetahui kapan musim panen tiba, kapan harus berpuasa, kapan harus menunaikan ibadah haji, atau sekadar mengatur janji bisnis—adalah sebuah kemudahan yang fundamental. Tanpa keteraturan ini, peradaban akan sulit berkembang. Ayat ini mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan tentang matematika, astronomi, dan periodisasi waktu, semuanya berakar pada sunnatullah (hukum alam yang ditetapkan Allah).
Kalimat penutup ayat, "Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan serinci-rincinya (tafṣīlan)," menutup makna ayat dengan penekanan akan kesempurnaan penciptaan dan penjelasan-Nya. Tidak ada aspek kehidupan yang ditinggalkan tanpa panduan. Baik itu tentang bagaimana menggunakan waktu siang untuk mencari rezeki, maupun bagaimana menggunakan perhitungan waktu untuk mencapai ketertiban sosial dan ibadah, semuanya telah dijelaskan secara gamblang oleh Allah SWT.
Sebagai muslim, memahami Surat Al-Isra ayat 12 berarti menyikapi waktu dengan serius. Waktu siang adalah waktu gerak dan usaha mencari karunia, sedangkan waktu malam (yang dibahas pada ayat sebelumnya) adalah waktu untuk refleksi, ibadah malam, dan beristirahat agar tubuh siap menghadapi hari berikutnya. Keseimbangan antara usaha (ma'isyah) dan kontemplasi (ibadah) adalah inti dari ajaran yang termaktub dalam ayat ini. Kita diajak untuk menjadi hamba yang produktif, sadar akan keteraturan alam, dan selalu bersyukur atas setiap detik yang dianugerahkan.