Memahami Surat Al-Ma'idah Ayat 100

Baik Buruk Keseimbangan Ilahi

Ilustrasi Keseimbangan antara yang Baik dan Buruk

Teks dan Terjemahan Surat Al-Ma'idah Ayat 100

قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَكْثَرَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Terjemahan: Katakanlah, "Tidak sama yang buruk itu dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al-Ma'idah: 100)

Kajian Mendalam Surat Al-Ma'idah Ayat 100

Ayat seratus dari Surat Al-Ma'idah ini merupakan penegasan prinsip fundamental dalam ajaran Islam mengenai pembedaan antara yang hak dan yang batil, yang baik dan yang buruk. Inti dari ayat ini adalah penetapan bahwa meskipun sesuatu yang buruk (khabits) mungkin tampak menarik, dominan, atau banyak jumlahnya, ia tidak akan pernah setara dengan sesuatu yang baik (thayyib).

Ungkapan "la yastawī al-khabīthu wa aṭ-ṭayyibu" (tidak sama yang buruk itu dengan yang baik) adalah sebuah kaidah universal. Dalam konteks turunnya ayat, ini seringkali dikaitkan dengan perdebatan mengenai makanan halal dan haram, atau terkait dengan perilaku orang-orang musyrik yang mencampuradukkan antara tauhid dengan kesyirikan. Namun, cakupan maknanya jauh lebih luas. Ia mencakup segala aspek kehidupan: akhlak, harta, ucapan, perbuatan, bahkan dalam memilih teman dan lingkungan hidup.

Bagian selanjutnya, "wa law athsara katsratu al-khabīth" (meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu), memberikan peringatan keras. Banyaknya suatu hal atau popularitasnya tidak menjadikannya benar atau baik. Sesuatu yang salah bisa menjadi mayoritas atau terlihat menggiurkan secara materi, namun secara hakikat ia tetaplah buruk di sisi Allah SWT. Godaan dunia seringkali berbentuk kemewahan atau banyaknya pengikut, yang bisa menyesatkan orang yang berakal dangkal.

Ayat ini kemudian mengarahkan solusinya kepada orang-orang yang memiliki akal sehat: "Fattaqū Allāha yā ulī al-albāb" (Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal). Kata "ulī al-albāb" merujuk pada mereka yang memiliki akal murni, yang mampu membedakan antara kebenaran dan kesesatan berdasarkan petunjuk wahyu, bukan berdasarkan hawa nafsu atau tren semata. Ketakwaan adalah tameng yang melindungi seseorang agar tidak tertipu oleh banyaknya hal yang buruk.

Puncak dari kepatuhan terhadap prinsip ini adalah harapan untuk meraih kemenangan sejati: "laʿallakum tufliḥūn" (agar kamu mendapat keberuntungan). Keberuntungan (falah) dalam Islam bukan hanya diukur dari kesuksesan duniawi, melainkan keberhasilan total dalam menggapai ridha Allah SWT dan selamat dari azab-Nya. Ayat ini mengajarkan bahwa fondasi keberuntungan adalah memilih jalan yang baik, meskipun jalan itu terlihat sepi atau sulit, dan meninggalkan jalan yang buruk, meskipun jalan itu tampak ramai dan menguntungkan sesaat.

Penerapan ayat surat al maidah ayat 100 menuntut umat Islam untuk selalu melakukan filterisasi terhadap setiap informasi, sumber daya, dan pilihan hidup. Dalam era informasi saat ini, di mana keburukan sering kali disajikan dengan kemasan yang sangat menarik, pengingat ini menjadi semakin relevan. Seorang mukmin harus senantiasa mengasah akalnya (albāb) untuk melihat substansi, bukan hanya penampilan luar. Memilih kebenaran yang sedikit dan murni jauh lebih berharga daripada mengikuti kesalahan yang masif dan glamor.

Pada intinya, Al-Ma'idah ayat 100 adalah panggilan untuk integritas moral dan spiritual. Ia menegaskan bahwa standar penilaian dalam Islam bersifat absolut (wahyu), bukan relatif (mayoritas atau tren). Dengan memegang teguh prinsip bahwa keburukan tidak akan pernah menyamai kebaikan, seorang hamba akan selalu berada di jalur ketakwaan, yang merupakan kunci menuju kebahagiaan abadi.

🏠 Homepage