Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur'an, menempati urutan ke-17. Surat ini kaya akan pelajaran moral, hukum, kisah kenabian, dan peringatan ilahi. Dinamakan demikian karena merujuk pada peristiwa penting dalam sejarah umat manusia, yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra Mi'raj), serta menyinggung sejarah bangsa Israel (Bani Israil) yang sering disebut dalam konteks pelajaran tentang kekuasaan dan pembangkangan.
Simbol Perjalanan Malam (Isra)
Salah satu inti ajaran dalam Surat Al-Isra terletak pada ayat-ayat yang memuat perintah-perintah fundamental. Ayat 23 hingga 24 sering dikutip sebagai pilar etika sosial Islam. Di sini, Allah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak mengucapkan kata "ah" atau membentak mereka, melainkan berbicara dengan hormat dan penuh kasih sayang. Perintah ini menegaskan pentingnya bakti kepada orang tua dalam hierarki nilai-nilai Islam.
Selain itu, surat ini menekankan pentingnya keadilan, larangan berbuat syirik (menyekutukan Allah), serta perintah untuk menunaikan hak-hak kerabat, orang miskin, dan musafir. Konsep ini menunjukkan bahwa spiritualitas sejati harus tercermin dalam interaksi sosial yang adil dan penuh empati. Surat Al-Isra mengajarkan bahwa ibadah ritual tidak akan sempurna tanpa diimbangi dengan akhlak mulia terhadap sesama makhluk.
Bagian signifikan dari surat ini menceritakan dua kali kehancuran Bani Israil akibat pembangkangan mereka terhadap janji dan perintah Allah. Kisah pertama (Ayat 4-8) membahas ketika mereka berbuat kerusakan pertama kali di bumi. Ketika diberi kesempatan kedua dan peringatan tegas, mereka kembali melakukan kejahatan yang lebih besar, yang berujung pada pengiriman hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan besar untuk menghukum mereka.
Pelajaran yang ditarik dari kisah Bani Israil adalah bahwa kemakmuran dan kekuasaan duniawi bukanlah jaminan perlindungan ilahi jika disertai dengan kesombongan dan pengkhianatan terhadap ajaran agama. Allah menekankan bahwa meskipun mereka diberi kemewahan, jika mereka tidak mensyukurinya dan justru menyebar kerusakan (fasad), pertanggungjawaban pasti akan datang. Hal ini menjadi cermin bagi setiap generasi Muslim untuk selalu introspeksi diri agar tidak jatuh ke dalam pola kesalahan sejarah yang sama.
Al-Isra juga menyentuh keterbatasan ilmu pengetahuan manusia dibandingkan dengan keluasan ilmu Allah. Ayat 85, misalnya, membahas tentang ruh (ar-ruh). Ketika orang-orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang hakikat ruh, Allah menurunkan jawaban bahwa urusan ruh berada di luar jangkauan pemahaman manusia, kecuali sedikit ilmu yang Dia anugerahkan. Ini adalah pengingat bahwa ada wilayah misteri Ilahi yang harus diterima dengan iman, bukan dipaksakan oleh logika empiris semata.
Selain itu, surat ini berbicara mengenai pentingnya kesederhanaan dalam membelanjakan harta (Ayat 29-30), melarang membunuh anak karena kemiskinan (sebuah praktik yang ada pada masa Jahiliyah), dan larangan mendekati zina. Semua larangan ini bertujuan untuk menjaga kesucian individu, keluarga, dan tatanan masyarakat agar terhindar dari kehancuran moral yang telah dialami oleh umat-umat terdahulu.
Secara keseluruhan, Surat Al-Isra (17) berfungsi sebagai peta jalan komprehensif yang menggabungkan hukum, etika, sejarah, dan akidah. Ia mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana kekuasaan Allah terwujud dalam perjalanan waktu, baik melalui mukjizat kenabian maupun dalam siklus naik turunnya peradaban. Pesan utamanya adalah konsistensi dalam tauhid, penegakan akhlak mulia, dan kesadaran penuh bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, akan dicatat dan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Sang Pencipta. Mempelajari surat ini adalah upaya untuk membersihkan hati dan memperbaiki perilaku agar senantiasa berada di jalan yang diridai Allah SWT.