Advanced Cardiovascular Life Support (ACLS) adalah standar emas dalam penanganan kegawatdaruratan kardiovaskular, khususnya henti jantung dan sindrom koroner akut. Pedoman yang diterbitkan oleh American Heart Association (AHA) menjadi acuan utama bagi tenaga medis di seluruh dunia. Memahami perubahan dan penekanan dalam pedoman terbaru, termasuk yang relevan dengan konteks pasca rilis besar, sangat krusial untuk meningkatkan angka keberhasilan resusitasi.
Visualisasi Ritm Jantung dalam Konteks Resusitasi
Salah satu fokus utama dalam pembaruan pedoman ACLS, yang sering kali direfleksikan dalam pelatihan pasca siklus pedoman resmi, adalah penekanan pada kualitas kompresi dada (CPR) dan manajemen jalan napas yang terintegrasi. Algoritma Henti Jantung Dewasa (Adult Cardiac Arrest) selalu dimulai dengan asumsi kualitas CPR yang tinggi.
Prinsip mendasar yang ditekankan adalah kedalaman kompresi minimal 5 cm (tetapi tidak lebih dari 6 cm) dengan laju antara 100 hingga 120 kali per menit, serta memastikan dekompresi dinding dada secara penuh setelah setiap kompresi. Ini adalah elemen yang paling berdampak pada tingkat kelangsungan hidup pasien.
Manajemen Ventilasi: Selama CPR berkualitas, ventilasi harus dipertahankan pada 10 napas per menit, terlepas dari apakah bantuan napas dilakukan dengan ventilasi kantung-katup (BVM) atau intubasi. Hal ini menghindari hiperventilasi yang dapat menurunkan perfusi koroner.
Dalam tatalaksana asistol dan PEA (Pulseless Electrical Activity), prioritas tetap pada CPR dan identifikasi serta koreksi penyebab yang mendasarinya (The H's and T's). Namun, untuk ritme kejut (shockable rhythms), yaitu Fibrilasi Ventrikel (VF) dan Takikardia Ventrikel tanpa Nadi (Pulseless VT), defibrilasi adalah intervensi yang menyelamatkan nyawa.
Pedoman ACLS menekankan urutan tindakan yang cepat:
Penggunaan obat-obatan harus selalu diintegrasikan dengan siklus CPR, bukan sebagai pengganti kompresi. Epinefrin tetap menjadi obat lini pertama dalam banyak skenario henti jantung. Sementara itu, Amiodaron atau Lidokain dipertimbangkan untuk VF/pVT refrakter setelah kejut pertama atau kedua.
Ketika pasien menunjukkan takikardia kompleks (misalnya SVT, VT stabil) namun masih memiliki nadi yang teraba, penilaian hemodinamik sangat penting. Jika pasien menunjukkan ketidakstabilan (hipotensi, syok, iskemia akut, atau gagal jantung akut), intervensi berupa kardioversi listrik (synchronized cardioversion) harus segera dilakukan. Jika pasien stabil, penilaian etiologi dan terapi farmakologis (seperti Adenosin untuk SVT) dapat dipertimbangkan terlebih dahulu.
ACLS tidak hanya tentang henti jantung. Penanganan cepat terhadap Sindrom Koroner Akut (SCA), terutama STEMI (ST-segment Elevation Myocardial Infarction), memerlukan koordinasi yang cepat. Tujuannya adalah mengurangi waktu dari kontak pertama medis hingga reperfusi (PCI atau trombolisis).
Protokol yang relevan mencakup:
Pemahaman mendalam mengenai algoritma ACLS, yang sering diperbarui oleh AHA, menjamin bahwa tim respons dapat bertindak secara efektif dan terstandarisasi di bawah tekanan situasi yang kritis. Pelatihan rutin dan simulasi adalah kunci untuk menginternalisasi urutan tindakan ini, memastikan setiap detik dihitung untuk keselamatan pasien.