Memahami Surah Al-Isra Ayat 109

Teks dan Terjemahan

Ilustrasi Cahaya dan Sujud Sebuah representasi visual abstrak tentang cahaya yang turun dari langit menuju bumi dalam bentuk sujud. Sujud
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
"Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis, dan (hal itu) menambah mereka khusyuk (rendah diri)."

Konteks dan Penjelasan Ayat

Surah Al-Isra ayat 109 adalah penutup dari serangkaian ayat yang berbicara tentang keagungan Al-Qur'an dan bagaimana wahyu Ilahi ini diterima oleh mereka yang memiliki hati yang lapang. Ayat ini secara spesifik menyoroti reaksi orang-orang tertentu ketika mereka mendengar ayat-ayat Allah dibacakan.

Kata kunci dalam ayat ini adalah "menyungkurkan muka" (لِلْأَذْقَانِ - lil-adzqaan), yang sering diartikan sebagai bersujud atau meletakkan wajah ke tanah, menunjukkan puncak kerendahan hati dan ketundukan total. Ini bukan sekadar gerakan fisik, melainkan cerminan dari keadaan batin yang sangat terpengaruh oleh kebenaran firman Allah.

Reaksi kedua adalah "sambil menangis" (يَبْكُونَ - yabkuna). Tangisan di sini bukanlah tangisan kesedihan duniawi, melainkan tangisan penyesalan atas dosa-dosa masa lalu dan kegembiraan yang mendalam atas petunjuk yang diterima. Mereka menangis karena menyadari betapa agungnya firman yang mereka dengar, dan betapa jauhnya perilaku mereka selama ini dari tuntunan tersebut.

Poin penting terakhir adalah dampaknya: "dan (hal itu) menambah mereka khusyuk (وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا - wa yaziiduhum khusyu'an)". Mendengar ayat-ayat Allah secara konsisten meningkatkan tingkat ketakwaan dan kerendahan hati mereka. Khusyuk adalah keadaan hati yang hadir, fokus, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT. Ayat ini menunjukkan bahwa interaksi yang jujur dengan wahyu ilahi akan selalu menghasilkan peningkatan spiritual.

Makna Mendalam Surah Al-Isra 109

Ayat 109 ini berfungsi sebagai pembeda penting antara hati yang keras dan hati yang hidup. Ketika ayat-ayat Allah disampaikan, ada yang merespons dengan kesombongan atau ketidakpedulian, namun mereka yang disebut dalam ayat ini merespons dengan kerendahan hati yang ekstrem. Ini menegaskan bahwa Al-Qur'an memiliki kekuatan transformatif yang luar biasa bagi siapa pun yang mau membukakan hati mereka.

Konteks sebelum ayat ini (ayat 107-108) menyebutkan tentang orang-orang yang merasa bahwa kebenaran itu terlalu berat untuk ditanggung, namun kemudian mereka bersujud. Ayat 109 memperkuat gambaran puncak kepatuhan tersebut. Ini adalah teladan bagaimana seorang mukmin seharusnya bereaksi ketika kebenaran hakiki menyentuh jiwanya: menyingkirkan ego, mengakui kebesaran Tuhan, dan menangisi kelalaian diri.

Bagi umat Islam, ayat ini menjadi pengingat konstan tentang kualitas interaksi kita dengan Al-Qur'an. Apakah bacaan kita hanya sekadar formalitas, ataukah ia mampu memicu air mata penyesalan dan meningkatkan kualitas khusyu' kita dalam setiap ibadah? Semoga kita termasuk golongan yang ketika mendengar ayat-ayat-Nya, hati kita bergetar dan bertambah tunduk kepada keagungan-Nya.

🏠 Homepage