Keagungan Isra: Menjelajahi Surat Al-Isra Ayat 1 Hingga 111

Jalan Hikmah Ilustrasi perjalanan malam dan cahaya petunjuk

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran, kisah nabi, dan prinsip-prinsip moral. Mempelajari ayat 1 hingga 111 memberikan cakupan mendalam mengenai peristiwa Isra' Mi'raj, peringatan keras kepada kaum Bani Israil, serta panduan etika universal bagi umat manusia.

Awal Kisah dan Keajaiban Isra' (Ayat 1)

Pembukaan surat ini langsung menakjubkan: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Aqsha..." Ayat pertama ini merujuk pada perjalanan malam Nabi Muhammad SAW, sebuah mukjizat yang menegaskan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga merupakan peninggian derajat spiritual.

Peringatan dan Sejarah Bani Israil (Ayat 2-10)

Setelah kisah Isra', fokus beralih memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin dan peringatan keras kepada Bani Israil. Ayat-ayat ini menceritakan bagaimana mereka telah menerima Taurat dan diberikan kelebihan, namun seringkali menyalahgunakan anugerah tersebut. Allah memberikan peringatan keras melalui para nabi, bahwa kerusakan kedua kali yang mereka lakukan akan mendatangkan kebinasaan yang lebih parah. Ayat 8 secara spesifik menyebutkan bahwa jika kaum muslimin melakukan kesalahan yang sama, Allah akan mengirimkan musuh untuk menimpa mereka hingga batas waktu yang ditentukan.

Kaidah Etika dan Sosial (Ayat 15-39)

Bagian tengah surat ini berfungsi sebagai pedoman moralitas dan sosial yang komprehensif. Beberapa prinsip penting yang ditekankan meliputi:

Ayat 32, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.", menjadi salah satu pilar utama etika Islam dalam menjaga kesucian keluarga dan masyarakat.

Tentang Ilmu dan Batasan Pengetahuan Manusia (Ayat 40-59)

Surat ini juga menyentuh keterbatasan ilmu pengetahuan manusia dibandingkan dengan ilmu Allah yang Maha Luas. Allah mengingatkan bahwa meskipun manusia diberikan akal dan wahyu, masih banyak hal yang tidak mereka ketahui. Ayat 49 secara retoris menanyakan tentang kapan hari kebangkitan, menunjukkan bahwa itu hanyalah urusan Tuhan semata. Hal ini mendorong kerendahan hati intelektual dan kebergantungan penuh kepada petunjuk ilahi.

Kisah Nabi Musa dan Hikmah Pertentangan (Ayat 60-82)

Bagian ini menceritakan mengenai janji Allah untuk mengutus kaum setelah Bani Israil yang akan menjadi ujian berat bagi mereka. Kemudian, pembahasan mengenai janji Allah untuk menghancurkan negeri jika penduduknya zalim, serta memberikan kekuasaan setelah kezaliman. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat universal bahwa kekuasaan duniawi bersifat sementara dan bergantung pada ketaatan kepada prinsip keadilan Ilahi.

Puncak Wahyu dan Penutup Surat (Ayat 83-111)

Menjelang akhir, Al-Isra kembali menegaskan kebenaran Al-Qur'an sebagai penerang. Ayat 88 menyatakan bahwa jika jin dan manusia bersatu padu untuk menciptakan yang seperti Al-Qur'an, mereka tidak akan mampu, meskipun sebagian mereka menjadi penolong bagi yang lain. Ini adalah tantangan abadi mengenai keotentikan Kalamullah.

Ayat 107-109 menggarisbawahi reaksi orang-orang terdahulu (seperti para rahib) ketika mendengar ayat-ayat Allah, mereka bersujud dan menangis, mengakui kebenaran wahyu tersebut.

Penutup surat ini (Ayat 111) adalah perintah untuk memuji Allah SWT atas segala sifat kesempurnaan-Nya: "Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, dan sekali-kali tidak ada penolong bagi-Nya karena Dia Maha Rendah dan Maha Besar." Ini menegaskan tauhid yang murni sebagai kesimpulan dari seluruh ajaran yang disampaikan dalam surat tersebut. Mempelajari 111 ayat ini adalah perjalanan spiritual yang menguatkan iman dan membekali dengan etika sosial yang kokoh.

🏠 Homepage