Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat terpenting dalam Al-Qur'an yang menyoroti peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian. Ayat pertama surat ini membuka dengan firman Allah yang mengagumkan, merujuk pada peristiwa Isra—perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga sebuah peneguhan atas kedudukan beliau sebagai Rasul terakhir dan tanda kekuasaan Allah yang tak terbatas.
Memahami tiga ayat pertama dari surat ini memberikan wawasan mendalam mengenai keesaan Allah, kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW, dan peran penting Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Ayat-ayat ini sarat makna teologis dan historis yang relevan hingga kini.
Artinya: Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat pertama ini dimulai dengan kalimat tasbih, "Subhanallah," yang menekankan kesempurnaan dan kemaha-sucian Allah dari segala kekurangan. Frasa ini pantas mengawali kisah Isra karena perjalanan ini melampaui hukum alam yang berlaku di bumi. Kata "hamba-Nya" ('abdihi) merujuk langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Perjalanan dari Makkah ke Yerusalem (Masjidil Aqsa) yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu, dilakukan hanya dalam satu malam. Tujuan utama perjalanan ini dijelaskan Allah adalah untuk menunjukkan sebagian dari "tanda-tanda kebesaran-Nya" kepada Nabi. Ini menegaskan bahwa mukjizat tersebut adalah bukti nyata dari kekuasaan ilahi.
Artinya: Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
Setelah menyebutkan mukjizat Nabi Muhammad SAW, ayat kedua beralih menyinggung Nabi Musa AS. Allah mengingatkan bahwa Dia telah memberikan Taurat kepada Musa dan menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil. Namun, inti dari perintah dalam ayat ini adalah larangan keras: "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku." Penekanan pada tauhid dan penolakan terhadap segala bentuk persekutuan atau ketergantungan selain kepada Allah adalah pesan mendasar yang diulang-ulang dalam sejarah kenabian. Ayat ini menjadi fondasi bagi tema utama surat ini, yaitu pentingnya mengesakan Allah.
Artinya: (Yaitu) keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang banyak bersyukur.
Ayat ketiga ini memberikan konteks silsilah spiritual bagi Bani Israil yang disebutkan di ayat sebelumnya. Mereka adalah keturunan orang-orang yang diselamatkan oleh Nabi Nuh AS dari banjir besar. Penyebutan Bani Israil sebagai keturunan orang-orang yang diselamatkan menekankan pentingnya syukur. Allah secara khusus memuji Nabi Nuh AS sebagai "seorang hamba yang banyak bersyukur" ('abdan syakuran). Pujian ini bukan hanya untuk Nuh, tetapi juga menjadi pelajaran bagi Bani Israil dan umat Islam: Syukur adalah kunci keberkahan dan penyelamatan, sebagaimana Nuh diselamatkan karena kesyukurannya, dan sebagaimana Nabi Muhammad SAW dimuliakan dalam Isra karena kedekatannya dengan Allah.
Tiga ayat pertama Surat Al-Isra berfungsi sebagai pembukaan yang megah. Ayat 1 memuat bukti kekuasaan Allah melalui perjalanan malam Nabi Muhammad SAW. Ayat 2 menegaskan prinsip utama agama, yaitu tauhid, yang diturunkan melalui Nabi Musa. Sementara Ayat 3 menghubungkan kedua nabi tersebut melalui figur syukur, Nabi Nuh AS. Secara keseluruhan, ayat-ayat ini menetapkan nada bahwa Al-Qur'an adalah wahyu ilahi yang meneruskan pesan-pesan kebenaran universal dari para nabi terdahulu, dengan penekanan kuat pada keesaan Allah dan pentingnya rasa syukur. Ketiga ayat ini mengajarkan umat manusia untuk merenungkan kebesaran pencipta dan memegang teguh prinsip ketauhidan.