Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan pelajaran tauhid, kisah kenabian, dan etika sosial. Ayat ke-111, yang merupakan penutup dari surat yang agung ini, memiliki posisi yang sangat strategis. Ayat ini berfungsi sebagai rangkuman penting ajaran inti Islam, yaitu pengesaan Allah (tauhid) yang absolut, yang ditekankan melalui perintah untuk senantiasa memuji dan mengagungkan-Nya.
Setelah pembahasan panjang mengenai larangan syirik, perintah berbuat baik kepada orang tua, hukum-hukum syariat, dan peringatan akan hari kiamat, Allah SWT menutup Surat Al-Isra dengan sebuah perintah tegas: ucapkanlah Alhamdulillah (Segala puji hanya bagi Allah). Perintah ini bukan sekadar ucapan rutin, melainkan pengakuan mendalam atas keunikan dan kesempurnaan Allah SWT.
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan tiga bantahan utama terhadap kesyirikan yang menyimpang dari jalan tauhid. Masing-masing poin ini adalah fondasi akidah yang harus dipegang teguh oleh setiap Muslim.
Firman Allah, "Yang tidak mempunyai anak," adalah penolakan keras terhadap keyakinan musyrikin Mekkah yang menganggap malaikat sebagai anak-anak Tuhan, serta bantahan terhadap klaim Yahudi dan Nasrani yang menganggap Uzair atau Isa sebagai putra Allah. Islam mengajarkan bahwa Allah Maha Suci dari segala kekurangan fisik dan ketergantungan biologis. Keberadaan anak mengimplikasikan kebutuhan, pembatasan, dan permulaan, sementara Allah Maha Awal dan Maha Akhir, tanpa batas. Penafian ini menegaskan kesempurnaan Ilahi yang mutlak.
Poin kedua adalah, "dan tidak seorang pun bersekutu dengan-Nya dalam kekuasaan-Nya." Ini adalah penetapan tunggalnya kekuasaan Allah (Tauhid Rububiyyah). Tidak ada kekuatan lain yang menandingi atau berbagi dalam penciptaan, pengaturan alam semesta, dan penetapan hukum. Segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak-Nya. Jika ada sekutu, maka pasti akan terjadi pertentangan dan ketidakseimbangan dalam alam semesta, padahal kita menyaksikan keteraturan yang sempurna.
Pernyataan, "dan tidak (pula) memerlukan penolong dari kehinaan," menegaskan sifat Al-Ghani (Maha Kaya) dan Al-Qayyum (Maha Berdiri Sendiri). Manusia dan makhluk lainnya membutuhkan penolong karena mereka lemah, terbatas, dan rentan terhadap kehinaan (kegagalan atau keterbatasan). Allah SWT adalah zat yang Maha Kuat, tidak pernah merasa direndahkan, dan tidak membutuhkan dukungan dari siapapun untuk eksistensi dan kekuasaan-Nya. Justru, seluruh alam semesta yang membutuhkan pertolongan dan rahmat-Nya.
Setelah menetapkan landasan tauhid yang murni tersebut, ayat diakhiri dengan perintah: "Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya." Kata takbir (mengagungkan) dalam konteks ini berarti menetapkan kebesaran Allah melebihi segala deskripsi, pemikiran, dan perbandingan apapun.
Pengagungan ini harus dilakukan secara total (takbiran). Ini berarti seluruh aspek kehidupan seorang mukmin—ucapan, perbuatan, niat, dan penyerahan diri—harus mencerminkan pengakuan bahwa Allah adalah Yang Terbesar dan Maha Agung. Ketika kita telah membersihkan keyakinan kita dari segala unsur kesyirikan (anak, sekutu, atau kebutuhan akan pertolongan), maka wujud pujian yang paling pantas adalah pengagungan tanpa batas.
Ayat 111 Surat Al-Isra memberikan ketenangan spiritual yang luar biasa. Dengan memahami bahwa kita menyembah Tuhan yang sempurna, tidak membutuhkan apapun, dan memiliki kekuasaan mutlak, seorang Muslim terbebas dari rasa takut dan bergantung pada makhluk. Rasa syukur yang tulus akan muncul karena kita menyadari bahwa keberuntungan hidup ini adalah anugerah murni dari Dzat yang Maha Sempurna.
Oleh karena itu, pengulangan kalimat Allahu Akbar (Allah Maha Besar) dan ucapan Alhamdulillah menjadi penyeimbang sempurna dalam menghadapi kompleksitas hidup. Ketika menghadapi kesulitan, kita ingat bahwa Dia Maha Kuat. Ketika menerima nikmat, kita bersyukur karena Dia Maha Pemberi. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat konstan tentang keagungan pencipta di tengah kegemparan ciptaan. Ayat penutup ini bukan sekadar kesimpulan, melainkan sebuah deklarasi iman yang menjadi pondasi utama bagi perjalanan spiritual seorang hamba.