Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pengajaran moral, hukum, dan kisah-kisah inspiratif. Ayat 21 hingga 30 khususnya memberikan fondasi penting mengenai hubungan vertikal (dengan Allah) dan hubungan horizontal (dengan sesama manusia), menekankan prinsip keadilan, moderasi, dan tanggung jawab sosial. Ayat-ayat ini sering kali dirangkum sebagai pilar etika Islam dalam berinteraksi dengan dunia.
Ayat-ayat pembuka ini menegaskan bahwa Allah Maha Tahu siapa yang paling layak menerima petunjuk. Pesan utamanya adalah peringatan keras terhadap mengikuti hawa nafsu atau ajaran orang-orang yang tidak memiliki landasan ilmu yang benar, karena hal itu akan menjerumuskan dari jalan Allah. Ini adalah penguatan bagi Nabi Muhammad SAW agar tetap teguh dalam risalahnya.
Inilah inti dari ajaran sosial Islam. Setelah perintah Tauhid (mengabdi hanya kepada Allah), perintah selanjutnya adalah berbuat baik (ihsan) kepada kedua orang tua. Tuntunan ini sangat rinci, melarang ucapan sekecil apapun yang menunjukkan kejengkelan ("uf") hingga larangan membentak, dan memerintahkan ucapan yang mulia. Ini menunjukkan betapa pentingnya posisi orang tua dalam Islam.
Ayat 25-26 menggarisbawahi pentingnya keadilan distributif dan solidaritas ekonomi. Muslim diperintahkan untuk menunaikan hak-hak kerabat dekat, fakir miskin, dan musafir. Namun, perintah ini diimbangi dengan larangan berbuat israf (pemborosan), menunjukkan bahwa kedermawanan harus disertai dengan kebijaksanaan dan pertimbangan yang matang.
Ayat 27 memperingatkan bahwa orang yang boros adalah saudara setan. Kemudian, ayat 28-29 memberikan pedoman praktis: jika kita tidak mampu memberi, setidaknya ucapkanlah perkataan yang baik (jika ada yang meminta). Ayat 30 membahas tentang rezeki: Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki, sehingga kita tidak boleh menahan harta karena takut miskin, namun juga tidak boleh berlebihan.
Rangkaian ayat 21 hingga 30 Al-Isra menyajikan kurikulum moral yang komprehensif. Ini mengajarkan bahwa keimanan sejati harus tercermin dalam perilaku sosial. Pertama, teguh pada kebenaran ilahi meskipun dihadapkan pada tekanan lingkungan. Kedua, pelayanan dan penghormatan mutlak kepada orang tua, bahkan ketika mereka sudah lanjut usia. Ketiga, pengelolaan harta yang seimbang—adil kepada yang berhak, tidak boros, dan menyadari bahwa rezeki sepenuhnya ada dalam kendali Ilahi. Ayat-ayat ini secara kolektif membentuk individu yang beriman, bertanggung jawab secara sosial, dan bijaksana dalam setiap tindakannya. Memahami dan mengamalkan ayat-ayat ini adalah kunci menuju kehidupan yang berkah dan diridai Allah SWT.