Kajian Surat Al-Isra Ayat 23-27

Pengantar Ayat

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan tuntunan moral dan etika sosial. Ayat 23 hingga 27 secara spesifik membahas fondasi utama dalam hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya, terutama dalam konteks berbakti kepada orang tua dan prinsip keadilan finansial. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pilar etika Islam yang universal dan relevan sepanjang masa.

Berikut adalah teks lengkap Surat Al-Isra ayat 23, 24, 25, 26, dan 27, beserta terjemahan dan penjelasan ringkasnya.

Simbol Keseimbangan dan Tuntunan Ilahi

Ilustrasi Tuntunan dan Berbakti

Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 23-27

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
QS. Al-Isra (17): 23

Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai usia lanjut (berusia lanjut) di sisimu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau menghardik keduanya, tetapi ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
QS. Al-Isra (17): 24

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya karena kasih sayang dan ucapkanlah, "Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil."

رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ ۚ إِن تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا
QS. Al-Isra (17): 25

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada di dalam jiwa kamu. Jika kamu adalah orang-orang yang saleh, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat (kepada-Nya).

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
QS. Al-Isra (17): 26

Dan berikanlah kepada keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang sedang dalam perjalanan. Dan janganlah kamu membelanjakan hartamu secara boros.

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
QS. Al-Isra (17): 27

Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat kufur kepada Tuhannya.

Makna dan Penerapan Etika

Ayat-ayat ini memberikan landasan etika yang sangat jelas dan bertingkat. Poin pertama dan utama (Ayat 23) adalah penegasan Tauhid—bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah SWT. Segera setelah perintah ini, Allah SWT menyandingkan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Ini menunjukkan betapa tingginya posisi berbakti dalam pandangan Islam.

Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua (Ayat 23-24)

Perintah untuk berbakti kepada orang tua dipertegas dengan larangan keras untuk sekecil apapun bentuk durhaka, seperti mengucapkan "ah" (kata yang menunjukkan kejengkelan) atau menghardik. Ketika orang tua mencapai usia lanjut, kebutuhan mereka akan kasih sayang dan kesabaran semakin besar. Konsep "merendahkan sayap kerendahan hati" (jânaḥa az-zhulli) menunjukkan sikap tunduk, hormat, dan penuh belas kasihan, bukan karena orang tua adalah majikan, melainkan sebagai bentuk syukur atas jasa mereka yang telah membesarkan kita dari kecil. Doa memohonkan rahmat bagi mereka adalah puncak pengakuan atas jasa tersebut.

Kesalehan dan Pengampunan (Ayat 25)

Allah menegaskan bahwa Dia Maha Tahu isi hati manusia. Jika seseorang berusaha keras untuk berlaku baik dan saleh, meskipun mungkin ada kekurangan dalam niat yang tidak terlihat oleh manusia, Allah akan mengampuninya, terutama bagi yang senantiasa kembali (Awwabîn) kepada-Nya. Ayat ini memberikan harapan besar bagi umat yang berusaha istiqamah.

Keadilan Finansial dan Larangan Pemborosan (Ayat 26-27)

Setelah membahas hubungan vertikal (kepada Allah) dan horizontal pertama (kepada orang tua), ayat-ayat selanjutnya beralih ke tanggung jawab sosial dalam pengelolaan harta. Islam mengajarkan keseimbangan. Harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi harus disalurkan kepada yang berhak: keluarga dekat (kerabat), orang miskin (yang membutuhkan), dan ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal).

Ayat 26 dan 27 secara tegas melarang pemborosan (tabdzir). Pemborosan dianggap sama buruknya dengan sifat setan, karena keduanya merusak tatanan ekonomi dan moral. Orang yang boros menyia-nyiakan nikmat Allah dan menempatkan dirinya dalam barisan setan yang kufur terhadap nikmat Tuhannya. Hal ini menekankan bahwa pengelolaan harta harus dilakukan dengan bijak, proporsional, dan penuh rasa syukur.

Secara keseluruhan, Surat Al-Isra ayat 23 hingga 27 mengajarkan sebuah sistem etika komprehensif: Tauhid sebagai pondasi, berbakti kepada orang tua sebagai prioritas kekerabatan, dan tanggung jawab sosial dalam berbagi serta menjaga harta secara adil.

🏠 Homepage