Perintah Kerendahan Hati dan Kasih Sayang
Ilustrasi makna kerendahan hati dan pengayoman.
Surat Al-Isra ayat 24 merupakan salah satu ayat kunci dalam Al-Qur'an yang memberikan pedoman etika sosial dan perilaku seorang pemimpin atau individu Muslim terhadap sesama mukmin. Ayat ini secara eksplisit memerintahkan seorang Nabi (dan secara implisit, seluruh umat Islam) untuk menunjukkan kerendahan hati (tawadhu') kepada saudara-saudaranya yang beriman. Kata "jannāḥaka" (sayapmu) adalah kiasan yang sangat indah, menggambarkan sifat kasih sayang dan perlindungan yang ditunjukkan oleh seekor induk burung kepada anaknya.
Dalam konteks modern, perintah untuk "merendahkan sayap" ini berarti bersikap sopan, tidak angkuh, menghormati, dan memberikan rasa aman bagi sesama muslim. Ini adalah fondasi penting dalam membangun ukhuwah (persaudaraan) yang kokoh. Pemimpin yang meninggikan diri atau bersikap sombong akan menciptakan jarak dengan umatnya, sementara kerendahan hati justru menarik simpati dan ketaatan yang tulus.
Kerendahan hati bukan berarti kelemahan. Sebaliknya, tawadhu' adalah manifestasi kekuatan spiritual yang sejati. Ketika seseorang melepaskan ego dan kesombongan, ia mampu melihat kebenaran dengan lebih jernih dan menerima nasihat dari siapapun, tanpa memandang status sosial atau kekayaan. Ayat ini secara spesifik menyoroti pentingnya perlakuan ini terhadap "orang-orang mukmin," menekankan bahwa ikatan keimanan menuntut perlakuan khusus yang penuh kasih sayang dan hormat.
Perintah selanjutnya dalam ayat ini menyangkut doa memohon rahmat dan perlindungan, "wa qul rabbi-rḥam-humā kamā rabbayānī ṣaghīrā." Doa ini ditujukan untuk kedua orang tua. Penempatan perintah mendoakan orang tua tepat setelah perintah bersikap rendah hati kepada mukmin menunjukkan bahwa kasih sayang dan penghormatan adalah nilai fundamental yang harus diterapkan dalam segala lini kehidupan sosial: kepada sesama mukmin dan terutama kepada mereka yang telah membesarkan kita.
Ayat 24 Surah Al-Isra mengajarkan prinsip keseimbangan dalam hubungan sosial. Di satu sisi, kita harus membangun jembatan kebaikan dan kelembutan dengan komunitas iman kita (mukminin). Di sisi lain, kita tidak boleh melupakan kewajiban moral tertinggi, yaitu berbakti dan mendoakan orang tua. Doa ini harus menjadi pengingat abadi atas pengorbanan mereka—bagaimana mereka merawat kita ketika kita lemah dan tidak berdaya (ketika masih kecil).
Memahami makna latin dan artinya secara mendalam membantu seorang muslim meninjau kembali perilakunya sehari-hari. Apakah kita sering bersikap meremehkan terhadap mukmin lain? Apakah kita sudah mendoakan orang tua kita dengan ketulusan yang setara dengan kasih sayang yang mereka berikan? Surat Al-Isra ayat 24, dengan penekanannya pada kerendahan hati dan doa bakti, memberikan peta jalan yang jelas menuju akhlak mulia yang diridhai Allah SWT. Implementasi prinsip ini secara konsisten akan menghasilkan komunitas Muslim yang harmonis, penuh rahmat, dan kuat secara spiritual.
Inti dari perintah ini adalah menciptakan lingkungan sosial di mana setiap individu merasa dihargai dan terlindungi. Kerendahan hati adalah kunci pembuka hati, dan doa tulus adalah kunci pembuka pintu rahmat Ilahi, terutama bagi kedua orang tua yang telah menjadi wasilah keberadaan kita. Ayat ini mengikat etika horizontal (hubungan antar manusia) dengan etika vertikal (hubungan dengan Sang Pencipta) melalui penghormatan kepada sumber kehidupan kita.