Memahami Surat Al-Isra Ayat 24: Etika Kerendahan Hati

Ilustrasi Simbol Kerendahan Hati dan Kasih Sayang
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan rendahkanlah dirimu (sayapmu) bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.

Konteks dan Makna Surat Al-Isra Ayat 24

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat akan hikmah, tuntunan moral, dan kisah-kisah penting. Di antara ayat-ayat yang memberikan arahan praktis bagi kehidupan sosial dan spiritual seorang Muslim, ayat ke-24 menonjolkan pentingnya akhlak mulia, khususnya kerendahan hati (tawadhu) dalam berinteraksi dengan sesama. Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW—dan secara implisit seluruh umat Islam—untuk bersikap lembut, penuh kasih sayang, dan merendahkan diri di hadapan orang-orang beriman yang telah mengikuti ajarannya.

Perintah "Ikhfid, yakni 'rendahkanlah' (sayapmu)" menggunakan kiasan yang sangat indah. Dalam dunia fauna, burung induk melindungi anaknya dengan merentangkan dan merendahkan sayapnya. Metafora ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin, guru, atau bahkan seorang Muslim yang memiliki kelebihan ilmu atau kedudukan, harus memperlakukan saudaranya yang mukmin dengan penuh perlindungan, empati, dan tidak merasa lebih tinggi. Sikap merendahkan diri di sini bukanlah berarti merendahkan martabat diri sendiri hingga hina, melainkan menghilangkan kesombongan dan keangkuhan dari hati saat berinteraksi dengan sesama yang seiman.

Pentingnya Kerendahan Hati dalam Ukhuwah

Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dibangun di atas dasar ketulusan dan saling menghormati. Ketika seseorang merasa superior, batasan-batasan tak terlihat mulai terbentuk, yang dapat merusak keharmonisan jemaah. Ayat 24 ini berfungsi sebagai pengingat konstan bahwa segala kelebihan yang dimiliki—baik itu harta, ilmu, kekuasaan, atau ketekunan beribadah—adalah titipan dari Allah SWT. Oleh karena itu, kelebihan tersebut seharusnya digunakan untuk menaungi dan membimbing, bukan untuk meremehkan atau mendikte.

Implementasi dari ayat ini terlihat jelas dalam cara Rasulullah SAW bergaul. Beliau selalu duduk di mana saja dalam majelis, tidak menuntut tempat kehormatan, dan melayani kebutuhan para sahabatnya tanpa memandang status sosial mereka. Tindakan ini secara langsung mencontohkan perintah merendahkan sayap. Bagi umatnya, ini berarti menanggalkan ego saat berdakwah, menerima perbedaan pendapat dengan lapang dada, dan selalu mengutamakan persatuan di atas kepentingan pribadi. Dalam konteks modern, ini mencakup menghindari sikap superioritas dalam diskusi daring atau dalam urusan keagamaan sehari-hari.

Melampaui Batasan Komunitas Mukminin

Meskipun ayat ini secara spesifik menyebutkan "orang-orang mukmin yang mengikutimu," semangat dari perintah tersebut meluas. Kerendahan hati adalah sifat universal yang dianjurkan dalam Islam, seperti yang diperintahkan pada ayat sebelumnya (Al-Isra: 23) mengenai berbakti kepada orang tua. Jika kepada orang tua saja dituntut kerendahan hati tertinggi, sudah sepatutnya sikap tersebut diterapkan dalam hubungan dengan sesama Muslim.

Tawadhu yang diajarkan dalam ayat ini menciptakan lingkungan sosial yang suportif. Ketika seorang mukmin tahu bahwa saudaranya akan merendahkan diri di hadapannya, ia merasa aman dan dihargai. Rasa aman inilah yang mendorong keterbukaan dalam berbagi masalah dan menerima nasihat. Jika semua pihak bersikap angkuh, nasihat akan dianggap penghinaan, dan kritik akan dianggap sebagai serangan pribadi, yang pada akhirnya menyebabkan perpecahan. Oleh karena itu, ayat ini bukan hanya panduan etika personal, tetapi juga fondasi bagi kohesi sosial dalam komunitas Islam.

Konsekuensi Kesombongan dan Kontras dengan Ayat 24

Penting untuk memahami bahwa perintah untuk merendah ini adalah penawar terhadap penyakit hati yang paling berbahaya, yaitu kesombongan (kibru). Kesombongan adalah ciri khas Iblis saat menolak sujud kepada Adam AS. Dalam banyak ayat lain, Allah SWT menegaskan bahwa Dia tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Ayat 24 ini secara efektif membalikkan logika kesombongan. Alih-alih meninggikan diri, seorang mukmin diminta untuk secara aktif menurunkan "sayap" kebanggaannya.

Bahkan dalam konteks dakwah, kerendahan hati sangat vital. Ketika seorang pendakwah menunjukkan sikap merendah kepada jamaahnya—menganggap mereka sebagai orang-orang yang patut dihormati karena iman mereka—pesan yang disampaikan akan lebih mudah diterima. Kerendahan hati yang tulus membuang prasangka bahwa dakwah adalah proses satu arah di mana yang pandai mengajari yang bodoh. Sebaliknya, ini adalah proses saling mengingatkan dalam kebenaran, di mana setiap individu berlomba dalam kebaikan tanpa merasa superioritas moral.

Kesimpulannya, Surat Al-Isra ayat 24 adalah manifesto kerendahan hati seorang mukmin. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati seorang pengikut ajaran Allah bukan terletak pada seberapa tinggi ia bisa meninggikan dirinya, melainkan seberapa rendah ia mampu merendahkan hatinya demi persaudaraan dan kasih sayang terhadap sesama mukmin. Mengamalkan ayat ini berarti menumbuhkan atmosfer kehangatan, saling menopang, dan menjaga kemurnian ikatan persaudaraan di tengah tantangan duniawi yang sering kali mendorong pada persaingan dan arogansi.

🏠 Homepage