Ilustrasi Konsep Rahmat dan Kembalinya Kepada Allah Al-Isra: 54

Kajian Mendalam Surat Al-Isra Ayat 54

قُلِ ٱدْعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُواْ ٱلرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Katakanlah, "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Nama mana saja yang kamu seru, Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik). Dan janganlah kamu mengeraskan shalatmu dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara keduanya."

Surat Al-Isra ayat 54 merupakan salah satu ayat yang kaya akan makna teologis dan praktis dalam kehidupan seorang Muslim. Ayat ini diturunkan dalam konteks ajaran tauhid, di mana Allah SWT memberikan panduan eksplisit mengenai cara penyebutan (doa) dan ibadah ritual kepada-Nya. Ayat ini mengandung tiga pilar utama: kebebasan dalam penyebutan nama Allah, penegasan bahwa semua nama baik kembali kepada-Nya, dan petunjuk tata cara melaksanakan shalat.

Kebebasan Memanggil dengan Nama Allah atau Ar-Rahman

Bagian pertama ayat ini memberikan kelonggaran yang indah kepada umat Islam. Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman." Dalam tradisi Arab pra-Islam, beberapa orang mungkin lebih akrab atau cenderung menggunakan nama "Ar-Rahman" (Yang Maha Pengasih) yang sering dikaitkan dengan kebaikan dan kemurahan hati yang universal.

Mayoritas ulama menafsirkan bahwa ayat ini menghilangkan keraguan atau perdebatan mengenai nama mana yang lebih disukai saat berdoa. Baik memanggil dengan "Allah" (Ism Dzat) maupun "Ar-Rahman" (salah satu sifat-Nya yang paling agung), keduanya adalah valid dan diterima di sisi-Nya. Hal ini menekankan bahwa inti dari panggilan adalah pengakuan terhadap eksistensi dan keagungan Pencipta, bukan semata-mata formalitas nama.

Asmaul Husna: Jaminan Kualitas Nama

Kelanjutan ayat tersebut memberikan landasan teologis yang kuat: "Nama mana saja yang kamu seru, Dia mempunyai Asmaul Husna." Asmaul Husna merujuk pada 99 nama terbaik Allah yang mencerminkan kesempurnaan-Nya. Penegasan ini adalah jaminan bagi orang yang berdoa. Selama nama yang digunakan merujuk kepada Allah SWT, maka nama tersebut pasti memiliki makna yang mulia dan sempurna, karena semuanya termasuk dalam kategori Asmaul Husna. Ini menumbuhkan keyakinan bahwa setiap doa yang dipanjatkan akan didengar oleh Dzat yang Maha Sempurna dalam segala sifat-Nya.

Petunjuk Praktis dalam Ibadah Shalat

Bagian kedua ayat ini memberikan petunjuk etika dalam melaksanakan ibadah, khususnya shalat wajib. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu mengeraskan shalatmu dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara keduanya."

Konteks historis ayat ini sering dikaitkan dengan situasi di mana Rasulullah SAW, ketika membaca Al-Qur'an dengan suara keras di Mekkah, dikhawatirkan akan menarik perhatian kaum musyrikin yang mungkin akan menyakiti beliau atau umat Islam yang baru beriman. Sebaliknya, jika membaca terlalu pelan (hingga tidak terdengar oleh diri sendiri), hal itu mengurangi fokus dan penghayatan spiritual.

Oleh karena itu, perintah mencari "jalan tengah" (wasathan) adalah sebuah prinsip keseimbangan dalam beragama. Ini mengajarkan bahwa dalam interaksi kita dengan Tuhan, harus ada moderasi—tidak berlebihan hingga menimbulkan kesusahan atau riya', dan tidak pula terlalu lemah hingga menghilangkan kekhusyukan. Prinsip moderasi ini meluas tidak hanya pada volume suara saat shalat, tetapi juga dalam semua aspek ketaatan kita. Keseimbangan adalah kunci agar ibadah dapat dilakukan secara konsisten dan mendalam sepanjang waktu.

Implikasi Spiritual dan Kontinuitas Ajaran

Surat Al-Isra ayat 54 secara kolektif menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan harus didasarkan pada keikhlasan dalam memanggil (menggunakan nama-nama-Nya yang mulia) dan pelaksanaan ibadah yang moderat serta penuh kesadaran. Ayat ini mengingatkan kita bahwa Islam adalah agama keseimbangan (wasatiyah), yang menolak sikap ekstrem. Pemahaman terhadap ayat ini membantu seorang Muslim menata komunikasinya dengan Sang Pencipta, baik melalui permohonan (doa) maupun melalui ritual formal (shalat), dengan cara yang paling lapang dan paling mendekati kebenaran. Ayat ini terus menjadi pedoman penting dalam memahami tauhid asma wa shifat dan tatacara ibadah yang benar.

🏠 Homepage