Falsafah Keimanan dan Ketergantungan: Surat Al-Isra Ayat 55

Ayat yang menjelaskan hakikat pengakuan atas keesaan Allah dalam segala aspek kehidupan.

Ilustrasi Konsep Keesaan dan Kekuasaan Allah Allah (Al-Wahid) Langit Bumi

Teks Surat Al-Isra Ayat 55

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

Bacaan Latin (Transliterasi)

Qul id’u alladheena za’amtum min doonihi, falaa yamlikoona kashfad-durri ‘ankum wa laa tahweelaa.

Arti Surat Al-Isra Ayat 55

Katakanlah: "D deadlah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Dia. Maka, mereka tidak memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya." (QS. Al-Isra: 55)

Penjelasan dan Konteks Ayat

Surat Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, ayat ke-55 adalah penegasan fundamental mengenai tauhid (keesaan Allah) dan batasan mutlak antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Ayat ini turun sebagai respons terhadap praktik politeisme (syirik) yang tersebar luas, di mana kaum musyrikin menyembah berbagai entitas lain selain Allah—seperti berhala, jin, atau figur-figur suci—dengan keyakinan bahwa entitas tersebut memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau menolak mudharat.

Perintah dalam ayat ini sangat tegas: "Katakanlah: 'D deadlah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Dia'." Ini adalah tantangan langsung dari Allah SWT kepada para penyembah selain-Nya. Tantangan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah ujian berbasis realitas dan kemampuan (empiris).

Kekuatan yang Terbatas: Tidak Mampu Menghilangkan Bahaya

Poin krusial dari ayat ini terletak pada penegasan bahwa apapun yang disembah selain Allah tidak memiliki dua kemampuan esensial yang hanya dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Esa:

  1. Kashfad-Durr (Menghilangkan Bahaya): Makhluk ciptaan, sekecil apa pun wujudnya, tidak mampu menghilangkan kesusahan, penyakit, bencana, atau azab yang telah ditetapkan Allah atas hamba-Nya. Mereka tidak memiliki otoritas atas konsep penderitaan.
  2. Tahweel (Memindahkan atau Mengubah): Selain tidak mampu menghilangkan, mereka juga tidak memiliki kekuatan untuk memindahkan bahaya tersebut dari satu orang ke orang lain, atau mengubah takdir yang telah digariskan.

Ini menekankan bahwa segala bentuk pertolongan, perlindungan, dan pemenuhan kebutuhan hakiki harus diarahkan sepenuhnya kepada Allah. Ketika seorang hamba menghadapi kesulitan—baik sakit, kesulitan finansial, atau ketakutan—ia harus sadar bahwa sumber daya dan solusi tertinggi hanya berada di tangan Pencipta langit dan bumi. Berpaling kepada yang lain berarti menyandarkan harapan pada sesuatu yang tidak memiliki kapasitas untuk menepati janji tersebut.

Implikasi Spiritual dalam Kehidupan Modern

Relevansi Surat Al-Isra ayat 55 tidak lekang oleh waktu. Dalam konteks modern, konsep "berhala" bisa meluas, tidak hanya sebatas patung fisik. Banyak orang menggantungkan nasib dan kebahagiaan mereka pada hal-hal yang fana dan terbatas kekuasaannya, seperti: jabatan, kekayaan materi, popularitas media sosial, atau bahkan sistem politik tertentu, hingga menjadikannya "tuhan" baru yang ditaati melebihi aturan Ilahi.

Ayat ini mengingatkan kita untuk senantiasa mengembalikan setiap permohonan dan pengakuan ketaatan hanya kepada Allah. Ketergantungan sejati (tawakkal) hanya sah jika disandarkan pada Dzat yang memiliki kekuasaan absolut untuk menghilangkan segala duka dan mengubah keadaan. Ketika kita menyadari bahwa semua entitas lain tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk menolong tanpa izin-Nya, maka hati kita akan menjadi tenang, terlepas dari seberapa besar ancaman yang dihadapi di dunia, karena kita telah berlabuh pada satu-satunya sumber kekuatan yang tak terbatas. Ini adalah inti dari kebebasan spiritual yang ditawarkan oleh Islam.

🏠 Homepage