Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Surat ini kaya akan pelajaran sejarah, akidah, dan hukum. Salah satu ayat yang seringkali menjadi fokus dalam pembahasan tentang tauhid adalah ayat ke-55. Ayat ini menegaskan kemahaesaan Allah SWT dan menolak segala bentuk kesyirikan.
Ayat ini mengandung tiga poin utama yang saling terkait, semuanya mengarah pada pengakuan mutlak terhadap kebesaran dan pengetahuan Allah SWT. Pertama, penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik di langit (malaikat, jin, dsb.) maupun di bumi (manusia dan makhluk lainnya). Pengetahuan-Nya meliputi lahir dan batin, masa lalu dan masa depan.
Poin kedua adalah penegasan tentang adanya keutamaan di antara para nabi. Allah menyatakan, "Wa laqad faḍḍalnā ba'ḍan-nabiyyinna 'alā ba'ḍin." (Dan sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi atas yang lain). Ini adalah dalil tegas bahwa meskipun semua nabi mulia dan diangkat oleh Allah, terdapat tingkatan keutamaan tertentu yang dianugerahkan berdasarkan hikmah dan pilihan Ilahi. Misalnya, Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi, dan Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai khalilullah (kekasih Allah).
Poin ketiga adalah penyebutan anugerah spesifik yang diberikan kepada Nabi Daud AS, yaitu kitab Zabur (Mazmur). Pemberian kitab suci kepada nabi-nabi terdahulu merupakan bukti nyata bahwa Allah menurunkan petunjuk-Nya kepada umat manusia melalui para rasul pilihan-Nya. Kitab Zabur, yang berisi doa, pujian, dan hikmah, adalah mukjizat dan pedoman bagi kaumnya pada masa itu.
Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini diletakkan setelah ayat-ayat yang membahas keesaan Allah dan bantahan terhadap klaim kesyirikan atau menyekutukan Allah. Dengan menegaskan pengetahuan mutlak-Nya, Al-Qur'an mencegah manusia dari berprasangka bahwa ada entitas lain yang mampu menandingi atau mengetahui rahasia alam semesta selain Allah.
Mengenai keutamaan para nabi, umat Islam wajib beriman kepada semua nabi dan rasul tanpa membeda-bedakan, namun kita juga harus mengakui kedudukan khusus yang Allah berikan kepada beberapa di antara mereka. Pengakuan terhadap keutamaan ini bukanlah bentuk penyelewengan tauhid, melainkan penghormatan terhadap pilihan Allah dalam risalah-Nya.
Ayat Al-Isra 55 berfungsi sebagai pengingat konstan bahwa seluruh otoritas pengetahuan, penetapan keutamaan, dan pemberian wahyu hanya berasal dari satu Sumber Agung, yaitu Allah, Rabb semesta alam. Ayat ini meneguhkan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, yang ilmunya meliputi seluruh eksistensi. Pemahaman ini sangat penting dalam menjaga kemurnian akidah, terutama dalam menghadapi ideologi yang mencoba merendahkan atau menandingi wahyu-wahyu-Nya. Kita kembali diingatkan bahwa ilmu terluas ada pada-Nya, bukan pada ciptaan-Nya.