Surat Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran sejarah, akidah, dan tuntunan moral. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-67. Ayat ini secara spesifik membahas tentang bagaimana Allah mengatur hubungan antara manusia dan segala nikmat serta ujian yang Dia berikan, terutama ketika manusia berada dalam kesulitan.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 67
Ayat ini menjelaskan sebuah hakikat universal dalam kehidupan, yaitu bahwa ketika manusia menghadapi kesulitan atau bahaya di tengah laut (sebagai metafora untuk kesulitan hidup yang besar), mereka cenderung melupakan semua sesembahan lain dan hanya memanggil Allah semata.
{وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضُوا ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ كَفُورًا}
Konsep Ujian dan Kepalingan Manusia
Pesan utama dari surat Al Isra ayat 67 ini adalah diagnosis tajam terhadap kecenderungan alami sebagian besar umat manusia. Ketika bahaya datang—seperti badai yang mengancam di lautan (sebuah gambaran yang sangat kuat dan universal tentang rasa takut kehilangan nyawa)—naluri terdalam manusia akan muncul. Dalam momen kritis tersebut, semua ilusi, kesyirikan, atau ketergantungan pada selain Allah akan runtuh. Mereka hanya mengingat Sang Pencipta yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan.
Namun, ironisnya, segera setelah pertolongan itu datang—setelah mereka diangkat kembali ke daratan yang aman—ingatan akan kelemahan mereka sendiri dan ketergantungan total mereka kepada Allah lenyap begitu saja. Mereka kembali pada kesibukan duniawi, seringkali melupakan doa dan rasa syukur yang tulus. Inilah yang dimaksud dengan "berpaling" dan sifat dasar manusia yang "amat tidak berterima kasih" (kafūr).
Makna Metaforis Kehidupan
Para mufasir menjelaskan bahwa "lautan" dalam ayat ini bukan hanya merujuk pada perairan fisik, tetapi juga melambangkan gejolak kehidupan, krisis finansial, penyakit parah, atau konflik besar. Ketika seseorang menghadapi krisis mendalam, ia akan segera mencari Tuhan. Mereka mungkin berjanji untuk berubah, menunaikan nazar, atau memperbanyak ibadah.
Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras. Allah tidak memerlukan pengabdian yang sifatnya situasional. Keimanan yang sejati haruslah teguh, baik saat "di laut" (kesulitan) maupun saat "di darat" (kemudahan). Keseimbangan antara syukur saat nikmat dan sabar serta doa saat bencana adalah ciri utama hamba yang bertakwa.
Implikasi Akidah dalam Al-Isra 67
Ayat ini menegaskan prinsip Tauhid Rububiyyah secara praktis. Secara teoretis, banyak orang mengakui adanya Tuhan. Namun, dalam tindakan nyata di bawah tekanan ekstrem, hanya mereka yang memiliki keyakinan mendalam (Tauhid yang murni) yang akan terus berpegang teguh pada Allah tanpa beralih ke pertolongan lain. Ketika kapal (kehidupan) mulai tenggelam, siapa yang Anda panggil? Jawabannya harus selalu satu: Allah SWT.
Sifat "kufur" yang disebutkan bukanlah sekadar tidak bersyukur atas makanan, tetapi lebih luas lagi: ketidakmampuan untuk mempertahankan kesadaran akan kekuasaan dan rahmat Allah setelah ujian berlalu. Keadaan ini seringkali mendorong manusia menuju kelalaian (ghaflah). Oleh karena itu, seorang mukmin sejati harus senantiasa muhasabah diri, menjaga janji-janji yang ia buat saat dalam kesulitan, dan menjadikan rasa syukur sebagai gaya hidup, bukan sekadar reaksi sesaat. Memahami surat Al Isra ayat 67 membantu kita mengukur kedalaman iman kita sendiri.